Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Satu pekan telah berlalu, Ramadhan baru saja melambaikan tangan, meninggalkan jejak sujud yang masih membekas di kening dan aroma doa yang masih menggantung di udara.
Di keheningan malam-malam syawal yang mulai sepi dari suara tadarus, batin kita seringkali berbisik lirih: "Tolong, bawa aku kembali ke 'surga' itu."
"Surga" yang kita rasakan selama tiga puluh hari bukanlah tempat yang jauh di awan, melainkan kondisi hati yang begitu dekat dengan Sang Pencipta. Ia adalah kedamaian saat kita menundukkan nafsu, kehangatan saat berbagi sepiring kurma, dan ketenangan saat dahi menyentuh sajadah di sepertiga malam.
Di sana, kita merasa sangat hidup, sangat bersih, dan sangat terjaga.
Namun, ketika Ramadhan berlalu, dunia kembali menawarkan hiruk-pikuknya yang memekakkan telinga. Godaan untuk kembali pada kebiasaan lama mulai mengetuk pintu hati.
Di sinilah hikmah terbesar muncul. Permintaan "Tolong bawa aku ke surga" berubah menjadi sebuah komitmen untuk menjaga "aroma" Ramadhan tetap ada di bulan-bulan lainnya.
Kita belajar bahwa surga duniawi seorang mukmin adalah saat ia mampu istiqomah (konsisten). Menjaga lisan dari ghibah, menjaga mata dari yang sia-sia, dan menjaga hati agar tetap lembut kepada sesama. Hikmah setelah ditinggalkan Ramadhan bukan terletak pada kesedihan karena perpisahan, melainkan pada semangat untuk membangun "miniatur surga" di dalam rumah dan keseharian kita melalui akhlak yang baik.
Setiap kali kita merasa jauh dari kedamaian itu, ingatlah bahwa pintu menuju ketenangan selalu terbuka melalui sujud-sujud panjang kita. Ramadhan mungkin telah pergi, namun Tuhan pemilik Ramadan tidak pernah meninggalkan kita.
Wallahu A'lam Bis-Shawab.
8 Syawal 1447 H / 28 Maret 2026 M
Posting Komentar untuk "Tolong Bawa Aku ke Surga"