Oleh: Syam M. Djafar
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah kembali menyapa umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Kabupaten Barru. Di masjid-masjid terdengar dzikir dan doa. Di rumah-rumah juga, warga saling mendoakan.
Namun di balik seremonial pergantian tahun, Muharram menyimpan pesan yang lebih dalam. Ia bukan hanya penanda waktu. Muharram adalah undangan dari Sang Waktu untuk berhenti sejenak.
Berhenti dari hiruk pikuk. Lalu bercermin. Itulah muhasabah. Menghitung diri sebelum dihitung oleh-Nya.
Muhasabah: Jujur pada Diri Sendiri
Muhasabah artinya menimbang amal. Menimbang langkah. Menimbang niat.
Dalam kehidupan pribadi, kita bertanya: apakah tahun lalu saya sudah cukup jujur, cukup sabar, cukup peduli pada sesama? Apakah saya sudah meninggalkan kebiasaan yang merugikan diri dan orang lain?
Jujur pada diri sendiri itu berat. Tapi kejujuran itulah pintu pertama menuju perubahan. Sebab setiap hijrah selalu dimulai dari kesadaran: ada yang perlu diperbaiki, dan ada tujuan yang ingin dicapai.
Tanpa muhasabah, hijrah hanya akan jadi wacana. Tanpa kejujuran, perubahan hanya akan jadi lipstik di atas luka lama.
Hijrah: Dari Zona Nyaman ke Zona Ikhtiar
Setelah bercermin, langkah berikutnya adalah berpindah. Itulah hijrah.
Rasulullah SAW dan para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah bukan karena benci kampung halaman. Mereka berhijrah karena ingin menegakkan nilai yang lebih tinggi: keadilan, persaudaraan, dan peradaban.
Dalam konteks Barru hari ini, hijrah tidak harus berpindah tempat. Hijrah bisa berarti berpindah cara berpikir. Berpindah cara bekerja. Berpindah dari rutinitas yang monoton menuju inovasi yang berdampak.
Hijrah berarti seorang guru berani mencoba metode mengajar baru agar anak lebih semangat belajar.
Hijrah berarti seorang petani berani beralih ke pupuk organik agar tanah tetap subur untuk anak cucu.
Hijrah berarti seorang aparatur berani meninggalkan birokrasi berbelit agar pelayanan publik lebih cepat dan manusiawi.
Hijrah Kolektif: Denyut Pembangunan Barru Saat Ini.
Semangat hijrah itulah yang kini terasa di Kabupaten Barru.
Pemerintah Kabupaten Barru di bawah nahkoda Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Bupati Abustan sedang menahkodai sebuah “hijrah kolektif”. Tujuannya jelas: menata Barru menuju visi Barru Berkeadilan, Maju Berkelanjutan, dan Sejahtera Lebih Cepat.
Ini bukan sekadar jargon. Ini peta jalan. Peta jalan yang menuntut keberanian mengambil langkah tidak nyaman demi masa depan yang lebih baik.
Keberanian untuk berinovasi di bidang pelayanan publik, agar warga tidak lagi antre berjam-jam untuk urusan administrasi.
Keberanian untuk meningkatkan kualitas SDM, agar lulusan Barru tidak hanya mencari kerja, tapi menciptakan kerja.
Keberanian untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan, agar produk UMKM Barru naik kelas dan menembus pasar lebih luas.
Keberanian untuk membangun kolaborasi, karena pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan tokoh agama adalah satu perahu.
Muharram mengingatkan: perubahan tidak lahir dari orang yang menunggu keadaan sempurna. Perubahan lahir dari orang yang berani memulai meski langkahnya kecil.
Setiap Kita Punya Peran Hijrah.
Karena itu, hijrah tidak bisa diserahkan hanya kepada bupati, camat, atau kepala desa. Hijrah adalah tanggung jawab bersama.
Warga Barru berhijrah ketika mulai memilah sampah dari rumah dan peduli pada kebersihan lingkungan.
Pemuda Barru berhijrah ketika memilih berkarya dan berwirausaha daripada menunggu lowongan.
Aparatur Barru berhijrah ketika bekerja dengan integritas, cepat, dan tanpa pamrih.
Pemimpin Barru berhijrah ketika kebijakan dibuat dengan hati, bukan hanya hitung-hitungan angka.
Bayangkan jika setiap dari kita melakukan “hijrah kecil” sesuai peran. Warga peduli, aparatur profesional, pemuda kreatif, pemimpin amanah.
Maka energi kecil itu akan bertemu. Saling menguatkan. Dan berubah menjadi gelombang besar yang mampu mempercepat terwujudnya Barru yang sejahtera.
Langkah Kecil Menuju Tujuan Besar
1 Muharram 1448 H adalah pengingat lembut. Bahwa perjalanan seribu mil selalu dimulai dari satu langkah. Dan langkah itu harus konsisten.
Mari jadikan muhasabah sebagai cermin harian. Untuk mengevaluasi, bukan untuk menghakimi diri sendiri.
Mari jadikan hijrah sebagai energi harian. Untuk berubah, bukan untuk menyalahkan keadaan.
Sebab daerah yang maju tidak dibangun dalam semalam. Ia dibangun oleh masyarakat yang setiap hari memilih menjadi versi terbaik dari dirinya kemarin.
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.
Saatnya kita berhenti sejenak untuk bercermin.
Saatnya kita melangkah untuk berubah.
Saatnya kita bergandeng tangan menata Barru menuju sejahtera lebih cepat.
Salamakki Tapada Salama'
Barru, 16 Juni 2026
Posting Komentar untuk "Muharram 1448 H: Muhasabah sebagai Cermin, Hijrah sebagai Jalan Menuju Barru Sejahtera Lebih Cepat "