Melangkah dengan Jejak yang Tertinggal: Kisah 17 Tahun Ipda Ameruddin di Barru


Barru —B88News. Id- Pagi itu di Mako Polres Barru terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni kenal pamit biasa, tetapi perpisahan yang menyisakan haru. Di antara barisan rekan dan seniornya, Ipda Ameruddin berdiri dengan mata yang tak sepenuhnya bisa menyembunyikan perasaan.

Setelah 17 tahun mengabdi, ia harus melangkah pergi, meninggalkan tempat yang sudah ia anggap sebagai rumah.

Bagi sebagian orang, mutasi adalah hal biasa dalam dunia kepolisian. Namun bagi Ipda Ameruddin, Barru bukan sekadar titik penugasan. Sejak pertama kali menginjakkan kaki pada 2009, ia tumbuh, belajar, dan mengukir pengabdian di tanah ini. Jalan-jalan yang dulu ia patroli kini menyimpan cerita, dan masyarakat yang dulu ia layani telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Sebagai Perwira Pertama di Satuan Lalu Lintas Polres Barru, Ameruddin dikenal bukan hanya karena seragamnya, tetapi karena pendekatannya yang membumi. Ia memilih jalan persuasif dalam menertibkan balap liar, terutama saat bulan Ramadan, masa yang rawan pelanggaran di jalan raya. 

Bukan dengan semata penindakan, tetapi dengan komunikasi dan pendekatan kepada para remaja, ia berhasil meredam gejolak yang kerap muncul setiap tahun.

Di mata masyarakat, ia adalah sosok polisi yang mudah dijangkau. Respons cepat terhadap laporan kejadian di jalan raya membuat namanya akrab di telinga warga. Ia tidak menunggu situasi membesar, tetapi hadir lebih awal menjadi bagian dari solusi.

Namun perjalanan panjang itu kini memasuki babak baru. Berdasarkan Surat Telegram, Ipda Ameruddin resmi mendapat amanah sebagai PAMA di Polrestabes Makassar. Sebuah langkah maju dalam karier, namun sekaligus ujian untuk meninggalkan kenyamanan yang telah lama ia bangun.

Sebenarnya berat hati untuk meninggalkan Barru. Saya di sini dari tahun 2009 sampai 2026. Sangat susah keluar dari zona nyaman, apalagi dengan kepemimpinan Bapak Kapolres yang luar biasa dan rekan-rekan yang sudah seperti keluarga sendiri,” tuturnya lirih.

Ia tak menampik, banyak rekan yang menyayangkan kepindahannya. Posisi yang sudah mapan dan lingkungan kerja yang hangat membuat Barru terasa sulit ditinggalkan. Tapi sebagai Bhayangkara, sumpah jabatan adalah kompas yang tak bisa diabaikan. Perintah tugas adalah kehormatan yang harus dijalankan.

Di balik ketegasan dan dedikasinya sebagai aparat, Ameruddin juga adalah seorang kepala keluarga yang sederhana. Ia hidup bersama istrinya, Syahidah Kasim, S.Pt., M.Si., yang setia mendampingi perjalanan kariernya, serta buah hati mereka, Alifah Fakhri.

Baginya, keluarga menjadi sumber kekuatan yang tak terlihat, yang selalu menopang langkahnya dalam setiap penugasan, termasuk saat harus menerima mutasi ke tempat baru.

Di momen perpisahan itu pula, Ameruddin memilih merendah. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh senior dan rekan sejawat, menyadari bahwa selama belasan tahun pengabdian, tentu ada khilaf yang tak terhindarkan.

Lahir di Tolitoli, 4 Juli 1982, Ameruddin menapaki karier kepolisian sejak mengikuti DIKTUKBA Polri tahun 2006. Ia terus mengembangkan diri, menempuh pendidikan S1 pada 2006 dan S2 pada 2012, hingga mengikuti SETUKPA pada 2023. 

Pengalaman tugasnya pun beragam, mulai dari Polda Sulteng, Polda Sulsel, Polwil Parepare, hingga akhirnya mengabdi panjang di Polres Barru.

Dalam perjalanan itu, ia juga mencatatkan prestasi, di antaranya turut membackup pengungkapan kasus narkoba lintas provinsi serta membantu pengejaran tahanan kabur dari Polsek Mallusetasi yang akhirnya berhasil diamankan di Tolitoli, Polda Sulteng.

Kini, langkahnya berlanjut ke Makassar. Kota besar dengan dinamika yang berbeda, tantangan yang lebih kompleks, dan tanggung jawab yang semakin luas. Namun satu hal yang tak berubah, nilai pengabdian yang telah ia tanamkan sejak awal.

Barru 'mungkin'  akan kehilangan satu sosok yang selama ini hadir di setiap denyut jalan rayanya. Tapi jejak Ipda Ameruddin, S. Pd. M. Si, tak akan hilang begitu saja. Ia tinggal dalam ingatan masyarakat, dalam cerita rekan kerja, dan dalam perubahan kecil yang pernah ia ciptakan.

Dan bagi Ameruddin, Barru akan selalu menjadi rumah, tempat ia pernah belajar tentang arti pengabdian yang sesungguhnya. (syam) 

Posting Komentar untuk "Melangkah dengan Jejak yang Tertinggal: Kisah 17 Tahun Ipda Ameruddin di Barru"