Sudarto
Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar
Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang penuh godaan dan slogan, sebuah panggilan mendesak bergema: bagaimana seharusnya sikap orang yang mempercayai adanya Tuhan? Bukan sekadar keyakinan di hati atau ritual di bibir, tapi bukti nyata dalam setiap langkah kehidupan.
Pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026 kemarin, kita diingatkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya ilmu, tapi pembentukan karakter dan moral manusia. Orang bertuhan dan yang mengaku beragama seharusnya jauh lebih baik daripada orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan dan tidak beragama. Sikapnya harus bersinar, suksesnya melimpah di segala aspek, dan kehidupannya menjadi teladan, baik secara individu maupun secara kelompok.
Bayangkan jika umat beragama benar-benar hidup sesuai iman dan wahyu Ilahi: tak ada korupsi, tak ada tipu daya, tak ada maksiat, dan tak ada kekacauan. Negara bertuhan seharusnya jadi surga dunia penuh damai, memiliki persatuan yang kokoh, dan memiliki kesejahteraan yang merata, tidak ada perang dan tidak menciptakan kehancuran. Tapi realitas hari ini? Justeru sebaliknya. Banyak yang mengaku atau percaya adanya Tuhan tetapi sikapnya jauh dari harapan. Artikel ini mengajak kita semua untuk mulai sadar dan mulai memperbaiki sikap sejak hari ini, agar kita sebagai orang bertuhan dan beragama benar-benar unggul, indah dalam bergaul, dan membawa berkah bagi semua kehidupan di alam raya ini.
Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa banyak orang mengaku bertuhan justru kalah bersaing dari yang tidak bertuhan? Mereka berdoa, tapi sikapnya biasa saja, bahkan kadang lebih buruk. Orang yang percaya Tuhan seharusnya memiliki kompas moral dari Sang Pencipta, yang menuntun ke kebaikan mutlak. Al-Qur'an menyebut manusia sebagai khalifah di bumi, Alkitab bicara tentang garam dan terang dunia, Veda menekankan dharma. Keyakinan ini harus membedakan: sikap lebih lembut, sukses lebih gemilang, dan dampak lebih positif dalam kehidupan.
Logikanya sederhana, Tuhan itu Maha Benar dan menyuruh manusia berbuat benar maka pengikut-Nya harus mencerminkan kebenaran itu. Bukan berarti harus sempurna, tapi berusaha semaksimal mungkin untuk selalu unggul. Sukses bukan hanya materi, tetapi juga kesehatan jiwa, hubungan harmonis, dan kontribusi sosial harus sukses. Orang bertuhan harus lebih tangguh dalam menghadapi cobaan, lebih kreatif dalam berinovasi, dan lebih dermawan berbagi daripada yang tidak bertuhan. Kaum ateis yang mengandalkan rasio semata tidak mungkin bisa sukses duniawi melebihi kaum yang bertuhan jika kaum bertuhan benar-benar menjalankan aturan Tuhan. Tapi jika mereka melanggar aturan Tuhan maka kegagalanlah yang pasti mereka temui.
Sebagai ilustrasi: orang bertuhan seharusnya tak pernah korupsi, karena Tuhan Maha Melihat. Ia bekerja jujur, inovatif, dan etis, sehingga kemajuan datang secara alami. Sementara yang tak bertuhan mungkin curang demi cepat kaya, tapi akhirnya terjerat skandal dan dimurkai Tuhan. Di segala aspek : keluarga, bisnis, politik, orang bertuhan harusmya jauh lebih baik dari yang tidak bertuhan. Keluarganya utuh, anak-anaknya berakhlak, persahabatannya abadi, betetangga baik, satu kantor baik, satu kampung saling membaiki, saling menolong dan saling melindungi. Ia indah bergaul karena penuh empati, tak pernah saling menjelekkan, selalu saling mendukung dalam kebaikan. Kompaknya luar biasa: tak ada gosip, tak iri hati atau pengkhianatan. Bayangkan komunitas masjid, gereja, atau pura yang benar-benar solid : bukan sekadar rutinitas, tapi kekuatan sosial yang menggerakkan perubahan. Peperangan? Kekacauan? Itu anathema bagi orang bertuhan sejati, karena Tuhan mengajarkan perdamaian. Seharusnya tidak akan ada peperangan antar orang yang beragama apalagi dengan yang seagama. Seharusnya orang bertuhan itu menjadi pelindung dunia, mengajak pada yang tidak bertuhan untuk hidup damai penuh sejahtera.
Negara bertuhan sebaiknya menjaga kekompakan dalam menciptakan kehidupan yang dirahmati Allah, Tuhan Yang Maha Esa, bukannya saling memerangi atau saling membunuh dan saling menghancurkan.
Lebih khusus lagi, di kalangan beragama sendiri ada gradasi: yang rajin sholat (atau ibadah setara) harusnya jauh lebih baik daripada yang malas. Sholat bukan gerakan kosong, tapi reset hati setiap hari: membersihkan nafsu, menyalakan nurani. Orang rajin sholat seharusnya lebih sabar di macet, lebih ikhlas saat rugi, lebih adil saat berkuasa, lebih bijak dalam membina umat. Sikapnya tenang, keputusannya bijak, suksesnya berkelanjutan dan untuk semuanya.
Selanjutnya, kepada yang malas sholat diajaknya untuk pergi ke masjid bukannya menyakitinya dengan kata-kata atau menyindirnya.
Tidak bisa diragukan lagi: studi psikologi menunjukkan bahwa orang bertuhan yang rajin melakukan meditasi atau doa rutin emiliki ketahanan mental yang kuat, kurang mengalami stres, dan produktivitas mereka meningkat. Orang beragama yang taat harus tunjukkan perbedaan nyata dirinya dengan yang tidak beragama: tidak menipu, tidak bermaksiat dan memfasilitasi maksiat, tidak melakukan kecurangan.
Membunuh? Mustahil, karena nyawa suci milik Tuhan. Negara bertuhan seperti Indonesia dengan Pancasilanya seharusnya jauh lebih baik dari negara lain yang tidak bertuhan: tidak ada tempat maksiat legal seperti kasino atau prostitusi, tidak ada kesempatan untuk mencuri atau merampok karena pengawasan moral kuat, dan hukum ditegakkan atas nama keadilan ilahi dan semua merasa malu atau takut berbuat yang dilarang Tuhan.
Mengapa kenyataan hari ini mengecewakan? Banyak pejabat berjubah sorban atau berkerah putih yang korupsi miliaran atau ditengarai melakukan pemalsuan data . Bayangkan, jika ada pedagang muslim yang nipu timbangan atau umat kristen yang gosip jemaat atau menggunjing umat sesama bertuhan lainnya. Mereka mengaku bertuhan, tapi sikapnya sangat melukai hati, sangat jauh dari perintah Tuhan. Mereka seolah tidak sadar bagaimana sebaiknya bersikap sebagai manusia bertuhan. Ini terjadi karena iman tak diamalkan dalam bentuk kesadaran atau aturan Tuhan tidak dijalankan sebagaimana mestinya dengan penuh kesadaran.
Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." Nabi Isa ajarkan kasih tanpa pamrih. Jika orang bertuhan kalah sukses dari orang yang tidak bertuhan, itu bukan karena Tuhannya, tapi pengikut-Nya lemah dan tidak mengikuti aturan Tuhan yang telah digariskan. Negara bertuhan seperti Iran atau Arab Saudi punya kekayaan, sebaiknya tak ada korupsi dan konflik internal di dalamnya, seharusnya mereka kompak bersatu dan membangun dunia muslim lainnya dengan kekayaan itu. Begitu pula Amerika dan Israel sebagai umat bertuhan sebaiknya tidak mengganggu negara-negara lain dengan segala macam tipu dayanya. Justeru, sebaliknya, sebaiknya Iran, Arab, dan Amerikas Serikat sebagai negara bertuhan menjalin pesatuan dan persaudaraan dalam membangun peradaban dunia, bukannya saling menghancurkan. Israel sebagai negara yang merampas wilayah kaum muslimin sebaiknya mengembalikan semua wilayah yang sudah dirampasnya itu.
Sebaiknya di antara negara bertuhan itu tidak ada saling menyerang dan saling membunuh. Sebaliknya, sebaiknya mereka jadi contoh yang mempelopori perdamaian dunia dan kemajuan dunia.
Sadarilah, wahai saudara-saudari pecinta Tuhan! Hari Pendidikan 2 Mei 2026 adalah panggilan untuk introspeksi.
Jangan biarkan agama jadi alasan untuk malas: "Tuhan yang ngasih," sambil tangan diam. Bertuhanalah dengan benar dengan usaha keras : belajar giat, kerja inovatif, bertolong-tolongan yang rutin dan saling menopang. Tunjukkan perbedaan nyata: saat orang tak bertuhan marah di forum online, kita sebagai orang bertuhan meresponnya dengan bijak. Saat kompetisi ketat, kita menang secara jujur jauh dari kong kalikong. Persatuan umat beragama harus jadi magnet: kompak yang indah, misal saling bantu korban bencana, solid bentengi anak muda dari narkoba dan prilaku negatif lainnya.
Umat beragama: enak dan indah dalam bergaul, senyum ramah, saling bantu antar tetangga, saling memaafkan sekalipun itu dulunya musuh. Tak ada peperangan atas nama agama, tak ada kekacauan karena fanatisme buta. Negara kita, dengan "Ketuhanan Yang Maha Esanya", bisa jadi contoh: sekolah mulai doa tapi tetap ajarkan sains mutakhir, masjid jadi pusat ibadah dan kewirausahaan, gereja dorong lingkungan hijau dan persaudaraan.
Semua hidup rukun dan bisa jadi contoh bagi umat yang tidak beragama
Bayangkan masa depan: anak muda bertuhan yang sukses startup tapi sholat tepat waktu selalu di masjid, dokter muslim yang tak ambil suap, guru kristen yang inspiratif tanpa diskriminasi. Mereka unggul di segala aspek : karier cemerlang, keluarga bahagia, masyarakat damai dan anak-anak kompak bersatu membangun dunia. Orang tak bertuhan akan kagum, "Ini kekuatan iman!" Mulai hari ini, perbaiki sikap: kurangi gosip, tingkatkan ilmu, sebarkan kebaikan. Rajin ibadah bukan beban, tapi booster sukses.
Negara bertuhan tak lagi bangun gedung apalagi undang-undang maksiat : ganti diskotik atau pub dengan festival seni yang memajukan kreativitas umat beragaman, pasar gelap ganti dengan pasar amal.
Kesimpulannya, orang bertuhan harus jauh lebih baik dari orang yang tidak bertuhan : sukses materi dan rohani, sikap penuh keteladanan dan selalu memberi dampak positif. Bukan sombong, tapi tanggung jawab. Jika tak berbeda atau malah lebih buruk, itu aib besar: berarti gagal menjadi orang beragama, dan itu berarti mencela Tuhan. Sadarlah di momentum Hari Pendidikan ini! Sebagai manusia bertuhan dan beragama, jadilah manusia unggul: indah dalam bergaul, kompak solid, damai abadi. Buktikan bahwa iman kepada Tuhan bukanlah beban tetapi kekuatan dan sayap menuju puncak kejayaan. Wahai pecinta Tuhan, bangkitlah : dunia menanti cahayamu!
Posting Komentar untuk "Pendidikan Berketuhanan: Jadilah Unggul, Bukan Hanya Mengaku!"