Tuhan Menyuruh Kita Lapar (1)

           Oleh: Kamaruddin Hasan

Judul ini mungkin terdengar ganjil. Di saat dunia sibuk berbicara tentang kesejahteraan, kecukupan gizi, dan pertumbuhan ekonomi, Ramadhan justru datang membawa perintah yang tak lazim: berhenti makan. Tuhan menyuruh kita lapar.
Mengapa?
Bukankah selama ini kita diajari bahwa Tuhan Maha Pemurah, Maha Pemberi rezeki? Lalu mengapa dalam satu bulan penuh justru Dia meminta kita menahan diri dari apa yang sebenarnya halal dan tersedia?
Di situlah letak pelajarannya.
Lapar dalam puasa bukan soal kekurangan makanan, tetapi soal penataan makna. Kita dipaksa menyadari sesuatu yang sering kita lupakan: bahwa manusia bukan sekadar makhluk konsumsi. Kita terlalu lama mengukur hidup dari apa yang kita miliki dan nikmati. Puasa datang untuk membalik logika itu. Nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia mengonsumsi, melainkan seberapa mampu ia mengendalikan diri.

Tuhan menyuruh kita lapar agar kita belajar batas.
Di zaman yang memuja “lebih”lebih cepat, lebih kaya, lebih terkenal puasa menghadirkan kata yang jarang kita dengar: cukup. Ia mengajari kita berhenti sebelum rakus, diam sebelum marah, menahan sebelum melukai. Lapar adalah rem darurat bagi peradaban yang ngebut tanpa arah.

Coba bayangkan, berapa banyak krisis lahir dari ketidakmampuan menahan diri? Korupsi adalah lapar yang tak pernah kenyang. Kerusakan lingkungan adalah nafsu yang tak pernah puas. Konflik sosial sering kali berakar dari ego yang ingin selalu menang. Semua itu bermula dari satu hal sederhana: keinginan yang tak terkendali.
Maka Tuhan menyuruh kita lapar agar kita tidak menjadi rakus.

Lapar juga membongkar kesombongan. Saat tenggorokan kering dan kepala terasa ringan, kita sadar betapa rapuhnya diri ini. Manusia yang tadi merasa paling kuat, ternyata bisa goyah hanya karena seteguk air yang belum tiba waktunya. Dari kesadaran akan kerapuhan itulah lahir empati. Kita tak lagi memandang kemiskinan sebagai angka statistik, tetapi sebagai rasa yang pernah kita alami meski hanya sampai azan magrib.

Puasa adalah revolusi yang tidak berisik. Ia tidak membakar ban, tidak memenuhi linimasa dengan kemarahan. Ia bekerja diam-diam, di ruang batin. Ia membentuk manusia dari dalam. Dan perubahan dari dalam selalu lebih tahan lama daripada perubahan yang dipaksakan dari luar.

Saat azan magrib berkumandang dan seteguk air terasa seperti anugerah terbesar hari itu, kita belajar satu rahasia kecil: nikmat tidak bertambah karena jumlahnya, tetapi karena kesadaran kita. Puasa mengembalikan rasa pada hal-hal yang biasa. Ia mengajari kita bersyukur, bukan sekadar menikmati.

Maka jika Ramadhan berlalu dan kita tetap sama mudah marah, gemar pamer, rakus kuasa mungkin kita hanya menahan lapar, bukan memahaminya.

Sebab sejatinya, ketika Tuhan menyuruh kita lapar, Dia sedang mengajarkan kita cara menjadi manusia. Manusia yang tahu batas. Manusia yang mampu menahan diri. Manusia yang tidak diperbudak oleh perut dan hasratnya sendiri.

Dan dari manusia seperti itulah, peradaban yang bermartabat bisa lahir.(*) 

Posting Komentar untuk "Tuhan Menyuruh Kita Lapar (1) "