Catatan Syam M. Djafar.
Di tengah riuh Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kamis (10/7), hadir secercah kehangatan yang menenangkan.
Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., berdiri menanti. Bukan dengan karpet merah dan protokoler kaku, melainkan dengan selembar Wastra Corak Berru yang digenggam penuh harap.
Begitu Sri Suparni Bahlil Lahadalia, Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian ESDM RI yang juga adalah Ketua Harian II Dewan Kerajinanan Nasional (Dekranas) melangkah keluar, Andi Ina menyambutnya dengan pelukan. Perlahan, kain tenun khas Barru itu dialungkan ke pundak sang tamu.
Di sana, seutas benang bertemu dengan niat baik. Di sana, budaya menjadi bahasa.
Wastra Corak Berru bukan sekadar kain. Ia adalah cerita. Ia adalah sapaan pertama dari Bumi Colliq PujiE kepada tamunya. Ia adalah simbol penghormatan, persaudaraan, dan kebanggaan masyarakat Barru yang ingin memperkenalkan jati dirinya dengan cara paling lembut: melalui tenunan.
Senyum mengembang di wajah keduanya. Tidak ada jarak antara pusat dan daerah. Yang ada hanya dua perempuan, dua amanah, yang dipertemukan oleh semangat yang sama: mengabdi untuk rakyat.
"Selamat datang di tanah Sulawesi Selatan, di rumah kami di Barru. Semoga kunjungan Ibu membawa berkah, mempererat silaturahmi, dan menguatkan langkah kita bersama untuk kemajuan daerah," ujar Andi Ina, suaranya bergetar haru.
Bagi Andi Ina, menyambut tamu dengan identitas daerah adalah cara menghormati. Karena tamu yang datang bukan hanya membawa nama lembaga, tapi juga membawa harapan agar semakin banyak program baik yang bisa hadir untuk masyarakat.
Usai penyambutan, rombongan menuju Makassar untuk menghadiri kegiatan dan selanjutnya bertolak ke Kabupaten Barru untuk melanjutkan rangkaian agenda kerja Penasihat DWP Kementerian ESDM RI.
Di balik pengalungan kain sederhana itu, ada pesan yang dalam. Bahwa budaya tidak hanya untuk dipajang. Budaya adalah jembatan. Ia mendekatkan hati, mencairkan sekat, dan mengingatkan kita bahwa setiap kerja sama besar selalu dimulai dari sapaan yang tulus.
Melalui Wastra Corak Berru, Barru memperkenalkan dirinya ke panggung nasional. Bukan dengan suara lantang, tapi dengan kehangatan. Bukan dengan gemuruh, tapi dengan benang-benang yang dirajut penuh makna.(*)
Posting Komentar untuk "Saat Wastra Berru Menjemput: Kehangatan Andi Ina untuk Sri Suparni di Gerbang Sulawesi"