Budaya dan Tradisi Orang Barru dalam Napas Pancasila


           Catatan, Syam M. Djafar

Setiap 1 Juni, kita semua kembali diingatkan. Hari Lahir Pancasila bukan sekadar tanggal di kalender. Ia momen untuk menata hati, meneguhkan lagi bahwa kita bangsa besar karena mau hidup berdampingan dalam beda.

Di Kabupaten Barru, Pancasila tidak berhenti di teks upacara atau hafalan anak sekolah. Ia hidup. Ia tumbuh bersama kita, di dapur, di kebun, di pesisir, di masjid, dan di setiap sapaan warga.

Sejak dulu, orang Barru memegang erat ajaran leluhur: sipakatau, sipakalebbi, sipakainge. Saling memanusiakan, saling memuliakan, saling mengingatkan dalam kebaikan. Tiga kata sederhana itu yang membuat desa tetap hangat, meski pilihan politik kadang memisahkan.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, terasa paling dekat di sini. Dari azan Subuh yang bersahutan di menara masjid, doa bersama saat hajatan, sampai tradisi syukuran panen, semuanya bicara satu hal: hidup kita bersandar pada Tuhan dan rasa syukur.

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tumbuh dari sipakatau. Di Barru, menghormati orang tua bukan beban, membimbing yang muda bukan kewajiban, menyambut tamu bukan formalitas. Itu identitas kita. Itu siri’ na pacce—rasa malu berbuat buruk dan rasa peduli pada sesama.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, kita jaga setiap hari. Barru membentang dari gunung ke laut. Karakter dan cara hidupnya berbeda, tapi langkahnya satu. Gotong royong masih hidup. Kerja bakti kampung masih ramai. Saat tetangga berduka, rumah lain sepi. Saat ada yang bahagia, satu kampung ikut tersenyum.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, sejak lama kita jalani lewat  tudang sipulung, duduk bersama, ngobrol pelan, dengar semua suara, lalu putuskan yang terbaik untuk semua. Tidak ada yang paling keras, yang ada yang paling bijak.

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, nyata dalam keseharian. Ada musibah, semua datang. Ada rezeki, semua berbagi. Karena orang Barru percaya, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita: nilai kebangsaan itu tidak jauh. Ia sudah lama tinggal di rumah kita, di adat kita, di cara kita memperlakukan orang lain.

Di Barru, Pancasila tidak hanya diucapkan. Ia dijalani. Ia dirawat dalam budaya, dijaga dalam tradisi, dan diteruskan lewat kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari.

Budaya menjaga warisan leluhur. Pancasila memberi arah perjalanan bangsa. Keduanya menyatu, menjadi jati diri orang Barru (To Berru) yang tetap relevan di zaman apa pun.

Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026.  

Semoga nilai Pancasila terus hidup dalam budaya To Berru, tumbuh lewat kebersamaan, dan menguatkan Indonesia dari daerah.  

Salamakki tapada salama’. 

Barru, 1 Juni 2026  

  

Posting Komentar untuk "Budaya dan Tradisi Orang Barru dalam Napas Pancasila"