Hikmah Maulid, Gurutta Muhammad Yusuf: Menelusuri Makna Cahaya Nabi Muhammad SAW

BARRU —B88News.id- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi momentum untuk memahami kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa cahaya bagi kehidupan manusia.

Hal tersebut disampaikan Gurutta Ustadz Muhammad Yusuf, S.Sos.I., M.A., dalam ceramah hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW. di Masjid Al Markaz Al Islami Nurussahadah Lasinri Barru, Ahad 23/8/2026 malam. 

Dalam ceramahnya, Ia mengajak jamaah untuk memahami makna nur atau cahaya Nabi Muhammad SAW yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kehidupan manusia dan alam semesta.

Gurutta Muhammad Yusuf menjelaskan bahwa dalam pemahaman keislaman, Nabi Muhammad SAW memiliki kedudukan yang sangat mulia. Cahaya kenabian tersebut menjadi bagian dari kemuliaan Rasulullah SAW yang kemudian menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Menurutnya, pembahasan mengenai Nur Muhammad tidak cukup hanya dipahami secara lahiriah, tetapi perlu direnungkan sebagai pesan tentang bagaimana umat Islam menempatkan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

Ia kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan kisah Nabi Adam AS. Dalam kisah yang disampaikan, kemuliaan Nabi Muhammad SAW telah dikenal dalam rangkaian perjalanan kenabian, termasuk melalui shalawat yang menjadi bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.


Gurutta Muhammad Yusuf juga mengajak jamaah memahami perbedaan penggunaan ungkapan shalawat dalam konteks tertentu. Menurutnya, terdapat ungkapan “shallallahu ‘ala Muhammad” yang mengandung makna doa sekaligus pengagungan kepada Nabi Muhammad SAW.

Makanya shalawat yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam itu ada dua pendudukannya,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa salah satu bentuk pemaknaan shalawat berkaitan dengan penggunaan bentuk lampau (fil-madhi), sebagai ungkapan yang menunjukkan sesuatu yang telah terjadi. Sementara dalam praktik kehidupan umat Islam, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW terus dilantunkan sebagai bentuk kecintaan yang tidak dibatasi oleh waktu.

Bagi Gurutta,  kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan shalawat. Shalawat harus menjadi pintu untuk mengenal akhlak Rasulullah, meneladani sifat-sifat beliau, serta menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Maulid, lanjutnya, dengan demikian tidak berhenti pada seremoni. Maulid harus menjadi ruang untuk memperbarui kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT dan sesama.

Yang paling penting adalah bagaimana kita menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai teladan dalam kehidupan,” pesannya.

Melalui hikmah Maulid tersebut, jamaah diajak kembali kepada pesan utama kelahiran Rasulullah SAW: menghadirkan cahaya iman, memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta menerjemahkan shalawat dalam bentuk akhlak dan amal nyata.

"Sebab mencintai Nabi bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi dengan berusaha mengikuti jalan dan akhlaknya", jelasnya. 

Peringatan Maulid tersebut, turut dihadiri Wakil Bupati Barru Abustan Andi Bintang, Kabag Kesra Setda Barru Sarmiati Burhanuddin, Camat Barru A. Mustafa Fieter, Jamaah masjid dan undangan lainnya.  (syam) 

Posting Komentar untuk "Hikmah Maulid, Gurutta Muhammad Yusuf: Menelusuri Makna Cahaya Nabi Muhammad SAW"