Barru —B88News. Id- Pagi di Dusun Lisu semula berjalan seperti biasa. Sungai Waenunge Desa Lompo Riaja Kecamatan Tanete Riaja mengalir tenang, menjadi saksi rutinitas warga yang datang mencuci, berbincang ringan, dan melepas lelah. Tak ada tanda bahwa sungai yang akrab itu akan berubah menjadi saksi bisu sebuah duka.
Namun sekitar Sabtu pagi, 3 Januari 2026, ketenangan itu pecah. Teriakan panik menggema di tepi sungai. Seorang pemuda, Asrul (19), warga Cilellang, Desa Corawali Kecamatan Tanete Rilau dilaporkan tenggelam setelah terseret arus deras yang datang tiba-tiba.
Peristiwa nahas itu bermula sekitar pukul 08.00 WITA. Asrul berangkat bersama keluarganya menuju Sungai Waenunge, sebuah tempat yang sudah begitu akrab bagi warga sekitar. Mereka mencuci pakaian, seperti yang telah dilakukan berulang kali. Tak ada firasat, tak ada kekhawatiran.
Sekitar pukul 09.00 WITA, Asrul memutuskan turun ke sungai. Bersama rekannya, Rizky (17), ia berenang di arus yang tampak bersahabat. Namun alam tak selalu memberi isyarat. Dalam hitungan detik, arus sungai berubah liar, menyeret tubuh keduanya ke tengah.
Rizky berjuang sekuat tenaga. Dengan sisa tenaga dan napas yang hampir habis, ia berhasil mencapai tepian. Asrul tidak seberuntung itu. Tubuhnya terus ditarik arus, semakin menjauh dari jangkauan.
“Korban sempat berteriak meminta tolong,” demikian keterangan saksi.
Namun kepanikan, kelelahan, dan derasnya arus membuat pertolongan tak sempat menggapai. Suara itu perlahan hilang, tenggelam bersama arus Sungai Waenunge.
Warga yang menyaksikan kejadian itu segera melapor. Personel gabungan Koramil 1405-08/Tanete Riaja, Polsek Tanete Riaja, Polres Barru, BPBD kab Barru pemerintah setempat Kabupaten Barru langsung bergerak cepat melakukan pencarian. Sungai disisir, harapan masih disematkan.
Sekitar 1,5 jam kemudian, tepat pukul 10.23 WITA, harapan itu berubah menjadi kenyataan pahit. Asrul ditemukan di dasar sungai, tak jauh dari titik awal ia berenang. Ia sudah tak sadarkan diri. Upaya medis dilakukan di Puskesmas Lisu, namun takdir berkata lain. Pada pukul 11.00 WITA, jenazah Asrul dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan.
Pihak berwenang menduga kejadian ini dipicu oleh kurangnya kewaspadaan serta kondisi arus sungai yang mudah berubah. Minimnya papan peringatan di kawasan tersebut turut menjadi perhatian, mengingat Sungai Waenunge kerap digunakan warga untuk aktivitas harian.
Sebagai langkah pencegahan, aparat merekomendasikan pemasangan papan peringatan di titik-titik rawan, mengimbau warga agar tidak berenang saat arus deras, serta meningkatkan pengawasan di area sungai yang sering dikunjungi masyarakat.
Kini, di awal tahun yang seharusnya membawa harapan, keluarga Asrul harus menerima kenyataan pahit. Sungai Waenunge kembali mengalir seperti biasa. Namun bagi mereka yang kehilangan, alirannya akan selalu menyimpan kenangan tentang seorang anak muda yang berpulang terlalu cepat, dan tentang duka yang datang tanpa aba-aba.(SM)
Posting Komentar untuk "Tragedi Sungai Waenunge, Asrul dan Arus yang Merenggut Masa Depan"