Oleh : Sudarto
Dosen Universitas Negeri Makassar (Jurusan PGSD FIP)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, masyarakat kita sering kali terjebak dalam permainan yang tak terlihat: pamer diri yang tak henti-hentinya (Bugis: mabille, Sunda: moleskeun, Batak: ebang)). Bayangkan sebuah arisan di pinggir kampung Makassar, di mana ibu-ibu berkumpul sambil menyantap pisang epe hangat.
Tiba-tiba, salah satu dari mereka nyeletuk dan membuka obrolan: "Anak saya kuliah di Universitas X, loh. Jurusan kedokteran, beasiswanya penuh!" Sorot matanya penuh kebanggaan, tapi di baliknya tersirat tantangan. Tak mau kalah, tetangga sebelah langsung menyambar: "Wah, hebat dong! Anak saya di Universitar Y, dosennya profesor top, langsung lolos tes CPNS tahun lalu." Suasana yang tadinya hangat mendadak berubah jadi arena adu status. Tak ada yang mau mengalah, seolah gelar universitas tempat anak kuliah jadi ukuran harga diri saat itu.
Ini bukan sekadar obrolan ringan. Ini adalah wajah dari budaya riya : sikap suka pamer yang merajalela di masyarakat kita. Riya, dalam bahasa Arab yang sering dipakai dalam konteks keagamaan kita, berarti menyembunyikan niat baik di balik motif ingin dipuji orang lain. Bukan lagi soal berbagi kebahagiaan, tapi soal membuktikan superioritas. Di era media sosial, fenomena ini makin parah. Postingan Instagram penuh foto liburan ke Bali atau ke luar negeri dengan caption "Family getaway ke Pantai Kute!", padahal hutang kartu kredit menumpuk. Atau story WhatsApp yang menampilkan mobil baru atau jabatan baru, lengkap dengan emoji hati dan doa palsu dari teman-teman yang sebenarnya iri.
Pamer Harta: Emas yang Berkilau, Hati yang Redup.
Lihatlah pesta pernikahan di salah satu ballroom hotel mewah di kawasan kota besar. Seorang ibu tampil anggun dengan gaun sutra, tangannya berderak emas : cincin, gelang, kalung rantai tebal yang menggantung di dada terbuka. Setiap gerakannya sengaja dilambatkan, seolah ingin semua tamu melihat kilauan itu. "Ini hadiah dari anak saya yang kerja di Singapura dan Hongkong," katanya sambil tertawa, meski suaranya agak dipaksakan. Di seberang meja, ibu lain tak kalah. Ia membuka kancing blusnya sedikit lebih lebar, memperlihatkan kalung leontin emas antik warisan keluarga. "Pernah lihat yang seukuran ini? Langka, loh!" Tak ada yang bicara soal resep masakan atau cerita lucu anak-anak; semuanya berputar pada harta yang dipamerkan.
Budaya ini bukan hal baru. Di masyarakat kita, tradisi seperti "sirri" atau sompek : pamer kekayaan dalam acara adat, dulu punya konteks positif: membangun solidaritas sosial. Tapi kini, ia berubah jadi ajang gila harga. Orang memamerkan harta bukan untuk berbagi rezeki, tapi untuk menjatuhkan martabat orang lain. Seorang pedagang sukses di Pasar Butung atau Pasar Tanah Abang tak segan memposting truk barang dagangannya di Facebook, lengkap dengan narasi "Alhamdulillah, rezeki lancar!" Padahal, di balik layar, ia sering merendahkan pedagang kecil yang tak punya modal sebesar itu. Akibatnya? Masyarakat jadi seperti gila harga, di mana nilai seseorang diukur dari berapa karat emas di lehernya atau merek mobil yang ada di garasi.
Adu Jabatan dan Status: Pangkat yang Jadi Senjata.
Bukan hanya harta, pamer jabatan dan status sosial juga meresap dalam-dalam. Di kantor pemerintahan atau kampus kampus, rapat sering kali menyimpang jadi sesi adu gelar. "Saya sekarang Kepala Bidang, nih," kata seorang pegawai sambil menepuk dada. Rekannya langsung balas: "Wah, saya sudah Camat boss,” lengkap dengan mobil dinas! Bahkan di grup WhatsApp alumni, obrolan tentang reuni berubah jadi lomba jabatan. "Anak saya sudah direktur di perusahaan swasta W," balas seseorang. "Anak saya dosen di Universitas Z, risetnya diterbitkan di jurnal internasional bereputasi," sahut yang lain. Seolah tak ada ruang untuk apresiasi sederhana antar satu dengan yang lain; semuanya harus dibandingkan dan ingin “dianggap”.
Fenomena ini merendahkan martabat kita sebagai bangsa yang kaya akan nilai gotong royong. Di negara kita, di mana silaturahmi adalah darah kehidupan, riya “Bugis: mabille) justru memutus ikatan itu. Orang merasa harus dihargai dengan cara memamerkan diri, keluarga, keturunan, harta, pangkat, status, dan jabatan. Hasilnya? Lingkungan penuh iri, dengki dan hasad. Seorang ibu yang anaknya kuliah di politeknik lokal merasa rendah saat mendengar tetangga pamer kuliah di Universitas ternama. Ia mulai membenci, bergunjing di belakang, bahkan menjauhkan anaknya dari pergaulan itu. Ini bukan lagi kompetisi sehat, tapi racun yang merusak harmoni sosial.
Akar Masalah: Penyakit Jiwa yang Menular.
Mengapa budaya riya (Bugis: mabille)begitu melekat? Psikolog sosial menyebutnya sebagai "social comparison theory" : kita secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai kemajuan. Tapi di era digital, perbandingan itu jadi toksik. Instagram dan TikTok jadi panggung utama: filter kecantikan menyembunyikan kerutan, foto makanan mewah menutupi mie instan sehari-hari. Di Indonesia, survei dari Kementerian Agama tahun 2024 menunjukkan enam puluh delapan persen emaja merasa tertekan karena FOMO (fear of missing out) akibat pameran online teman-temannya.
Di tingkat masyarakat, ini diperparah oleh budaya "gila harga". Kita lupa bahwa dalam Islam, agama yang dianut mayoritas kita bangsa kita, riya adalah dosa besar yang membatalkan amal shaleh. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang beramal untuk dipuji manusia (mabille), maka Allah akan membiarkannya kepada manusia." Tapi bukan hanya soal agama; secara sosiologis, riya menciptakan kesenjangan. Orang miskin makin terpuruk yang kaya makin sombong. Di kota-kota besar, kasus bullying di sekolah sering berawal dari pamer gadget atau sepatu branded, yang memicu hasad hingga kekerasan.
Bayangkan seorang bapak di Pasar P yang bangga dengan warung kecilnya.
Tapi saat tetangganya pamer toko modernnya di Pantai L, ia merasa gagal. Malam itu, ia bergumam pada istrinya, "Besok kita foto dagangan kita juga, biar orang tahu kita juga berkembang." Lingkaran setan pun dimulai: pamer (Bugis: mabbille) demi harga diri, tapi justru menimbulkan rasa dendam.
Jalan Penyembuhan: Kembali ke Kesederhanaan.
Budaya pamer (Bugis: mabille) adalah penyakit masyarakat yang perlu disembuhkan. Pertama, kita harus sadar bahwa pamer (Bugis: mabille) tak memberi kepuasan abadi. Studi dari Universitas Harvard tentang kebahagiaan menunjukkan bahwa hubungan yang autentiklah yang bikin bahagia, bukan harta atau jabatan. Kedua, edukasi keluarga. Orang tua jangan jadi teladan pamer; ajari anak bersyukur tanpa membandingkan. Di sekolah, masukkan pelajaran etika digital untuk cegah riya online.
Ketiga, komunitas harus berubah. Di arisan atau pengajian, arahkan obrolan ke cerita inspiratif, bukan adu prestasi atau adu status. Pemerintah bisa kampanye seperti "Sederhana Itu Indah", mirip gerakan anti-korupsi. Di Makassar atau Jakarta atau Surabaya dan kota lainnya, tokoh masyarakat seperti seniman atau ulama bisa jadi panutan: bagikan kisah perjuangan tanpa sorot harta dan jabatan.
Bayangkan jika ibu di arisan itu saling berbagi tips kuliah anak, bukan adu universitas. Atau di pesta, emas tetap dipakai, tapi untuk menghias senyum kebersamaan. Martabat sejati bukan dari pamer (mabille), tapi dari hati yang ikhlas. Dengan menghilangkan jiwa mabillea, kita jauh dari iri, dengki dan hasad. Masyarakat jadi lebih sehat, harmonis, dan produktif.
Akhirnya, mari renungkan: apa gunanya emas berkilau atau jabatan mentereng jika hati gelap oleh rasa sombong? Mari sembuhkan penyakit mabille, satu senyum tulus pada satu waktu itu jauh lebih berharga. Hanya dengan begitu, kita bisa bangun masyarakat yang benar-benar bermartabat.
Posting Komentar untuk "Mabille : Jebakan Riya yang Meracuni Jiwa "