Tak Sekadar Basah, Wakil Bupati Barru Menemukan Kebersamaan di Balik Guyuran Air Paenge

Di Desa Siawung, Kecamatan Barru musim panen tak hanya ditandai oleh lumbung yang terisi, tetapi juga oleh tawa yang berpendar di antara percik air.

Pesta Adat Paenge hadir sebagai perayaan yang hidup, bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan syukur yang diwariskan lintas generasi. Dalam irama tradisi itu, masyarakat berkumpul dan menyatu dalam satu bahasa: kebersamaan.

Di pintu gerbang, sebuah tulisan sederhana seolah menjadi “peringatan” sekaligus undangan: “Berani masuk, berani basah.” Kalimat itu bukan sekadar gurauan, melainkan penanda bahwa siapa pun yang melangkah ke dalam arena Paenge harus siap menjadi bagian dari tradisi larut dalam percik air, tawa, dan keakraban tanpa sekat.

Salah satu prosesi paling khas adalah saling menyiram air (majjimpo-himpo :bahasa bugis) . Dari anak-anak hingga orang tua, dari warga hingga tamu, semua hanyut dalam suasana riang. Air yang dipercikkan bukan sekadar permainan; ia menyimpan makna penyucian, harapan akan kesuburan, serta doa agar kehidupan terus mengalir dengan berkah.

Di tengah riuh itu, Wakil Bupati Barru Abustan Andi Bintang tak luput dari sasaran. Guyuran air datang bertubi-tubi, membasahi dari kepala hingga ujung kaki. Dalam sekejap, ia benar-benar basah kuyup, namun tetap berdiri, tersenyum, bahkan tampak pasrah menikmati setiap percikan. Tak ada upaya menghindar. Ia larut, menjadi bagian dari tradisi, menyatu dalam tawa warga yang mengelilinginya.

Momen itu seolah menghapus sekat. Jabatan tak lagi terlihat, yang tersisa hanyalah kebersamaan antara pemimpin dan masyarakat yang berdiri dalam ruang yang sama, diguyur air yang sama, dan berbagi kegembiraan yang sama.

Paenge menunjukkan bahwa tradisi bisa hadir dalam kesederhanaan, namun sarat makna. Dalam setiap siraman, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga harmoni dengan alam dan sesama sebuah kearifan lokal yang lahir dari relasi manusia dengan tanah yang memberi kehidupan.

Tak heran jika Pesta Adat Paenge ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Barru. Pengakuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengingat bahwa identitas budaya harus dijaga, dirawat, dan diwariskan.

Di tengah arus modernisasi, Paenge yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Kabupaten Barru tetap berdiri sebagai jangkar menautkan masa lalu dengan masa kini.

Dan selama nilai gotong royong, rasa syukur, serta kebersamaan terus hidup, tradisi ini akan tetap mengalir seperti air yang tadi mengguyur, sederhana, namun penuh makna. (syam m. djafar) 

Posting Komentar untuk "Tak Sekadar Basah, Wakil Bupati Barru Menemukan Kebersamaan di Balik Guyuran Air Paenge"