Malam Ganjil Bertanya: “Lailatul Qodr Apa Bisa Beda? Bagaimana Cara Umat Siasati”

Oleh : Sudarto (Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan PGSD, Universitas Negeri Makassar)

Bayangkan kita sedang berdiri di balkon masjid saat malam gelap menyelimuti langit Makassar. Angin semilir Ramadhan berhembus lembut, membawa aroma takjil dari warung pinggir jalan Petta Rani dan alauddin.

 Hati bergetar, karena malam itu adalah salah satu dari "malam ganjil", kandidat kuat Lailatul Qadr, malam seribu bulan yang penuh berkah. Tapi, tiba-tiba tetangga sebelah berbisik, "Eh, masjid sebelah bilang malam ganjilnya besok, loh. Awal puasa mereka beda sama kita." Kecewa? Bingung? Itulah realitas awal Ramadhan 2026 yang baru saja kita lewati. 

Awal puasa 18 Februari untuk sebagian umat (gunakan hisab dan kalender Hijriyah), tapi 19 Februari untuk yang mengikuti intip bulan. Akibatnya, malam ganjil dua versi: 18, 20, 22,... versus 19, 21, 23,... Mana yang bener? Dan bagaimana kita menyiasatinya agar tak kehilangan pahala Lailatul Qadr?
Cerita ini bukan baru. Setiap Ramadhan, perbedaan awal puasa seperti pisau bermata dua: menyatukan dalam ibadah, tapi juga memecah konsentrasi.

 Di Indonesia, mayoritas mengikuti rukyatul hilal lokal, melihat hilal secara langsung, sesuai fatwa MUI. Tahun ini, Kemenag mengumumkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh 19 Februari setelah isbat nasional. Tapi, sebagian mengikuti hisab-matematis dan kalender Hijriyah, mulai 18 Februari. Hasilnya? Selama 29-30 hari puasa, malam ganjil “kedua maestro” beda tanggal. Dalil nakli jelas dari Al-Qur'an surat Al-Qadr ayat 1-3: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) pada malam Laitul Qadr. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadr itu? Malam Lailatul Qadr lebih baik dari seribu bulan." Hadits Nabi SAW riwayat Bukhari-Muslim menambahkan: "Carilah Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir Ramadhan, pada malam-malam ganjilnya." Jadi, malam 21, 23, 25, 27, 29 atau 19, 21, dan seterusnya jika puasa mundur sehari.

Secara akli (logika), perbedaan ini wajar. Hilal tak selalu terlihat seragam di seluruh dunia karena faktor astronomi: posisi bulan, cuaca, horizon. Di Indonesia yang luas, rukyat lokal lebih kontekstual daripada hisab global. Tapi, akli juga bilang: jangan sampai perbedaan ini jadi batu sandungan. Bayangkan, masjid A ramai di malam tanggal 20 (ganjil bagi golongan 18 Feb), sementara masjid B kelompok 19 Feb sepi karena mereka hitung tanggal 21 Feblah sebagai malam ganjilnya. Umat terpecah, padahal tujuan puasa adalah ukhuwah (persaudaraan).
Bayangkan,  di sebuah kampung X tahun lalu. Keluarga A bangun malam 21, tadarus Al-Qur'an hingga subuh.

 Keluarga B di sebelahnya, "Malam itu baginya genap, besok baru ganjil." Hasilnya? Yang satu dapat berkah potensial, yang lain tertidur. Menyentuh hati, bukan? Tapi, untungnya Islam fleksibel. Dalil nakli dari Hadits riwayat An-Nasai: "Carilah malam Lailatul Qadr di malam-malam sembilan terakhir." Tak spesifik ganjil saja, tapi prioritas 10 malam akhir. Akli mendukung: lebih aman ibadah di semua malam ganjil dan genap versi masing-masing, aman sudah.

Jadi? Pertama, ibadah maksimal di semua malam ganjil maupun genap sepanjang ramadhan. Kedua, perkuat persaudaraan agar semua semangat bersatu dalam ibadah. Ketiga, gabungkan sepuluh malam akhir secara kolektif. 

Lebih dalam, ini pelajaran akli tentang toleransi. Perbedaan rukyat seperti iklim tropis kita: hujan di Makassar, cerah di Papua. Tak usah ribut; fokus esensi. Dalil nakli dari QS. Ali Imran: 103, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." Umat Islam Indonesia, dengan sekitar 90 persen Muslim, punya sejarah persatuan via NU-Muhammadiyah. 

Ke depan, bagaimana bersatu total? Pertama, standarisasi nasional mutlak. Dorong MUI terapkan "rukyat terpadu" dengan hisab 50% dan intip hilal 50% (langkah awal). Teknologi satelit sekarang akurat 99%, kurangi perdebatan hilal dan hisab, tingkatkan kecerdasan umat. Kedua, kampanye edukasi digital. Buat konten TikTok/YouTube ala ustadz Abdul Somad: "Ganjil beda? Ibadah dobel!" Ketiga, rukyatul hilal nasional terintegrasi dengan perdalaman kalender Hijriyah di kalangan Muslim. Keempat, fokus Lailatul Qadr sebagai spirit, bukan tanggal ganjil-genap. Seperti kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, pahala ditentukan ikhlas, bukan tanggal presisi.
Bayangkan Ramadhan tahun depan: seluruh Indonesia bangun serentak di malam 27, masjid penuh, suara takbir menggema dari Sabang hingga Merauke.

 Tak ada lagi "ganjil berbeda". Ini bukan mimpi; ini mungkin jika kita ambil inisiatif dan kesadaran bersama. 
Saudara-saudara pembaca koran ini, Ramadhan belum pergi, Lailatul Qadr masih peluang. Jangan biarkan perbedaan kecil hilangkan berkah besar. Mulai dari diri, sebarkan pesan persatuan. Mari jadikan Indonesia teladan umat bersatu, di mana malam ganjil bukan memecah, tapi menyatukan hati. Ramadhan kini, nanti, dan selamanya jadi bulan persatuan umat demi selamat dunia dan akhirat semuanya.

Posting Komentar untuk "Malam Ganjil Bertanya: “Lailatul Qodr Apa Bisa Beda? Bagaimana Cara Umat Siasati”"