Kartini di Kelas: Dari Hari Kenangan ke Hari Ini

       Oleh : Sudarto (Dosen PGSD FIP                     Universitas Negeri Makassar)

Di setiap bulan April, sejumlah sekolah di Indonesia kembali “berdandan” dengan warna kebanggaan: kebaya, jilbab, seragam putihabu, dan kadang lomba baca puisi Kartini. Di luar itu semua, ada satu pertanyaan yang jarang terjawab: apakah peringatan Hari Kartini masih menyentuh isi pendidikan hakiki, atau hanya menjadi gerak seremonial yang berulangulang tanpa nyawa hari ini?
Raden Adjeng Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, dari keluarga yang terbuka, keluarga priyayi . Ia bukan hanya seorang perempuan yang melawan kebiasaan, tetapi juga seorang pelajar sejati yang haus ilmu hakiki.

 Kartini menulis surat dalam bahasa Belanda kepada temantemannya di negeri itu, menceritakan keterbatasan perempuan Jawa, keinginan untuk belajar seperti para santri. Terbayangan di benaknya sekolah bagi perempuan yang  berpendidikan mandiri yang islami. Suratsurat itu kemudian dikumpulkan menjadi buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang menjadi landasan penting dalam memahami perjuangan pola pikir maju perempuan di Indonesia yang biasa dikenal emansipasi. Dari sejarah ini, seharusnya Hari Kartini tidak hanya dijadikan hari kostum atau hari lomba-lomba; ia harusnya menjadi cermin bagi pendidikan yang inklusif, berkeadilan, mandiri, berkemajuan, dan peningkatan jati diri.

Di sekolah, tradisi Hari Kartini sering kali berjalan begitu saja seolah tak berarti. Anakanak berdiri di depan kelas membaca puisi, beberapa guru menyiapkan poster “perempuan hebat”, hasil lomba mewarnai, dan upacara singkat yang dalam hitungan menit sudah selesai. Namun, jika kita menengok ke dalam: apakah anakanak benarbenar memahami siapa Kartini, atau hanya menghafal nama dan tanggal lahir Kartini? Apakah mereka merasa Hari Kartini itu “hidup” dalam hati, bukan sekadar hari yang datang dan pergi?
Salah satu implikasi penting Hari Kartini di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari adalah soal perlakuan perempuan dalam pembelajaran atau kehidupan untuk memahami.

 Kartini memperjuangkan hak perempuan untuk belajar secara luas, hakiki dan berjati diri, tetapi dalam kenyataan saat ini, di banyak sekolah atau kelas atau di ruang toko, nada guru atau pemilik toko masih sering menyakiti: siswi atau karyawti dilarang atau dibatasi untuk tampil sepenuh hati untuk menjalankan perintah Ilahi, misal: menutup aurat dengan pakaian rapi. Di sana, anak perempuan dicekal untuk tidak berani mengambil keputusan dengan berbagai intimidasi. 

Di sinilah Kartini seharusnya menjadi pegangan semua: ia bukan hanya simbol perempuan yang berjilbab, tetapi juga perempuan yang berpikir, menulis, berargumen, dan berani mempertanyakan fenomena sehari-hari.
Hari Kartini bisa menjadi jembatan bagi kurikulum nonformal di sekolah untuk diperbaiki: dari penggalan cerita yang membatasi dan menyakiti menjadi narasi yang melindungi dan menunjuki. Guru bisa mengajak siswa-siswi mendiskusikan: “Kalau Kartini hidup sekarang, apa yang akan ia perjuangkan di sekolah dan masyarakat yang paling beararti?” Pertanyaan ini membuka ruang untuk anakanak membayangkan sekolah yang tidak lagi membatasi apalagi menyakiti, tetapi sekolah yang menginspirasi, mengedukasi, menjembatani dan menunjuki jalan-jalan ke arah yang Allah ridhai.

Implikasi lainnya adalah soal belajar yang penuh empati. Kartini percaya bahwa ilmu adalah kunci kebebasan berkreasi. Ia tidak hanya menuntut hak untuk belajar mandiri, tetapi juga menunjukkan bahwa belajar tidak hanya di sekolah formal lalu berhenti. Ia membaca narasi, mengamati, dan menulis tentang dunia kini yang luas tak bertepi. Di kelas, ini bisa dimaknai sebagai dorongan agar siswa tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga rasa ingin tahu yang tinggi. Hari Kartini bisa menjadi momentum untuk memperkenalkan abad literasi: membaca buku biografi, mewawancarai perempuan yang berhasil di bidangnya sana-sini, atau menulis tentang siapa perempuan idola mereka dan alasan dibalik pilihan itu sebagai karya refleksi.

Di era digital, ada peluang baru untuk memperkaya makna Hari Kartini. Sekolah bisa mengajak siswa membuat podcast pendek mini, video dokumenter singkat penuh sensasi, atau majalah dinding beredisi dengan tema penuh inspirasi “PerempuanPerempuan di Sekolah Kami”. Di sini, Kartini bukan hanya nama di buku biografi, tetapi juga katalis untuk menggali sejarah lokal di berbagai negeri: bagaimana perempuan di desa, kota, atau kampus mereka ikut membangun komunitas, memimpin, dan mengubah di masa kini. Dengan cara ini, Hari Kartini tidak lagi menjadi “hari orang dulu”, tetapi menjadi “hari yang memaknai kehidupan hari ini”.

Masih banyak sekolah yang menghadapi tekanan waktu: kurikulum padat, ujian, dan target penilaian yang tinggi. Di samping itu, beberapa guru merasa Hari Kartini adalah “tambahan” yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan mata pelajaran utama sehari-hari. Namun, jika kita melihat Kartini sebagai sosok yang menuntut perubahan sistem karakter yang mengedukasi, maka Hari Kartini sesungguhnya adalah bagian dari pendidikan karakter itu sendiri. Tanpa pembahasan yang serius tentang kesetaraan, empati, dan keberanian untuk mandiri dan berdifrensiasi, pendidikan hanya akan menghasilkan peserta didik yang pintar meraih angka, tetapi gagal dalam meraih nilai.

Implikasi Hari Kartini di sekolah juga terasa di level kebijakan terkini. Di banyak daerah, sekolah masih menghadapi masalah institusi: akses anak perempuan yang belum memadai ke pendidikan menengah dan tinggi, beban domestik yang besar membebani, serta tekanan sosial berkaitan menikah dini. Di sini, peringatan Hari Kartini tidak bisa lagi hanya di poster dan lomba lalu berhenti, tetapi harus berkelanjutan menjadi program teruji: beasiswa-beasiswi, pendampingan akademik yang melindungi, pelatihan keterampilan yang menginspirasi, dan dialog orang tuaguru tentang pentingnya melanjutkan pendidikan perempuan di tingkat yang lebih tinggi. Jika Kartini adalah simbol perjuangan untuk membuka pintu sekolah bagi perempuan sampai ke level yang lebih tinggi, maka sekolah hari ini harus menjadi rumah yang benarbenar membuka ruang bagi semua anak ibu pertiwi:  anak putra dan anak putri.
Di ujungnya, tantangan terbesar Hari Kartini di sekolah adalah soal konsistensi.

 Hari ini anakanak memakai kebaya yang rapi, esoknya mereka ke kelas yang sama kembali, dengan guru yang tetap seperti, dengan stereotip yang sama pasti. Jika tidak ada upaya serius untuk mengubah opini, maka Kartini hanya akan menjadi nama yang dikenang setahun sekali, bukan inspirasi yang hidup setiap hari. Sebaliknya, ketika Hari Kartini dijadikan momentum untuk memperbaiki cara berbicara, mengajar, dan menilai, maka Kartini akan kembali hadir dalam setiap keputusan kecil yang guru ambil di kelas penuh arti..
Hari Kartini di sekolah seharusnya bukan hanya tentang memakai baju tradisional, tetapi tentang memaknai kembali tujuan pendidikan: membentuk manusia yang berani berpikir, berani berbeda, dan tidak takut membela keadilan dan kebenaran yang berasal dari Ilahi. 

Ketika seorang siswa lakilaki merasa nyaman menangis ketika sedih, ketika seorang siswi perempuan merasa aman memilih matematika sebagai jurusan favoritnya, dan ketika semua anak belajar bahwa kekuatan tidak dilihat dari jenis kelamin tetapi dari integritas dan keberanian, maka Kartini tidak lagi hanya nama di kalender abadi, ia sudah menjadi napas pendidikan yang bernama keadilan sejati.

Posting Komentar untuk "Kartini di Kelas: Dari Hari Kenangan ke Hari Ini"