Terpikat Makassar, Tika Bawa Pulang Cerita tentang Rasa dan Keramahan



MAKASSAR -B88News.id– Tak semua perjalanan dinas berakhir di tumpukan catatan. Bagi Tika Sri Wulandari, kunjungan ke Makassar justru meninggalkan cerita yang menetap di hati.

Perempuan asal Kabupaten Mesuji, Lampung, ini datang ke Makassar dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas). 

Sebagai Staf Dinas Pendidikan Kabupaten Mesuji sekaligus pengurus Dekranasda dan TP PKK Kabupaten Mesuji, Tika mengaku menemukan lebih dari sekadar agenda. Ia menemukan pesona Kota Daeng yang memikat.

"Kesannya sangat menyenangkan. Masyarakatnya ramah, kotanya nyaman, dan kami merasa diterima dengan sangat baik," ungkapnya saat berbincang dengan B88News di Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar, Jumat (9/7/2026).

Di sela agenda, Tika menyempatkan diri bertolak ke Rammang-Rammang, Kabupaten Maros. Hamparan pegunungan karst yang menjulang, aliran sungai yang tenang, dan udara yang masih alami membuatnya terpana.

"Indah sekali. Rasanya seperti berada di lukisan," ujarnya.

Pesona Makassar tak berhenti di alam. Lidahnya juga dimanjakan oleh kuliner khas. Pallubasa, Coto Makassar, hingga Es Pisang Ijo berhasil memikat seleranya.

"Selama ini saya hanya mendengar ceritanya. Setelah mencicipi langsung, ternyata memang sangat enak. Bumbunya kuat, rasanya autentik," tuturnya sambil tersenyum.

Hal yang tak kalah membuatnya kagum adalah harga. "Di luar dugaan, makanannya enak, porsinya cukup, tapi harganya sangat bersahabat," katanya.

Bagi Tika, kekuatan Makassar ada pada paduannya: kekayaan budaya, keindahan alam, kelezatan kuliner, dan yang paling utama — keramahan manusianya.

"Di sini saya merasa seperti tamu, tapi diperlakukan seperti keluarga," ucapnya.

Di penghujung kunjungan, ia menitipkan harapan. 

"Semoga Kota Makassar terus bertumbuh menjadi kota unggulan yang semakin maju, tapi tetap mempertahankan budayanya, keramahan masyarakatnya, dan kekayaan tradisinya sebagai identitas yang membanggakan," harapnya.

Bagi Tika, perjalanan ini bukan sekadar menghadiri HUT Dekranas. Ia pulang ke Mesuji membawa oleh-oleh yang tak bisa dibeli: kenangan tentang sebuah kota yang mampu memadukan kemajuan dengan kearifan lokal, dan menyambut setiap tamu dengan kehangatan.

Makassar, baginya, bukan hanya kota yang dikunjungi. Makassar adalah kota yang meninggalkan rasa, dan ingin suatu waktu kembali ke Makassar yang telah  mengukir kesan dihatinya. 


_(syam)_

Posting Komentar untuk "Terpikat Makassar, Tika Bawa Pulang Cerita tentang Rasa dan Keramahan"