Mengetuk Pintu Langit di Bulan Seribu Bulan

           Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Ketika matahari meredup dan azan Maghrib membelah cakrawala, dunia seolah menahan napas sejenak.

Ramadhan telah datang membawa aroma surga yang samar di antara sela-sela udara. Di sinilah kita, jiwa-jiwa yang letih oleh hiruk-pikuk dunia, kembali bersimpuh di atas hamparan sajadah yang mulai usang oleh rindu.

Bulan ini bukan sekedar tentang menahan lapar yang mengigit atau dahaga yang mencekik tenggorokan. Ini adalah perjalanan pulang. Setiap rakaat tarawih yang kita tegakkan adalah langkah kaki menuju gerbang-Nya. Setiap bait doa yang terucap dengan suara bergetar adalah jemari yang sedang gemetar mengetuk pintu langit.

Kita tidak lagi mengejar angka, melainkan mengejar makna. Di bawah naungan bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini, langit meluruhkan keangkuhannya. Pintu-pintu langit terbuka lebar, membiarkan rintihan hamba-hamba-Nya merayap naik, menembus awan, hingga sampai ke Arsy yang Maha Luas.

Maka, ketuklah dengan sabar. Ketuklah dengan air mata yang membasuh debu-debu dosa di sudut hati. Sebab di bulan ini, tidak ada ketukan yang sia-sia, dan tidak ada tangan yang kembali dalam keadaan hampa.

04 Ramadhan 1447 H / 22 Pebruari 2026 M

Posting Komentar untuk "Mengetuk Pintu Langit di Bulan Seribu Bulan"