Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Sungai tidak pernah sekadar menjadi bentang alam yang membelah kota. Ia adalah bagian dari sistem kehidupan yang menjaga keseimbangan air, tanah, dan ekosistem di sekitarnya. Namun, dalam banyak kasus, sungai justru diperlakukan seperti saluran pembuangan yang boleh menerima apa saja.
Ketika banjir datang, air meluap, dan lingkungan sekitar rusak, kita cenderung menyalahkan hujan. Padahal, sungai yang meluap sering kali hanya sedang menagih kesalahan lama yang kita buat sendiri.
Perubahan fungsi sungai terjadi perlahan, tetapi dampaknya sangat nyata. Bantaran yang semestinya menjadi ruang aman bagi aliran air berubah menjadi permukiman, tempat usaha, atau kawasan yang dipenuhi bangunan tanpa kendali. Di banyak tempat, sempadan sungai menyempit, alur air terganggu, dan daya tampungnya menurun. Pada saat yang sama, sampah rumah tangga masih terus dibuang ke sungai, seolah-olah aliran air dapat menanggung semua beban yang tidak mampu kita urus. Dalam jangka pendek, tindakan itu mungkin terasa sepele. Namun, dalam jangka panjang, ia menjadi sumber masalah yang terus berulang.
Masalah sungai sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari cara kita membangun kota. Ketika lahan resapan berubah menjadi beton, air hujan kehilangan tempat untuk meresap ke tanah. Ia langsung mengalir ke selokan, kemudian ke sungai, dan akhirnya menumpuk di titik-titik yang tidak lagi mampu menampungnya. Akibatnya, banjir menjadi kejadian yang semakin sering. Ini menunjukkan bahwa persoalan air bukan semata-mata soal curah hujan, melainkan juga soal tata ruang yang tidak disiplin.
Kita sering lupa bahwa sungai memiliki banyak fungsi penting. Selain menampung air, sungai juga menjadi sumber kehidupan bagi ikan, tumbuhan, dan berbagai makhluk lain yang bergantung pada ekosistemnya. Sungai yang sehat membantu menjaga kualitas air tanah, menyeimbangkan lingkungan, dan mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya. Karena itu, merusak sungai berarti merusak fondasi kehidupan yang selama ini menopang kita. Kerusakan itu tidak selalu tampak seketika, tetapi dampaknya akan muncul ketika daya dukung alam sudah melemah.
Yang patut dicermati, kerusakan sungai sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang dianggap biasa. Sampah yang dibuang ke aliran air, bangunan yang berdiri terlalu dekat dengan bantaran, dan saluran drainase yang tidak dipelihara dengan baik merupakan bagian dari rangkaian kelalaian yang pada akhirnya menimbulkan persoalan besar. Sungai memang tampak tetap mengalir, tetapi kapasitasnya perlahan menurun.
Saat musim hujan tiba, kelemahan itu berubah menjadi bencana.
Di titik ini, penting untuk mengubah cara pandang kita terhadap banjir. Banjir bukan sekadar takdir alam yang datang tanpa sebab. Ia sering kali merupakan hasil dari akumulasi kesalahan manusia dalam mengelola ruang, air, dan lingkungan. Jika banjir terus dianggap sebagai peristiwa alam biasa, maka kita akan terus gagal memperbaiki sumber persoalannya. Sebaliknya, jika banjir dipahami sebagai tanda bahwa pengelolaan sungai dan tata ruang harus dibenahi, maka masih ada peluang untuk mencegah kerusakan yang lebih besar.
Pemerintah memiliki peran yang sangat menentukan dalam hal ini. Penataan ruang harus dijalankan secara konsisten, bukan hanya menjadi dokumen administratif. Kawasan sempadan sungai perlu dilindungi dengan tegas. Bangunan liar di daerah rawan perlu ditertibkan secara adil dan manusiawi. Drainase kota harus dirancang agar mampu menyalurkan air secara lebih efektif. Selain itu, pemulihan sungai tidak cukup dilakukan dengan pengerukan sesaat, tetapi harus disertai pengawasan, edukasi, dan pengendalian pemanfaatan lahan yang lebih serius.
Namun, tanggung jawab tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Masyarakat juga memegang peran penting. Sungai tidak akan membaik jika masih diperlakukan sebagai tempat membuang sampah. Perubahan perilaku menjadi kunci agar pemulihan sungai tidak berhenti pada proyek teknis, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan sosial. Kesadaran seperti ini tidak bisa dibangun dalam sehari, tetapi harus dipelihara melalui pendidikan, keteladanan, dan disiplin bersama.
Lebih jauh lagi, persoalan sungai mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari jumlah jalan, gedung, dan proyek fisik. Kota yang maju bukan kota yang paling padat oleh beton, melainkan kota yang mampu hidup selaras dengan alam. Sungai yang bersih, ruang terbuka hijau yang cukup, dan tata air yang tertata justru menjadi tanda bahwa sebuah wilayah dikelola dengan akal sehat. Pembangunan yang mengabaikan lingkungan pada akhirnya hanya menghasilkan beban baru yang harus ditanggung masyarakat.
Sungai, pada akhirnya, tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan jejak dari semua perlakuan kita terhadapnya. Ketika ia meluap, ketika air berubah keruh, dan ketika banjir datang berulang, sungai sedang menunjukkan bahwa kesalahan kecil yang dibiarkan akan berubah menjadi persoalan besar. Karena itu, merawat sungai bukan hanya soal menjaga kebersihan, tetapi juga soal menjaga masa depan.
Jika sungai terus dirusak, maka yang menagih bukan hanya air yang meluap, melainkan juga kegagalan kita dalam merawat ruang hidup sendiri. Sebaliknya, jika kita mulai memperlakukan sungai dengan hormat, maka kita sedang memperbaiki hubungan kita dengan alam sekaligus dengan masa depan. Sungai yang sehat adalah tanda bahwa masyarakatnya belajar dari kesalahan. Dan hanya masyarakat yang mau belajar, yang pada akhirnya bisa bertahan.
Posting Komentar untuk "Sungai yang Menagih Kesalahan Kita"