Pendidikan Dua Hajar : Ki Hadjar Dewantara dan Siti Hajar


                      Sudarto
Dosen PGSD FIP Universitas Negeri                               Makassar

Bayangkan dua sosok dari era berbeda, dari belahan dunia yang jauh, bersatu dalam satu panggung sejarah pendidikan. Di satu sisi, Ki Hadjar Dewantara, pahlawan pendidikan Indonesia yang lahir tepat 2 Mei 1889, yang melawan penjajah Belanda demi akses ilmu bagi pribumi. Di sisi lain, Nabi Ibrahim AS dan istrinya Siti Hajar : tokoh abadi yang kisahnya dirayakan setiap Idul Kurban, yang melalui pengorbanan dan ketabahan menciptakan sistem pendidikan holistik pertama di dunia. 

Keduanya tak hanya membangun manusia seutuhnya lewat pendidikan dan pembelajaran, tapi juga menyatukan intelektual, emosional, dan spiritual dalam satu harmoni sempurna. Di bulan Mei 2026 ini, saat Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) berbarengan dekat dengan Idul Kurban, terbentuk "perkawinan suci" simbolis: warisan Ki Hadjar bertemu pengorbanan Ibrahim-Hajar. Ini bukan kebetulan; ini panggilan untuk pendidikan Indonesia yang merdeka jiwanya, tangguh hatinya, dan mulia rohnya. Mari kita telusuri kisah inspiratif mereka, yang mengalir seperti sungai Zamzam: dari perjuangan melawan tirani hingga lahirnya manusia unggul.

Mulailah dari Ki Hadjar Dewantara, sang Bapak Pendidikan Nasional Indonesia yang lahir di lingkungan keraton Yogyakarta dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Sejak muda, ia menyaksikan ketidakadilan pendidikan kolonial Belanda: pribumi hanya boleh belajar baca-tulis ala kadarnya, sementara elit Eropa menikmati pendidikan sampai universitas bergengsi. Pada tahun 1914, ia menulis esai yang sangat berani "Als ik eens Nederlander was" (Jika Saya Orang Belanda), yang mengkritik keras diskriminasi itu hingga ia dijauhkan dan diasingkan ke Belanda. Tak gentar, ia malah mendalami pedagogi Eropa di balik pengasingannya, dari Montessori hingga Frobel, lalu kembali mendirikan Indische Partij untuk perjuangan nasional. Puncaknya, tahun 1922: ia melahirkan Taman Siswa, sekolah pertama bagi pribumi yang adil dan merata. Melawan Belanda yang melarangnya, Ki Hadjar bersembunyi di rumah-rumah warga, mengajar di bawah pohon, dan menyebarkan jaringan sekolah ke seluruh Nusantara secara hati-hati. Filosofinya? "Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani" (di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan). 

Pendidikan baginya bukan transfer ilmu semata, tapi pembentukan manusia utuh: intelektual untuk berpikir kritis, emosional untuk empati sosial, dan spiritual untuk ikatan dengan Sang Pencipta. Ia memadukan sains Barat dengan nilai-nilai Jawa, menciptakan kurikulum yang membebaskan jiwa anak dari belenggu kolonial. Hasilnya? Ribuan pribumi bangkit: ada yang jadi dokter, ada yang jadi insinyur, dan ada yang jadi pemimpin, bukan lagi budak penjajah, tapi pewaris bangsa yang besar.

Kini, alihkan pandang ke padang pasir Arabia ribuan tahun silam, di mana Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar menorehkan babak pendidikan paling epik. Saat Ibrahim menerima wahyu untuk meninggalkan Hajar dan bayinya Ismail di lembah Mekah yang tandus, bukan akhir, tapi awal sistem pendidikan revolusioner. Hajar, sang istri tabah, tak meratap. Dengan ketabahan emosional luar biasa, ia berlari bolak-balik tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwah : Sa'I, mencari air untuk anaknya.

 Inilah pelajaran pertama: intelektual dalam mencari solusi (air sebagai simbol ilmu), emosional dalam keteguhan hati menghadapi kesunyian, spiritual dalam tawakal kepada Tuhan. Saat Malaikat Jibril menyentuh tanah hingga muncul Zamzam, lahir sumber ilmu abadi. Ismail tumbuh dengan minum air itu, belajar dari ayahnya membangun Ka'bah: simbol pusat pendidikan umat manusia. Ibrahim mengajarkan Ismail membaca "prima" wahyu pertama: "Iqra'" (bacalah), meski itu kisah Nabi Muhammad SAW nantinya.

 Hajar? Ia guru emosional-spiritual pertama: mengajarkan pengorbanan, kesabaran, dan ikhtiar. Bayi Ismail menangis bukan sekadar iseng, tapi ujian yang membentuk karakternya jadi nabi hebat. Sistem ini holistik: intelektual (membangun Ka'bah sebagai pusat ilmu), emosional (Sa'i sebagai latihan ketangguhan mental), spiritual (Qurban sebagai pengorbanan ego demi Tuhan).

 Hajar, ditinggal suami, tak patah semagatnya: ia mendidik Ismail jadi pemimpin yang saleh, yang akhirnya dikorbankan (namun diganti domba) sebagai puncak pembelajaran tawakal dan ketaatan pada Sang Pencipta.
Lihat betapa miripnya kedua model ini! Ki Hadjar, seperti Hajar, tabah melawan Belanda yang "mencampakkannya" di tanah pribumi tanpa pendidikan layak. Ia berlari "Sa'i" dari pengasingan satu ke pengasingan lainnya, hingga "Zamzam" Taman Siswa mengalirkan ilmu secara merata. Keduanya membangun manusia utuh: bukan robot pintar, tapi jiwa yang bebas, hati yang kuat, roh yang mulia. 

Ki Hadjar tolak pendidikan Belanda yang elit-intelektual semata; ia tambahkan emosional (gotong royong) dan spiritual (pendidikan berketuhanan). Ibrahim-Hajar tolak kehampaan padang pasir; mereka ciptakan ekosistem pendidikan yang memadukan fisik (lari Sa'i), akal (bangun Ka'bah), dan iman (qurban). Di Taman Siswa, anak belajar alam seperti Ismail belajar bertahan hidup; di Mekah, Ka'bah jadi "sekolah" umat seperti semboyan Ki Hadjar yang holistik.

Di bulan Mei 2026, "perkawinan" ini makin indah. Hari Pendidikan Nasional 2 Mei : kelahiran Ki Hadjar bersebelahan dengan Idul Kurban, puncak pengorbanan Ibrahim-Hajar. Ini momentum emas bagi Indonesia: satukan warisan mereka untuk pendidikan Merdeka Belajar yang utuh. Bayangkan kurikulum di mana siswa "Sa'i" proyek lapangan seperti Hajar, bangun "Ka'bah" kecil seperti Ismail, dan dapat dorongan "tut wuri" dari guru ala Ki Hadjar. Di Makassar atau Surabaya atau Jakarta, misalnya, sekolah bisa integrasikan shalat Dhuha dengan pelajaran STEM, gotong royong dengan kajian tauhid. Ini akan mencetak generasi tangguh seperti mereka.

 Realitas pahit: pendidikan kita masih timpang, tapi inspirasi duo Hajar ini bisa ubah itu. Ki Hadjar lawan Belanda demi keadilan; Hajar lawan kelaparan demi keturunan umat. Bersama, mereka ajarkan: pendidikan bukan soal ijazah, tapi jiwa utuh yang siap hadapi badai.
Kisah ini mengalir seperti Zamzam yang tak pernah kering. Ki Hadjar wafat 1959, tapi semboyannya hidup di setiap kelas. Hajar pun sudah tiada, tapi Sa'i jutaan haji tiap tahunnya. Di 2026, saat kita rayakan 2 Mei lalu diikuti kurban hewan, ingatlah: qurban ego kita demi ilmu. Guru, orang tua, siswa, jadilah Hajar modern: tabah tinggalkan zona nyaman, cari "air" ilmu dengan ikhtiar. Jadilah Ki Hadjar: lawan ketidakadilan pendidikan dengan sekolah inklusif. Negara kita, dengan Pancasilanya, sempurna untuk pernikahan ini: Ketuhanan Yang Maha Esa plus kemanusiaan yang adil dan beradab.

Akhirnya, bulan Mei 2026 bukan sekadar bulan dan tanggal; ia pesta pendidikan holistik. Ki Hadjar dan Ibrahim-Hajar berbisik: bangun manusia utuh, atau ciptakan bangsa rapuh. Mari kita jawab dengan tegas dan penuh aksi: doa plus usaha, ilmu plus akhlak. Seperti Zamzam yang lahir dari kaki bayi, kebesaran dimulai dari ketabahan kecil. Selamat Hari Pendidikan dan Idul Kurban semoga pendidikan kita "melahirkan" generasi Hajar yang abadi!

Posting Komentar untuk "Pendidikan Dua Hajar : Ki Hadjar Dewantara dan Siti Hajar"