Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Di antara lipatan sepuluh malam terakhir Ramadan, terdapat satu waktu yang diselimuti rahasia dan kemuliaan. Itulah Lailatul Qadar, sebuah momen ketika semesta seolah menahan napas dalam kekhusyukan. Langit tidak lagi terasa jauh; ia seakan turun memeluk bumi, membawa serta ribuan malaikat yang dipimpin oleh Jibril AS untuk mengamini setiap rintihan doa yang melangit.
Suasananya begitu tenang, bukan sunyi yang mencekam, melainkan kedamaian yang menghunjam ke relung jiwa. Angin berdesir lembut, membawa kesejukan yang tak biasa, seolah alam semesta pun sedang bersujud.
Di malam ini, waktu bukan lagi sekadar detik yang berlalu, melainkan jembatan emas menuju ampunan. Ibadah yang dilakukan di bawah naungan malam ini nilainya melampaui usia manusia biasa; satu sujud yang tulus setara dengan pengabdian selama delapan puluh tiga tahun tanpa henti.
Ini adalah malam bagi mereka yang lelah dengan dosa, malam bagi mereka yang rindu akan arah jalan pulang. Di tengah kegelapan, cahaya Al-Qur’an kembali berpendar, mengingatkan kita bahwa tak ada yang lebih indah selain kembali diakui sebagai hamba oleh Sang Pencipta.
Hingga fajar menyingsing, pintu rahmat terbuka lebar, memberikan kesempatan bagi setiap jiwa untuk lahir kembali, bersih dan bercahaya, seperti fajar yang membelah kegelapan malam.
23 Ramadhan 1447 H / 13 Maret 2026 M
Posting Komentar untuk "Malam Seribu Bulan: Saat Langit Memeluk Bumi"