Bengkel Hati: Merawat Iman yang Hampir Turun Mesin

         Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Lampu indikator di dada itu sudah lama berkedip merah, namun kita sering kali abai. Kita memacu diri dalam hiruk-pikuk dunia hingga mesin ruhani kita panas berlebih (overheat). 

Langkah mulai berat, niat sering kali tersendat, dan suara zikir yang biasanya halus kini terdengar kasar karena gesekan ego yang mengeras. Iman kita sedang tidak baik-baik saja; ia hampir turun mesin.

Lalu, Ramadhan datang menyerupai sebuah bengkel agung di tepi jalan kehidupan yang melelahkan. Di sini, kita tidak sekedar beristirahat, tapi melakukan perbaikan total.

Satu per satu "baut" kesombongan mulai dilonggarkan melalui lapar dan dahaga. "Oli" kesabaran dituangkan kembali untuk melumasi hati yang mulai kaku agar tak lagi mudah bergesek dengan sesama. Kita membuang sisa-sisa "kerak" dosa yang menyumbat saluran doa, menggantinya dengan suku cadang baru berupa keikhlasan dan ketulusan.

Di bawah langit Ramadhan yang teduh, Sang Pemilik Semesta mengundang kita untuk masuk ke ruang servis paling privat: sajadah di sepertiga malam. Di sana, mesin jiwa kita disetel ulang (tune-up), diselaraskan kembali ritmenya dengan detak-detak perintah-Nya.

Sebab, Idul Fitri nanti bukan tentang siapa yang memiliki kendaraan paling mengkilap di luar, melainkan tentang mesin hati siapa yang paling siap melaju jauh menempuh sebelas bulan perjalanan berikutnya dengan tenaga takwa yang baru.
Wallahu A'lam Bis-Shawab.

05 Ramadhan 1447 H / 23 Pebruari 2026 M

Posting Komentar untuk "Bengkel Hati: Merawat Iman yang Hampir Turun Mesin"