76 Tahun Smansa Makassar Ketika Kenangan Tak Pernah Kehilangan Jalan Pulang

    
          
               Catatan, Syamsu Marlin

Ada yang datang dengan langkah tegap. Ada yang berjalan perlahan dengan tongkat. Namun pagi itu, semuanya memiliki tujuan yang sama: kembali pulang ke rumah yang pernah menyimpan masa-masa paling indah dalam hidup mereka.Sekitar 3.000 alumni SMA Negeri 1 Makassar (Smansa Makassar) bersama keluarga memadati Jalan Gunung Bawakaraeng, Sabtu (22/8/2026). 

Mereka datang dari 30 angkatan, mulai Angkatan 1963 hingga 2025, untuk mengikuti Fun Walk dalam puncak AnniverSMAnSAry 76th: Celebration of Togetherness.Di antara kerumunan lintas generasi itu, kenangan seperti menemukan jalannya kembali.

Ada motor hias, pakaian adat, hingga atraksi gandrang bulo. Tawa dan sapaan lama berbaur dengan cerita tentang masa sekolah. Mereka yang puluhan tahun tak berjumpa kembali saling memanggil nama, berjabat tangan dan berpelukan.
Bagi Ketua Umum IKA Smansa Makassar, Andi Ina Kartika Sari, yang juga saat ini adalah Bupati Barru, momen tersebut jauh lebih besar daripada sekadar perayaan ulang tahun sekolah.

Alumni Angkatan 1993 itu melepas langsung peserta Fun Walk bersama mantan Ketua IKA Smansa, Agus Arifin Nu'mang.

Ini juga bukti bahwa alumni Smansa memang beda dan selalu terdepan,” kata A. Ina.

Di balik kegembiraan itu, ada pesan yang ingin terus dirawat: alumni Smansa harus tetap bersama.
Menurut A. Ina, kebersamaan adalah kekuatan keluarga besar Smansa. Karena itu, anniversary ke-76 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang bernostalgia, tetapi menjadi energi untuk terus memberikan manfaat bagi alumni, sekolah dan masyarakat.

A. Ina mengajak seluruh alumni mengambil bagian dalam pembangunan rumah bersama, Gedung Alumni Smansa yang diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp800 juta.

Baginya, gedung tersebut bukan sekadar bangunan. Ia adalah rumah bersama—tempat alumni bertemu, bertukar gagasan, menyusun kegiatan dan melahirkan gerakan sosial.

Kami berharap alumni ikut berpartisipasi dalam pembangunan gedung alumni yang membutuhkan dana sekitar Rp800 juta. Semoga gedung ini bisa rampung sebelum kepengurusan ini selesai,” harapnya.

Semangat berbagi juga datang dari Angkatan 86. Ketua Angkatan 86, Lisa Jusuf Kalla, menyerahkan bantuan kepada guru aktif, guru purnabakti hingga tenaga sekuriti. Mereka juga melakukan aksi sosial dengan membersihkan toilet sekolah dan memperluas Mushalla Darul Ulum.
Ketika Usia Tak Mampu Memisahkan,  Anniversary ke-76 ini bukan kegiatan sehari. Sejak 9 Juli 2026, berbagai agenda telah digelar, mulai dari 45 Menit Bersama Angkatan 81, sunatan massal untuk 107 anak, Smansa Run yang diikuti sekitar 2.500 peserta, hingga Smansa Kalpataru yang menaklukkan Gunung Rinjani pada 17 Agustus. Ada pula turnamen domino, padel, mini soccer dan donor darah.

Sekjen IKA Smansa Makassar, Wawan Indrawan, mengatakan Fun Walk menjadi cara sederhana untuk menghidupkan kembali kenangan masa SMA.

Dengan Fun Walk ini, kita ingin merangkai kembali memori waktu zaman SMA dulu. Kita ingat waktu sekolah dulu sering diadakan lomba gerak jalan,” katanya.

Yang paling menyentuh justru mereka yang datang membawa usia.Sekitar 15 alumni Angkatan 67 hadir bersama. Sebagian telah lanjut usia, tetapi mereka tetap melangkahkan kaki menuju sekolah yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Kehadiran mereka seolah mengatakan bahwa persaudaraan tidak mengenal kalender.

Hal serupa dirasakan Gubernur Kalimantan Utara Zainal Paliwang, alumni Angkatan 82, yang menyempatkan hadir di tengah kesibukannya.

“Bersyukur bisa hadir bersama rekan-rekan alumni Smansa yang lain. Semoga kita diberi umur yang panjang, diberkati, dan kekuatan serta bertemu kembali di waktu lain dalam kebersamaan alumni Smansa,” ucapnya.

Ia pun mengenang para guru yang telah membentuk perjalanan hidupnya.“Karena bimbingan mereka, saya bisa seperti ini,” tuturnya.

76 Tahun, Tapi Tak Pernah Tua.  Puncak anniversary turut ditandai dengan peluncuran IKASmansaMks.id, portal informasi aktivitas alumni sekaligus ruang untuk membuka partisipasi dan donasi.

Namun, di atas segala rangkaian acara, yang paling berharga adalah pertemuan. Mereka yang dahulu duduk sebangku kini datang dengan profesi dan kehidupan masing-masing. Ada yang menjadi pejabat, pengusaha, profesional, akademisi, hingga orang tua dan kakek-nenek. 

Tetapi ketika kembali ke halaman Smansa, sekat-sekat itu seakan luruh.Yang tersisa hanyalah nama angkatan, cerita lama dan persaudaraan.

76 tahun Smansa bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan panjang yang mempertemukan generasi demi generasi. Tentang seragam yang mungkin telah lama disimpan, ruang kelas yang telah berganti wajah, tetapi kenangan yang tetap tinggal.

Dan pada akhirnya, anniversary bukan tentang usia yang bertambah.Ia tentang persaudaraan yang tak pernah menua—tentang kenangan yang selalu menemukan jalan pulang, dan tentang alumni yang memilih untuk tetap bersama serta terus memberi manfaat.(*) 

Posting Komentar untuk "76 Tahun Smansa Makassar Ketika Kenangan Tak Pernah Kehilangan Jalan Pulang "