Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Otonomi Daerah ke-30 adalah cermin dari keringat para petani di sawah, harapan para nelayan di pesisir Sumpang Binangae, dan mimpi anak-anak sekolah yang mengejar cita-cita di bawah langit Barru yang teduh.Kita telah melihat bagaimana kebijakan kini tak lagi berjarak. Keputusan diambil di bawah atap kita sendiri, untuk kepentingan perut dan hati rakyat kita sendiri.
Dari pelabuhan yang kini kian sibuk hingga desa-desa yang mulai bersolek mandiri, Barru sedang membuktikan bahwa jarak dengan pusat bukanlah penghalang untuk menjadi hebat.
Namun, otonomi bukan hanya soal angka pertumbuhan atau megahnya gedung perkantoran. Makna terdalamnya ada pada senyum warga yang merasa terlayani, pada rasa aman yang menyelimuti setiap sudut daerah, dan pada kedaulatan kita untuk menentukan arah masa depan.
Di usia ke-30 ini, mari kita kirimkan doa terbaik. Semoga Barru tidak hanya tumbuh secara fisik, tapi juga mekar secara batin. Semoga para pemimpin kita tetap rendah hati membumi, dan rakyat kita tetap kokoh bersatu dalam semangat Yassiberrui.
Selamat Hari Otonomi Daerah. Dari Barru, untuk Indonesia yang lebih bermartabat.
Barru, 27 April 2026
Posting Komentar untuk "Tiga Dekade Menjemput Mandiri: Catatan untuk Barru (Doa yang Selalu Terpanjatkan) "