Ramadhan selalu punya cara untuk menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia datang sebagai ruang perenungan, tempat syukur menemukan bentuknya yang paling tulus.
Di sebuah senja yang hangat, menjelang azan Maghrib berkumandang, kebahagiaan itu terasa begitu nyata mengalir dalam sebuah syukuran meriah dan sarat hikmah yang dikemas dalam buka puasa bersama di Rumah Jabatan Bupati Barru, Selasa 17/3/2026.
Kebahagiaan itu tentunya tertuju kepada pasangan suami-istri, Muhammad Yulianto Badwi (Anggota DPRD Kota Makassar) dan Andi Ina Kartika Sari (Bupati Barru) atas keberhasilan kedua anaknya, yakni Salsabiella Hafsah Badwi yang baru saja menyelesaikan pendidikannya di Fak Kedokteran UNHAS Makassar dan Muhammad Alief Rahman Badwi yang saat ini mengikuti pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang.
“27 Dua Wija Mattuju.” Sebuah ungkapan dari kearifan lokal yang bukan sekadar angka dan kata. Angka 27 bukan hanya penanda waktu di bulan suci atau hari ke-27 Ramadan, tetapi menjadi simbol perjalanan, harapan, dan pencapaian. Dua wija (dua anak) yang telah “mattuju,”(sukses) mencapai tujuan yang dulu hanya berupa doa yang dipanjatkan dengan harap dan air mata.
Di tengah hidangan berbuka yang tersaji, terselip kisah panjang tentang perjuangan. Tentang malam-malam yang diisi dengan belajar tanpa lelah. Tentang kegagalan yang sempat membuat dada sesak, namun tak pernah benar-benar memadamkan harapan. Tentang langkah-langkah kecil yang, tanpa disadari, sedang menapaki jalan panjang menuju takdir terbaik.
Namun, di balik semua itu, ada sosok Andi Ina (ibu kedua anak) yang sering kali tidak berdiri di panggung perayaan seorang ibu. Ia adalah dunia yang berjalan dalam dua arah.
Di satu sisi, ia hadir dalam ruang-ruang domestik: menyiapkan makanan, merapikan rumah, memastikan setiap anggota keluarga pulang dengan rasa tenang. Tangannya mungkin terlihat biasa, tetapi dari situlah lahir keteguhan, kedisiplinan, dan kasih sayang yang menjadi fondasi anak-anaknya.
Di sisi lain, ia melangkah ke ruang publik melayani, mengabdi, memikul amanah sebagai bagian dari masyarakat. Ia menjadi wajah ketulusan dalam pelayanan, menjadi telinga bagi keluhan banyak orang, dan menjadi tangan yang bekerja untuk kebaikan yang lebih luas. Di sana, ia bukan hanya seorang ibu bagi anak-anaknya, tetapi juga ibu bagi harapan orang banyak.
Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana ia membagi dirinya.
Waktunya seolah tak pernah cukup, tenaganya sering kali terkuras, namun ia tetap berdiri. Bahkan ketika lelah menyusup hingga ke tulang, ia tetap memilih tersenyum.
Konon, waktu terbaik untuk berdoa adalah ketika seorang ibu tersenyum. Karena di balik senyum itu, ada keikhlasan yang telah melewati luka. Ada pengorbanan yang tak pernah diumumkan. Senyum itu adalah doa yang paling jujur yang lahir dari hati yang telah berkali-kali diuji, namun tetap memilih untuk percaya.
Di senja Ramadhan itu, senyumnya terasa berbeda. Lebih dalam, lebih penuh, namun juga lebih rapuh. Matanya berkaca-kaca, menyimpan jejak perjalanan panjang antara rumah dan pengabdian, antara keluarga dan tanggung jawab publik. Tidak ada kata yang ia ucapkan, tetapi semua orang tahu ini adalah saat di mana doa-doanya akhirnya menemukan jawabannya.
Di sampingnya, berdiri seorang ayah. Tegak, tenang, dan penuh wibawa. Ia adalah pengayom yang tak banyak bicara, tetapi kehadirannya selalu menjadi penopang. Dalam diam, ia menjadi teladan tentang tanggung jawab dan keteguhan. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan kadang cukup ditunjukkan dengan tetap bertahan, tetap menjaga, dan tetap ada.
Dua anak itu kini telah sampai pada tujuan mereka. Yang satu mengabdikan diri sebagai dokter, merawat kehidupan dengan ilmu dan empati. Yang satu lagi melangkah ke akademi kepolisian, membawa semangat untuk menjaga keadilan dan ketertiban.
Namun sesungguhnya, keberhasilan itu bukan hanya milik mereka. Ia adalah milik seorang ibu yang membagi hidupnya tanpa pernah membagi cintanya.
Yang di rumah menjadi pelindung, di luar menjadi pelayan masyarakat. Yang lelahnya disimpan sendiri, tetapi senyumnya diberikan untuk semua. Ia adalah milik seorang ayah yang berdiri kokoh, menjadi arah ketika jalan terasa kabur.
Saat azan Maghrib berkumandang, suasana pecah dalam haru yang tak bisa dibendung. Air mata jatuh, pelan namun pasti. Bukan hanya karena kebahagiaan, tetapi karena semua yang telah dilalui semua luka, semua doa, semua pengorbanan akhirnya bermuara pada satu titik: syukur.
“27- Dua Wija Mattuju” bukan sekadar cerita tentang dua anak yang berhasil.
Ia adalah kisah tentang cinta yang bekerja dalam diam.
Tentang doa yang tumbuh dari keikhlasan.
Dan tentang seorang ibu yang, meski terbagi dalam banyak peran, tetap utuh dalam kasihnya.
Di antara suapan pertama berbuka, ada rasa yang tak bisa dijelaskan antara haru, syukur, dan kenangan yang berkelebat satu per satu.
Dan mungkin, di situlah kita akhirnya mengerti, bahwa tidak semua perjuangan terlihat, tidak semua pengorbanan terdengar, namun semuanya… selalu sampai pada tujuan “Mattuju”.(syam m. djafar)
Posting Komentar untuk "Dibalik Senyum Ibu “27” Dua Wija Mattuju"