Di Ujung Sajadah, Di Atas Segenggam Beras

           Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Ramadhan adalah puisi panjang yang ditulis Tuhan di atas lembar-lembar takdir kita. Ia datang seperti gerimis di padang gersang, membasuh dahaga jiwa yang lelah dikejar bayang-bayang dunia.

 Di bawah naungan rembulan yang kian menyabit, kita belajar bahwa lapar adalah bahasa sunyi untuk mengeja rasa syukur, dan sujud adalah cara paling rendah hati untuk menyentuh langit.

Namun, di penghujung tarawih yang syahdu, ada sebuah janji yang harus ditunaikan sebelum fajar kemenangan menyingsing. Itulah Zakat Fitrah.

Zakat fitrah bukan sekadar perpindahan beras dari tangan ke tangan; ia adalah detak cinta yang berdenyut di nadi kemanusiaan. Ia adalah penambal bagi puasa yang mungkin retak oleh lisan yang khilaf. Ia adalah embun yang jatuh tepat di atas meja-meja kayu yang kosong, memastikan bahwa saat takbir berkumandang nanti, tidak ada satu pun perut yang melilit karena lapar, dan tidak ada satu pun mata yang basah karena duka.

Setiap butir beras yang kita luruhkan adalah doa-doa yang mewujud nyata. Di sana ada keringat yang menjadi berkah, dan ada harta yang menjadi suci. Kita memberi bukan karena kita berlebih, tapi karena kita sadar bahwa di dalam rezeki kita, ada hak jiwa-jiwa lain yang sedang menunggu mukjizat kecil dari tangan kita.

Maka, saat kita serahkan zakat kita, serahkanlah juga seluruh ego kita. Biarkan ia menjadi jembatan cahaya yang menghubungkan hati kita dengan hati mereka yang papa. Agar ketika Idul Fitri tiba, kita tidak hanya mengenakan jubah baru di raga, tapi juga Fitrah baru di dalam jiwa-jiwa yang telah kembali suci, seputih butiran beras yang kita bagi dengan kasih.
Wallahu A'lam Bis-Shawab.

28 Ramadhan 1447 H / 18 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Di Ujung Sajadah, Di Atas Segenggam Beras"