Oleh: Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makassar, FIP PGSD)
Bulan Ramadhan bukan sekadar kalender puasa. Ia adalah lem superkuat yang menyatukan umat Islam dari Sabang sampai Merauke, dari perumahan-perumahan sampai pedagang pasar, dari bos besar sampai pegawai dan buruh harian. Saat azan Maghrib bergema bersamaan, semua perut keroncongan bareng, semua mata tertuju kurma pertama, semua bibir ucap hamdalah. Bedanya kaya-miskin, Bugis- Jawa-Sunda-Batak-Tionghoa, NU-Muhammadiyah-PERSIS lenyap seketika! Ramadhan adalah bulan persatuan sejati: sama-sama sabar lapar, sama-sama peduli sesama, sama-sama harap meraih maghfirah. Di tengah dunia yang suka memecah-belah, bulan suci ini jadi oase harmoni umat. Mari kita resapi keajaibannya!
Sahur Kolektif: Bangun Bersama, Berkah Bersama
Jam tiga dini hari, gang-gang kota besar Makassar, Bandung, Jakarta, Surabaya, Medan, Balikpapan bergema suara "Assalamualaikum, sahur, Bangun Bangun Bangun!" Bukan panggilan individu, tapi seruan tetangga atau segerombolan anak remaja. Di kampung kampung, panci bubur sumsum dan es dawet berjejer di pinggir jalan. Di perumahan, grup WA "Sahur Power" bagi resep: "Kurma plus air plus doa berikan energi seharian!"
Persatuan lahir dari kesederhanaan. Yang kaya antar sahur ke tetangga miskin. Yang miskin bagi cerita: "Tadi malam tetangga gue kasih kurma segede telur!" Hadits Nabi SAW, "Makan sahurlah, karena di dalamnya ada berkah" (HR Bukhari), jadi perekat. Tak ada diskriminasi: semua lapar sama, semua butuh stamina. Hasilnya? Ukhuwwah (persaudaraan) terasa nyata, sebelum matahari terbit, hati sudah terang.
Siang Berpuasa: Sabar Bersama, Godaan Dihadapi Bareng
Siang hari, kantor macet di kota besar jadi ujian kolektif. Sopir ojek sabar tak klakson ngamuk, pedagang pasar jujur timbangan walau lapar, karyawan tak gossip walau haus. Tiba-tiba, rekan kerja bilang, "Mbak Mas, tadi saya mau marah ke klien, tapi inget puasa jadi sabar deh." Senyum!
Puasa hapuskan kesenjangan. Yang biasa makan siang mewah kini merasakan laparnya buruh. Yang biasa AC dingin paham keringat tukang bangunan. Rasulullah: "Puasa adalah perisai" (HR Ahmad): perisai ini lindungi kita dari perpecahan. Di pasar Butung Makassar , Pasar Turi Surabaya , Pasar Baru Bandung , dan Tanah Abang Jakarta, semua pedagang saling bantu tanpa membedakan suku. Melayani pembeli pun demikian. Di kantor Desa, Puskesmas, Kantor Polisi, Rumah Sakit, Kantor Pajak, Kantor Urusan Agama semua melayani dengan hati yang lembut penuh sabar dan tulus karena sama sama menjalankan puasa, sama-sama sabar.
Buka Bersama: Saat Tenggorokan Meleleh dalam Takjil Gratis
Maghrib: puncak persatuan! Bayangkan: jalanan dipenuhi gerobak takjil gratis. Mahasiswa UNM bagi ribuan kolak di Parang Tanbung dan Pettarani. Mahasiswa UNHAS di Perintis. Mahasiswa UNISMUH di Alauddin. Ibu-ibu masjid antar kurma ke pos jaga polisi. Pedagang kaki lima kasih es kelapa gratis ke ojol sesama. "Biar rekan puasa kuat!" imbuhnya.
Al-Qur'an katakan : "Barangsiapa memberi makan pada orang yang berpuasa hingga ia puas, maka baginya pahala seperti pahala puasa orang tersebut" (HR Tirmidzi). Takjil bukan transaksi, ia simbol peduli dan empati. Di kota lain, misalnya ada, "Takjil Roda", motor-motor hias bagi minuman ke pengendara macet. Yang biasa pelit jadi dermawan. Yang biasa individualis kini antusias: "Besok giliran saya yang bawa kurma deh, insya Allah!"
Tarawih Jamaah: Shaf Panjang yang Redakan Perpecahan
Malam tiba, masjid bergemuruh takbir. Shaf panjang lintas generasi: anak-anak di depan, pemuda di tengah, orang tua di belakang. Tarawih 8 hingga 20 rakaat, plus witir, tak ada yang protes panjang. Di masjid kampus, ribuan mahasiswa berbaris rapi, imam dari fakultas berbeda tiap malam. Dosen ikut dan ngawas.
Persatuan intelektual lahir: pasca-taraweh, kajian ringan. Tema "Ramadhan Atasi Perbedaan, Perkuat Persatuan", NU bahas tradisi, Muhammadiyah fokus ibadah murni. Tak ada debat sengit, cuma hamdalah bareng. Hadits: "Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat" (HR Bukhari), 27 derajat persatuan!
Zakat dan Infaq: Rezeki Dibagi, Hati Menyatu
Ramadhan puncak filantropi. Zakat fitrah wajib, infaq sukarela membanjir. Baznas catat, Ramadhan sumbang empat puluh persen zakat tahunan. Di desa, panitia zakat adil: tak pandang suku, golongan. Di kota, aplikasi "Zakat Online" satukan donatur berbagai kota.
Contoh nyata: "Ramadhan Peduli" di kota-kota , UMKM halal bagi sembako ke sepuluh ribu keluarga. Yang kaya tak sombong, yang miskin tak malu. Q.S. Al-Maun katakan: "Mereka yang menahan makananmu", Ramadhan balikkan: semua akhirnya beri makan sesama!
Idul Fitri: Puncak Persatuan, Awal Komitmen Abadi
Takbiran malam, jalanan lautan suara Allahu Akbar. Idul Fitri, silaturahmi open house: rumah terbuka lintas suku dan agama. Opor ayam dibagi ke tetangga Tionghoa. Ketupat dikirim ke teman tetangga Batak. Buras dibawak ke tetangga Jawa. Soto ayam dibagi ke tetangga Bugis. Empek Palembang dikenalkan ke tetangga Makassar. Tak ada "rumahku lebih mewah atau bajuku lebih mahal", semua sama-sama baju baru sederhana. Persatuan tak berhenti di Lebaran. Momentum lanjut: kelompok tadarus mingguan, posko zakat pasca-Ramadhan berdiri. Umat sadar: persatuan adalah senjata utama lawan disintegrasi dan kemiskinan.
Mengapa Ramadhan Begitu Memadukan Umat?
Jawabnya: Pengalaman Fisik Sama: Lapar, haus, lelah, tak pandang status. Ibadah Sinkron: Imsak, buka, tarawih pada jam yang sama nasional sesuai wilayah. Empati Terbangun: Kaya rasakan lapar miskin, pemuda paham lelahnya orang tua. Setan Dibelenggu: Godaan perpecahan minim (HR Muslim). Target Bersama: Maghfirah Idul Fitri, semua kejar bareng. Data terbaru Kemenag 2025: indeks harmoni sosial naik 35% saat Ramadhan. Bukti nyata!
Seruan Ramadhan 1447 H: Jadikan Persatuan Muslim Abadi!
Wahai umat Islam! Ramadhan adalah laboratorium persatuan. Di sini kita latih jadi umat solid. Jangan sia-siakan!
Bayangkan Indonesia pasca-Ramadhan: pasar jujur, jalan sabar, kantor harmonis. Persatuan umat adalah kekuatan bangsa. Rasulullah bilang: "Jika umatku bersatu maka tak akan terkalahkan" (HR Bukhari). Begitu pentingnya persatuan!
Ramadhan kali ini, kita jadikan bulan napas bersama. Dari sahur sampai takbir Lebaran, kita rasakan denyut umat satu. Saat azan Maghrib besok, dengar bukan hanya suara muadzin, tapi simfoni 270 juta hati muslim bersatu. Taqwa dan persatuan diukir Ramadhan. Persatuan ini berimbas ke 11 bulan berikutnya. Jadinya, persatuan abadi! Islam bersinar. Indonesia pun Jaya!
Posting Komentar untuk "Ramadhan: Bulan Persatuan Umat Islam Induksi 11 Bulan Lainnya!"