Sekolah Bukan Arena Sabung, Tapi Kebun Harmoni Bersama

                         Sudarto 
(Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)

Beberapa hari yang lalu, tepat 2 Mei 2026, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan gegap gempita upacara dan pidato penuh semangat. Bendera berkibar, lagu Indonesia Raya bergema, dan para pejabat berjanji membangun pendidikan berkualitas untuk Indonesia Emas 2045.

 Namun, di balik hiruk-pikuk perayaan itu, muncul pertanyaan mendasar yang jarang terucap: sekolah itu sebenarnya untuk apa dan untuk siapa? Bukan untuk menambah beban hafalan atau mengejar ranking PISA, tapi untuk apa hakikatnya? Saat kita berdiri tegak menghormati Ki Hadjar Dewantara : Bapak Pendidikan Nasional yang lahir 137 tahun silam : marilah kita renungkan jati diri pendidikan yang seharusnya menjadi nafas kehidupan bangsa.

Bayangkan sekolah sebagai sebuah kebun. Bukan kebun bunga yang bersaing merebut sinar matahari hingga saling menindih, melainkan kebun harmoni di mana setiap tanaman tumbuh bersama, saling berbagi air dan nutrisi dari tanah yang sama. Sekolah seharusnya seperti itu: dibangun untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk memenangkan kompetisi individu yang kejam. Kita ingin anak-anak pintar, bukan pintar untuk menjatuhkan teman sekelasnya, melainkan pintar sehingga dengan kepintarannya ia bisa membangun darah dagingnya sendiri : keluarga, kampung, dan masyarakatnya serta bangsanya. 

Pintar untuk mengangkat derajat orang tuanya yang selama ini berjuang di sawah atau pasar. Pintar untuk menciptakan lapangan kerja bagi tetangganya yang nganggur. Pintar untuk memperbaiki jalan rusak di dusunnya atau membangun sumur untuk warga yang kekeringan. Sekolah bukan untuk melahirkan egois yang sukses sendirian di menara gading, tapi pahlawan kecil yang mengangkat kesejahteraan kolektif.

Sayangnya, realitas di lapangan sering kali jauh dari cita-cita mulia itu. Dunia pendidikan kita hari ini mirip arena sabung ayam yang kejam, di mana semua berebut makanan, saling sikut saling sikat, dan yang lemah terinjak-injak. Sikap ini bukan saja miris, tapi juga menyedihkan. Lihatlah para guru, yang seharusnya menjadi penanam benih kebaikan, justru berjibaku memperebutkan jam mengajar atau SKS seperti pedagang berebut lahan di pasar. Bukan untuk siapa yang paling berdedikasi mengajar, tapi untuk siapa yang paling banyak meraup tunjangan sertifikasi, tukin, atau remunerasi. "Jam saya lebih banyak!" seru yang satu.

 "Kamu ambil hak saya!" balas yang lain. Pendidikan hilang jati dirinya. Guru-guru yang mulia ini, yang seharusnya berebut amal kebaikan : berebut mana yang paling rajin mengajar anak-anak miskin di pelosok, mana yang paling inovatif menciptakan metode belajar menyenangkan, malah berebut materi “jam mengajar”. Yang penting jamnya banyak, yang lain biar sedikit, kalau perlu yang lain tidak usah dapat jam sama sekali. Di mana ruh pendidikan yang dibangun untuk mensejahterakan masyarakat? Pendidikan seperti ini seolah-olah lupa bahwa ia seharusnya menjadi teladan saling tolong-menolong, saling memahami, dan saling tepa selira.
Ingat pepatah Bugis-Makassar yang begitu indah: siri' na pacce. Siri' untuk menjaga harga diri, pacce untuk gotong royong tanpa pamrih. Di mana nilai itu dalam dunia sekolah kita sekarang? Guru memperebutkan jam mengajar seperti nelayan berebut ikan di laut sempit, padahal ikan yang ditangkap seharusnya dibagi rata untuk seluruh kampung.

 Kepala sekolah sibuk mengatur jadwal demi prestasi sekolahnya sendiri, bukan demi anak didik yang kesulitan belajar. Siswa diajarkan bersaing saling menjatuhkan : "Kamu harus nomor satu, biarpun temanmu nomor sepuluh!"  bukannya saling dukung seperti saudara. Orang tua pula ikut arus: "Anakku harus juara satu, sisanya urusannya sendiri!" Akar persoalan ini dalam: kita lupa bahwa sekolah adalah untuk kita bersama, bukan untuk "saya saja". Pendidikan yang sejati harus mengajarkan saling berbagi, saling memahami, saling menolong, saling percaya, dan saling mendukung, bukan saling menghalangi atau saling menjatuhkan.

Renungkanlah ajaran Ki Hadjar Dewantara yang menjadi semboyan Hari Pendidikan Nasional: "Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani." Di depan beri teladan, di tengah bangun semangat, di belakang dorong dengan tangan lembut. Ini bukan sekadar kata-kata indah untuk pidato 2 Mei, tapi blueprint pendidikan yang hidup. Guru harus jadi teladan yang tak memperebutkan jam mengajar, tapi berlomba menciptakan kelas inklusif di mana anak terpencil pun merasa dihargai. 

Siswa di tengah kelas harus membangun semangat gotong royong, bukan kompetisi destruktif. Dan dari belakang, sekolah mendorong setiap anak berkembang sesuai potensinya, bukan dipaksa masuk cetakan yang sama. Sekolah untuk siapa? Untuk anak desa yang haus ilmu, untuk anak kota yang butuh karakter, untuk kita semua yang ingin bangsa ini semakin sejahtera dan semakin merata.

Bayangkan jika sekolah benar-benar jadi kebun harmoni itu. Anak pintar dari keluarga miskin tak lagi dikucilkan, malah didorong jadi pemimpin RT yang inovatif. Guru tak lagi berebut SKS, tapi berbagi modul mengajar gratis di platform Merdeka Mengajar. Kepala sekolah tak sibuk prestasi kertas, tapi bangun laboratorium sains dari dana BOS untuk eksperimen anak-anak. Di sinilah pendidikan kembali ke rohnya: mensejahterakan masyarakat. Anak pintar membangun desanya dengan irigasi canggih yang dipelajarinya di sekolah. Ia tingkatkan kualitas masyarakatnya dengan membuka kursus murah terjangkau atau gratis sama sekali untuk tetangga yang tidak mampu sejak awal. Bukan lagi "saya pintar untuk gaji besar di kota", tapi "saya pintar untuk kampung halaman dan bangsa". Itulah sekolah yang kita impikan : sekolah untuk kesejahteraan bersama.

Masalahnya, sistem saat ini justru memicu sikap egois itu. Tunjangan sertifikasi, tukin dan remunerasi yang dihitung dari jam atau SKS mengajar menciptakan arena perebutan, bukan kolaborasi dan persaudaraan. "Kalau saya bagi modul, jam saya berkurang!" keluh seorang guru. Padahal, jika saling berbagi, semua bisa mengajar lebih efektif dengan beban lebih ringan. Kompetisi siswa dinilai dari ranking ujian nasional, bukan dari proyek sosial yang nyata. "Juara satu masuk PT Favorit, sisanya cari kerja saja!" begitu logika mereka. Kita perlu pembangunan kembali pendidikan dengan nuansa penuh kesadaran. Insan pendidikan harus jadi barometer seluruh aktivitas manusia : teladan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, Menteri Pendidikan mungkin berpidato tentang Kurikulum Merdeka yang memberi otonomi guru. Bagus itu. Tapi otonomi itu harus diisi dengan kesadaran kolektif. Buatlah sekolah sebagai laboratorium tepa selira. Guru berbagi jam mengajar secara adil dan penuh mpati, dengan sistem rotasi yang transparan. "Bulan ini saya ambil kelas 7A, bulan depan kamu, ya," katanya sambil tersenyum. Siswa belajar dalam proyek kelompok di mana sukses satu orang adalah sukses semua. "Kita semua lulus bareng!" seru mereka. Orang tua dilibatkan dalam kegiatan sekolah, bukan hanya bayar uang komite atau diajak rapat untuk sepakat, tapi jadi relawan membersihkan lingkungan belajar dan menularkan ide yang praktis.

Di kota besar, misalnya, bayangkan SD Inpres di pinggiran kota tak lagi jadi tempat berebut bangku, tapi pusat pengembangan UMKM anak-anak. Siswa belajar berhitung bukan lagi hafalan tabel perkalian (karena memang sudah hafal sejak Kelas 2 SD), tapi sudah mulai menghitung untung rugi dagang ikan kakap di Pasar Sentral atau di Pelelangan. Guru tak berebut lagi jam mengajar, tapi kolaborasi buat kurikulum lokal berbasis siri' na pacce. Itulah pendidikan yang kembali ke akarnya : sekolah untuk kesejahteraan bersama. Bukan tempat bersaing dan berebut sesuatu yang jauh dari cerminan insan pndidik
Ki Hadjar pernah bilang, pendidikan adalah usaha sadar membangun jiwa anak didik. Sudah saatnya kita sadar bahwa sekolah bukan untuk bersaing saling menjatuhkan, tapi untuk saling tepa selira. Bukan untuk guru kaya tunjangan pribadi, tapi untuk masyarakat sejahtera kolektif. Bukan untuk siswa egois di puncak piramida, tapi untuk anak bangsa yang gotong royong naik tangga kemajuan bersama.

Pasca 2 Mei 2026, mari buka lembaran baru. Wahai para guru, bagilah jam mengajarmu dengan ikhlas penuh empati. Wahai siswa, dukunglah temanmu yang kesulitan dan bantulah yang kekurang. Wahai orang tua, pahami bahwa prestasi anak bukan angka rapor, tapi dampaknya bagi tetangga dan masyarakat. Wahai pemerintah, reformasi tunjangan agar berbasis kolaborasi, bukan perebutan. Sekolah untuk siapa? Untuk kita semua. Sekolah untuk apa? Untuk kesejahteraan kita bersama. Saat itulah pendidikan benar-benar hidup, dan Indonesia Emas bukan mimpi, tapi kenyataan yang kita tanam hari ini di kebun harmoni itu.

Posting Komentar untuk "Sekolah Bukan Arena Sabung, Tapi Kebun Harmoni Bersama"