Oleh: Kamaruddin Hasan
Ramadan selalu datang dengan cara yang sama, tetapi selalu terasa berbeda. Bahkan sebelum sidang isbat diumumkan, sebelum jadwal imsak beredar di grup keluarga, hati sudah lebih dulu bergetar. Seolah ada tamu agung yang belum terlihat wajahnya, tetapi jejak langkahnya sudah terdengar di ruang batin.
Mengapa Ramadan selalu menggetarkan?
Pertama, karena ia mengetuk memori paling dalam. Kita teringat masa kecil dibangunkan sahur dengan suara ibu yang lembut tapi tegas. Setengah sadar kita berjalan ke meja makan, lebih banyak menguap daripada makan. Dulu kita mengira kalau tertidur lagi setelah sahur, puasanya batal. Sekarang kita tersenyum mengenangnya. Ramadan bukan sekadar ibadah, ia adalah album kenangan kolektif yang selalu terbuka setiap tahun.
Kedua, karena Ramadan punya daya magnet sosial yang aneh dan lucu. Orang-orang yang biasanya sulit ditemukan di masjid, mendadak menjadi jamaah paling awal. Grup percakapan yang biasanya riuh dengan politik dan gosip, tiba-tiba berubah menjadi ladang jadwal kultum dan doa harian. Bahkan linimasa media sosial mendadak penuh kutipan bijak. Ramadan seperti punya tombol reset moral yang ditekan serentak.
Ada humor kecil yang hanya muncul di bulan ini. Siang hari kita menjadi sangat peka terhadap aroma. Bau gorengan dari ujung gang terasa seperti ujian kesabaran tingkat doktoral. Spanduk bakso terlihat lebih memesona dari biasanya. Kita menatap jam lebih sering daripada menatap layar kerja. Lima menit sebelum azan magrib terasa lebih panjang daripada satu jam rapat. Tetapi justru dalam penantian itulah ada getaran halus yang sulit dijelaskan.
Ketika azan akhirnya berkumandang, seteguk air putih terasa seperti anugerah luar biasa. Kurma kecil itu berubah menjadi simbol kemenangan. Momen berbuka selalu sederhana, tetapi sarat makna. Ramadan mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan pesta; kadang cukup air dan rasa syukur.
Ramadan juga menggetarkan karena ia memindahkan pusat perhatian kita dari luar ke dalam. Tidak ada yang mengawasi dapur kita. Tidak ada kamera di lemari es. Namun kita memilih untuk menahan diri. Kita berdialog dengan perut yang lapar dan tenggorokan yang kering—dan kita menang. Setiap hari adalah kemenangan kecil atas diri sendiri.
Di situlah getaran itu terasa: manusia menemukan kembali kemampuannya untuk berkata “tidak”. Tidak pada dorongan sesaat, tidak pada kemarahan yang mudah meledak, tidak pada keinginan yang berlebihan. Dalam dunia yang terus berkata “lebih cepat, lebih banyak, lebih viral”, Ramadan justru berbisik pelan: “cukup”.
Yang lebih menggetarkan lagi adalah suasana malamnya. Tarawih menghadirkan barisan yang rapat dan doa yang lebih lirih. Orang-orang yang sepanjang tahun sibuk, mendadak punya waktu untuk duduk lebih lama, menengadahkan tangan lebih khusyuk. Ada rasa pulang yang sulit dijelaskan—seperti anak yang lama merantau dan akhirnya kembali ke rumah.
Ramadan mendekatkan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama. Meja berbuka mempertemukan keluarga yang jarang duduk bersama. Senyum dan salam terasa lebih tulus. Lapar yang sama meruntuhkan jarak sosial. Kita menyadari bahwa hidup ini bukan hanya soal memenuhi kebutuhan, tetapi juga memelihara makna.
Mungkin itulah sebabnya Ramadan selalu menggetarkan. Ia bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan kesadaran. Ia datang membawa lapar, tetapi pulang meninggalkan pelajaran. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan hanya makhluk yang ingin, tetapi makhluk yang mampu menahan.
Dan ketika Ramadan berakhir, selalu ada rasa haru yang aneh. Seperti melepas tamu yang sangat kita hormati. Kita berdiri di ujung bulan dengan doa sederhana: semoga tahun depan masih diberi kesempatan bertemu lagi.
Ramadan menggetarkan karena ia menyentuh sesuatu yang paling manusiawi dalam diri kita: kerinduan untuk menjadi lebih baik. Bukan lebih kaya, bukan lebih terkenal tetapi lebih utuh.
Dan setiap tahun, tanpa pernah bosan, kita menunggunya kembali dengan jantung yang sama: berdebar, berharap, dan diam-diam berdoa agar getaran itu tidak hanya tinggal di bulan Ramadan, tetapi terus hidup dalam sebelas bulan berikutnya.(*)
Posting Komentar untuk "Mengapa Ramadan Selalu Menggetarkan (3)"