Catatan, Syam M Djafar
Suasana di GOR Kampus III Putri Bulu Lampang, Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Ahad (28/6/2026), mendadak berubah menjadi lebih hangat dan mengharukan ketika nama Muhammad Farhan, S.PU Addary dipanggil ke atas panggung.
Di tengah prosesi Penamatan Santri ke-84 dan Wisuda Ma'had Aly ke-7 yang berlangsung khidmat, Farhan diumumkan sebagai wisudawan terbaik Ma'had Aly DDI Mangkoso. Tepuk tangan panjang pun bergemuruh dari para santri, keluarga, ulama, dan tamu undangan yang memadati ruangan. Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai.
Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, berdiri dan menyerahkan penghargaan istimewa berupa hadiah ibadah umrah kepada Farhan. Sesaat setelah menerima penghargaan tersebut, Farhan tampak menundukkan kepala. Wajahnya menyimpan rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Suasana haru pun menyelimuti ruangan. Beberapa orang tua santri tampak mengusap mata, sementara tepuk tangan terus mengiringi langkahnya.
Bagi banyak orang, Muhammad Farhan mungkin hanyalah seorang wisudawan terbaik. Namun, bagi keluarga besar DDI Mangkoso, ia adalah sosok santri yang tumbuh bersama pengabdian.
Lahir di Labakkang, 1 September 2000, dan kini menetap di Jalan Usman Tsani No. 13, Mangkoso, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Farhan bukanlah nama asing di lingkungan pesantren. Selain menjalani pendidikan sebagai mahasantri Ma'had Aly, ia juga mengemban amanah sebagai Imam Masjid Besar Ad-Da'wah Mangkoso, tempat ribuan santri dan masyarakat menunaikan ibadah setiap harinya.
Hari-harinya tidak hanya diisi dengan membaca kitab dan menyelesaikan tugas akademik. Di balik predikat wisudawan terbaik yang diraihnya, Farhan telah menghabiskan banyak waktunya di mihrab masjid, mengumandangkan ayat-ayat suci, memimpin salat, serta melayani kebutuhan spiritual masyarakat pesantren. Baginya, belajar dan mengabdi bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu perjalanan yang harus dijalani bersamaan.
Perjalanan intelektualnya pun tidak berhenti di Mangkoso. Dalam proses pendidikannya, Farhan berkesempatan menjalani penelitian selama tiga bulan di Mesir, memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperdalam tradisi keislaman yang selama ini menjadi fondasi pendidikannya.
Hadiah umrah yang diterimanya hari itu bukan sekadar apresiasi atas prestasi akademik. Ia menjadi penghargaan atas ketekunan, pengabdian, dan akhlak yang dijaga selama menempuh pendidikan. Penghargaan itu seolah menegaskan bahwa di DDI Mangkoso, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari ketulusan dalam mengabdi dan kemampuan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Di hadapan ratusan wisudawan lainnya, Bupati Andi Ina menyampaikan bahwa seorang santri sejatinya tidak hanya dipersiapkan menjadi orang yang berilmu, tetapi juga menjadi pribadi yang berakhlak dan mampu mengabdikan ilmunya untuk masyarakat.
Kisah Muhammad Farhan pada hari itu menjadi pelajaran berharga bagi seluruh santri yang hadir. Bahwa penghargaan tertinggi bukanlah sekadar gelar atau predikat, melainkan ketika ilmu yang dipelajari mampu melahirkan pengabdian, dan pengabdian itu menghadirkan keberkahan bagi banyak orang.
Di tengah riuh tepuk tangan dan haru yang menyelimuti ruangan, Muhammad Farhan membuktikan satu hal sederhana: bahwa seorang santri yang ikhlas mengabdi, pada waktunya akan dipertemukan dengan kemuliaan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.(*)
Posting Komentar untuk "Hadiah Umrah untuk Sang Pengabdi: Air Mata Haru Muhammad Farhan di Panggung DDI Mangkoso"