Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Berpuasa di bawah judul ini bukan lagi sekedar ritual menahan lapar, melainkan sebuah pertunjukan semesta yang terjadi di dalam batin. Ia adalah sebuah simfoni, namun instrumennya bukan denting dawai atau tiupan serunai, melainkan detak jantung yang melambat dan napas yang lebih teratur karena ego sedang dipaksa duduk diam.
Memasuki hari-hari puasa dengan kesadaran penuh terasa seperti melangkah masuk ke dalam sebuah ruang mahaluas yang kosong. Di sana, kebisingan dunia ambisi, amarah, dan keinginan untuk diakui perlahan memudar volumenya. Rasanya seperti melepas topeng berat yang selama ini kita pakai di panggung sandiwara harian. Saat perut kosong, ada sebuah kejujuran yang menyeruak; sebuah pengakuan sunyi bahwa kita hanyalah makhluk kecil yang bergantung sepenuhnya pada setetes air dan sebutir kurma.
Seni menanggalkan diri ini adalah proses yang halus. Ia seperti mengupas kulit bawang, selapis demi selapis, hingga menyentuh inti yang paling bening. Saat seseorang memancing emosi kita, "kesunyian" dalam diri ini bekerja seperti peredam suara. Kita mendengar, namun tidak tergetar. Kita melihat, namun tidak menghakimi. Ada ruang jeda yang sejuk antara stimulus dan reaksi, sebuah ruang di mana ego tidak lagi memegang kendali untuk membela diri.
Dalam kesunyian ini, kita mulai mendengar suara-suara yang selama ini tenggelam: suara empati yang tulus kepada mereka yang kelaparan, dan suara syukur yang paling dalam atas nikmat yang seringkali dianggap biasa. Kita tidak lagi merasa perlu menjadi "pusat semesta". Sebaliknya, kita merasa bahagia menjadi bagian kecil dari harmoni yang lebih besar.
Menanggalkan diri dalam kesunyian puasa akhirnya membawa kita pada sebuah muara yang damai. Ia adalah rasa tenang yang ganjil namun menetap; sebuah kemenangan yang tidak membutuhkan sorak-sorai, melainkan cukup dirayakan dengan tunduknya kepala dan luasnya maaf di dalam dada.
03 Ramadhan 1447 H / 21 Pebruari 2026 M
Posting Komentar untuk "Simfoni Kesunyian: Seni Menanggalkan Diri dalam Kesunyian"