Oleh: Sudarto, Dosen Universitas Negeri Makassar
Di negeri kita yang bhineka tunggal ika ini, toleransi antarumat beragama bukanlah sekadar slogan, melainkan napas sehari-hari yang menjaga denyut nadi persaudaraan dan persatuan.
Di sebuah desa, di mana masjid dan gereja berdampingan, suara adzan bercampur lonceng minggu pagi, dan warga saling sahur saat Ramadan atau berbagi kue di hari Natal. Itulah contoh suka cita menjalin toleransi: rasa kebersamaan yang menghangatkan dada, memperkaya jiwa, dan membuktikan bahwa perbedaan agama justru jadi mozaik indah bangsa kita.
Namun, duka datang ketika tutur kata sembarangan di depan umum yang memicu ketersinggungan SARA (suku, agama, ras, antargolongan) seperti bara kecil yang menyulut api perselisihan dan perpecahan. Perlunya kehati-hatian dalam berbicara bukanlah pembatasan kebebasan, melainkan benteng persaudaraan dan kedamaian. Mari kita renungkan suka dukanya, agar omongan kita jadi jembatan persaudaraan dan persatuan, bukan jurang pemisahan atau perpecahan.
Suka Duka Toleransi: Harmoni yang Terjalin dari Hati.
Toleransi beragama di Indonesia punya cerita manis yang tak lekang oleh waktu. Ingat gotong royong membangun rumah ibadah bersama? Di Lombok, misalnya, umat Hindu, Keristen dan Muslim bergotong royong membangun pura, gereja dan masjid, saling bahu-membahu angkat batu dan aduk semen. Itu bukan sekadar kerja fisik, tapi ikatan emosional yang lahir dari pengakuan: "Kita berbeda, tapi satu tujuan : kebaikan bersama."
Suka duka pertama ini mengajarkan bahwa toleransi bukan kelemahan, melainkan kekuatan kolektif.
Lihat pula tradisi unik seperti "nyadran" di Jawa, di mana warga lintas agama membersihkan makam leluhur. Kristen, Islam, Hindu : semua turun tangan, sambil berbagi tumpeng dan ketupat. Saat itu, batas agama tak terlihat lagi, digantikan oleh rasa persaudaraan yang indah.
Penelitian dari Kementerian Agama menunjukkan, 80 persen masyarakat kita merasakan kedamaian dari interaksi antarumat seperti ini. Toleransi bukan soal setuju sepenuhnya, tapi saling menghargai ruang hidup masing-masing. Ia lahir dari pendidikan keluarga, sekolah, hingga komunitas, menciptakan generasi yang melihat perbedaan sebagai warna pelangi, bukan ancaman.
Duka muncul ketika toleransi ini diuji oleh ujaran kebencian. Kasus Bom Bali 2002 atau kerusuhan Ambon 1999 mengingatkan: retaknya toleransi sering dimulai dari kata-kata pedas yang tak terkendali. Tapi, justru dari duka itu kita belajar. Komunitas lintas agama bangkit lebih kuat, membentuk forum dialog seperti FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), yang jadi penjaga harmoni. Suka dukanya saling melengkapi, mengajarkan bahwa toleransi adalah perjalanan panjang, penuh liku tapi berbuah manis.
Jebakan Tutur Kata: Dari Ketersinggungan SARA ke Keretakan Persatuan
Kini, mari kita bicara inti masalahnya: kehati-hatian berbicara di depan umum. Di era media sosial dan mikrofon podcast atau di mimbar umum, setiap kata bisa viral dalam hitungan detik. Sebuah guyonan ringan atau sekedar lucu-lucuan tentang agama atau suku bisa jadi bom waktu jika tak hati-hati.
Ingat kasus ujaran SARA yang marak belakangan? Seorang tokoh publik menyebut "mereka" dengan nada merendahkan, dan voila : demo, boikot, bahkan tuntutan hukum. Bukan karena kata itu salah total, tapi konteksnya menyulut emosi tersembunyi.
Mengapa ketersinggungan SARA begitu rawan? Karena agama dan suku adalah identitas inti manusia. Psikologi sosial bilang, ketika identitas terancam atau terusik, otak kita aktifkan mode bertahan hidup : emosi meledak, rasional pun mati. Di depan umum, kita sering lupa: audiens bukan satu suara atau satu pemahaman. Ada yang sensitif, ada yang cuek. Sebuah studi dari sebuh universitas ternama Indonesia menemukan bahwa enam puluh lima persen konflik SARA dimulai dari pidato atau postingan yang "kurang hati-hati bicara". Kata seperti "monyet", "radikal", atau stereotip suku bisa terasa seperti pukulan yang menyakitkan, meski sebenarnya niatnya hanyalah untuk candaan.
Demi persaudaran dan persatuan, janganlah seenaknya berbicara. Pikirkan matang-matang sebelum bicara: Apa dampak kata ini bagi yang mendengar? Apakah ia menyakiti hati atau mengungkap luka lama? Sejarah kita penuh pelajaran. Soekarno dengan Pancasila-nya menekankan gotong royong antaragama, justru karena ia tahu kata-kata bisa memecah atau menyatukan. Saat berpidato, tanyakan diri: "Apakah ini membangun atau merobohkan?" Narasi enak dibaca bukan soal sensor diri, tapi seni memilih kata yang empati. Hindari generalisasi seperti "semua umat X begitu", ganti dengan "beberapa kasus menunjukkan bahwa …..". Hasilnya? Diskusi produktif, bukan perang kata.
Jangan Mudah Terpancing: Bijak Hadapi Emosi
Di sisi lain, kita juga jangan mudah tersulut emosi. Ini poin krusialnya: toleransi dua arah. Saat mendengar omongan yang mengganjal, jangan juga langsung meledak. Pikirkan secara matang! Mungkinkah salah paham? Konteknya apa? Sebuah riset psikologi dari Harvard bilang, tujuh puluh persen konflik emosional lahir dari interpretasi buruk dan gegabah. Ingat kasus viral di mana ucapan "selamat Natal" dituduh memaki Islam? Ternyata itu hoax, tapi emosi sudah membara.
Segalanya harus dipikir matang. Jangan sampai salah kaprah terhadap omongan orang. Ketika tersinggung, ambil napas dalam, verifikasi fakta, lalu respons dengan tenang. Ini bukan menelan mentah-mentah, tapi strategi cerdas. Contoh indah: Dialog antaragama di Poso pasca-konflik. Alih-alih balas dendam verbal, warga malah lebih memilih maaf-maafan dan berdamai. Hasilnya, Poso kini simbol rekonsiliasi.
Hati-hati, jangan cepat tersulut emosi. Emosi adalah api yang bagus untuk semangat, tapi buruk jika liar tak terkendali. Latih mindfulness: hitung sampai 10 sebelum komentar. Di depan umum, jadilah teladan. Guru, ustadz, pendeta, tokoh, pemimpin wilayah : mereka punya tanggung jawab ekstra untuk selalu hati-hati. Sebuah survei Komnas HAM mnunjukkan, empat puluh persen generasi muda terpancing SARA karena teladan buruk dari figur publik.
Menuju Narasi Persaudaraan: Langkah Konkret
Bagaimana mewujudkannya? Pertama, edukasi tutur kata sejak dini. Masukkan pelajaran empati dan komunikasi lintas budaya di kurikulum sekolah. Kedua, platform digital butuh filter Media dan aplikasi cerdas untuk deteksi ujaran SARA dini. Ketiga, bangun budaya dialog rutin di RT/RW, seperti arisan silaturahmi antaragama. Keempat, hukum tegas bagi pelaku provokasi yang sengaja, tapi beri ruang koreksi bagi yang khilaf.
Bayangkan Indonesia di mana setiap pidato berakhir dengan pesan persatuan. Di mana suka duka toleransi jadi cerita inspirasi, bukan trauma. Tutur kata hati-hati bukan beban, tapi investasi masa depan. Seperti pohon beringin yang akarnya saling bertautan, begitu pula kita: berbeda cabang, satu akar : Pancasila.
Mari, mulai dari diri sendiri. Sebelum bicara di depan umum, tanya hati: "Apakah kata ini menyatukan atau memicu perpecahan?" Jangan sampai salah kaprah, jangan cepat emosi. Dengan kehati-hatian, suka toleransi akan lebih banyak daripada dukanya. Persatuan dan persaudaraan kita di ujung tanduk : tutur kata kita adalah penyelamatnya. Bersama, kita jaga Indonesia tetap harmoni, satu hati, satu bangsa.
Posting Komentar untuk "Tutur Kata : Bisa Memicu Perpecahan atau Menjadi Lem Perekat Persaudaraan dan Persatuan"