Di tahun pertama kepemimpinan, Andi Ina Kartika Sari bersama Wakil Bupati Abustan A. Bintang memilih bekerja dalam senyap, menata yang mendasar, dan mempercepat yang mendesak.
Tidak semua perubahan terlihat seketika, tetapi angka-angka mulai berbicara, pelan namun pasti.
Pada 2025, kualitas hidup warga Barru menunjukkan penguatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) bergerak naik ke 75,41. Ini bukan sekadar statistik; ia adalah cermin dari anak-anak yang lebih lama bersekolah, akses layanan kesehatan yang semakin dekat, dan daya beli yang perlahan membaik.
Di sisi lain, ketimpangan terjaga pada level yang relatif rendah, memberi sinyal bahwa pertumbuhan tidak hanya dinikmati segelintir orang.
Di dapur kesejahteraan, kerja-kerja yang sering luput dari sorotan justru menjadi fondasi. Angka kemiskinan turun ke 8,31 persen, sebuah pergeseran yang lahir dari kombinasi perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran, penguatan UMKM, hingga dorongan produktivitas sektor pertanian dan perikanan. Program tidak berhenti pada bantuan, tetapi diarahkan pada kemandirian.
Pasar kerja pun bergerak. Tingkat Pengangguran Terbuka menyusut menjadi 6,42 persen. Pemerintah daerah mengakselerasi pelatihan berbasis kompetensi, menghubungkan kebutuhan industri dengan keterampilan tenaga kerja, sekaligus membuka ruang-ruang usaha baru melalui kewirausahaan lokal. Bagi banyak keluarga, ini berarti satu hal sederhana: ada penghasilan yang lebih pasti.
Di atas fondasi sosial itu, mesin ekonomi dijalankan. Pertumbuhan ekonomi tercatat 4,03 persen. Angka ini ditopang oleh geliat sektor riil, perbaikan iklim usaha, dan pembangunan infrastruktur yang mulai terasa dampaknya. Jalan yang lebih layak, konektivitas yang lebih baik, dan layanan dasar yang semakin mudah dijangkau menjadi pengungkit aktivitas ekonomi masyarakat.
Tak berhenti di situ, arah kebijakan juga diarahkan pada daya saing jangka panjang. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, serta keberpihakan pada layanan publik menjadi benang merah yang mengikat berbagai program.
Hasilnya mulai terlihat lewat deretan penghargaan dari pemerintah pusat dan lembaga independen, bukan sebagai tujuan akhir, melainkan penanda bahwa jalur yang ditempuh berada di koridor yang tepat.
Namun capaian setahun ini bukan garis finish. Ia adalah pijakan. Masih ada pekerjaan rumah: memperkecil kantong-kantong kemiskinan, menjaga stabilitas harga, memperluas kesempatan kerja, dan memastikan pembangunan menjangkau hingga ke desa-desa terluar.
Andi Ina–Abustan tampak memahami satu hal: membangun daerah bukan sekadar menumpuk program, tetapi merawat kepercayaan. Dan di tahun pertama ini, Barru mulai melihat bahwa kepercayaan itu dijawab dengan kerja yang hasilnya kini mulai terasa, dan diharapkan terus bertumbuh.
Dari pelantikan di Istana Negara oleh Presiden Prabowo Subianto 20 Maret 2025 hingga kerja-kerja di lapangan, satu tahun pertama Andi Ina–Abustan memberi pesan yang cukup jelas: mandat tidak berhenti pada seremoni, tetapi diterjemahkan dalam kerja nyata. Barru pun mulai merasakan arah yang dituju, pelan namun semakin pasti.(syam)
Posting Komentar untuk "Setahun Menganyam Hasil: Jejak Kerja Andi Ina–Abustan untuk Barru"