Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan dzikir dan doa dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Barru kabupaten Barru ke-66 tahun 2026.
Lantunan doa mengalun pelan, menyatu dengan harap yang menggantung di setiap hati yang hadir.
Namun di tengah kekhusyukan itu, ada satu hal yang terasa berbeda, suara azan yang menggema bukan datang dari sosok yang lazim dikenal sebagai tokoh agama.Di balik pengeras suara itu, berdiri Andriansyah.
Sosok yang selama ini lebih akrab terlihat memanggul kamera, bergerak lincah mengabadikan setiap momen pimpinan daerah. Hari itu, ia mengambil peran lain, menjadi muazin.
Bagi sebagian orang, momen itu mungkin menghadirkan kejutan kecil. Andriansyah bukan nama yang biasanya dikaitkan dengan peran-peran keagamaan dalam seremoni resmi.
Ia dikenal sebagai bagian dari tim protokol, seorang fotografer yang setia menangkap detik demi detik aktivitas pemerintahan. Namun petang itu saat waktu shalat tiba, ia berdiri di titik yang berbeda, mengisi ruang spiritual dalam sebuah acara yang sarat makna.
Lantunan azan dikumandangkan dengan fasih dan jelas. Tidak ada yang berubah dari substansi ibadahnya. Secara syariat, siapa pun yang memenuhi syarat dapat menjadi muazin. Dan Andriansyah menjalankan peran itu dengan tenang, tanpa gestur berlebihan, seolah sedang mengerjakan tugas lain yang juga pernah ia tekuni dalam diam.
Di sisi lain, momen ini menghadirkan ruang refleksi. Dalam acara resmi yang menyatukan unsur pemerintahan dan nilai-nilai religius, publik kerap memiliki ekspektasi tersendiri. Peran imam, muazin, hingga pembaca doa biasanya dilekatkan pada figur yang dikenal dalam bidang keagamaan.
Bukan semata soal kemampuan, tetapi juga tentang simbol dan kepantasan dalam menjaga kekhidmatan.
Apa yang terjadi di Baruga Singkerru AdaE, Rujab Bupati dimana dzikir dan doa dilaksanakan malam itu seperti membuka satu sudut pandang lain, bahwa di balik peran-peran formal yang selama ini terkotak rapi, ada kemungkinan-kemungkinan yang kadang muncul di luar dugaan.
Bisa karena kebutuhan, spontanitas, atau mungkin karena ada sisi lain dari seseorang yang selama ini tidak banyak diketahui. Bagi Andriansyah, momen itu mungkin hanya sepintas peran yang ia jalankan di sela tugas utamanya.
Namun bagi yang menyaksikan, itu menjadi potongan cerita kecil yang memberi warna berbeda dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Jadi Barru. Tentang bagaimana sebuah acara resmi tidak hanya diisi oleh simbol-simbol yang baku, tetapi juga oleh dinamika manusia di dalamnya.
Di ujung acara, aktivitas kembali berjalan seperti biasa. Kamera kembali terangkat, momen demi momen kembali dibekukan dalam bingkai. Andriansyah pun kembali ke perannya yang dikenal banyak orang sebagai fotografer.
Namun gema azan itu, untuk sesaat telah menempatkannya di ruang yang berbeda, ruang yang mengingatkan bahwa di balik setiap peran, selalu ada sisi lain yang kadang tak terduga.(syam)
Posting Komentar untuk "Sejenak Meletakkan Kamera: Andriansyah Mengisi Ruang Sunyi dengan Azan "