Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Ramadhan 1447 H di mana-mana masjid penuh sesak, jamaah berdesakan menanti petuah malam. Pendakwah naik mimbar dengan suara menggelegar, lantang dan menggetarkan dinding: "Api neraka membakar kulit manusia, mengelupas lapis demi lapis, lalu tumbuh kembali untuk dibakar lagi! Tujuh puluh ribu malaikat seret orang kafir dengan rantai besi panas yang membelah tulang!" Jamaah bergidik, ada yang menutup telinga layaknya anak kecil, wajah-wajah pucat menyaksikan gambaran mengerikan itu.
Tapi begitu azan Subuh menggema lembut, aliran jamaah tak ada yang menuju ke masjid saat keluar dari rumah mereka. Tapi malah berhamburan menuju ke kedai kopi pinggir jalan untuk temu tanya sembari sruput kopi pahit. Bukan karena lapar yang tak tertahankan, tapi karena bingung. Seorang bapak paruh baya bertanya lirih ke tukang kopi, "Mas, gini-gini itu masuk neraka kata pak Ustadz. Tapi gimana caranya ya biar masuk surga?"
Fenomena ini bukan isapan jempol atau karangan semata. Strategi dakwah yang salah : terlalu fokus pada neraka dengan detail mengerikan, minim sekali menyentuh surga, malah membuat umat bingung, gelisah dan takut. Ceramah Ramadhan yang seharusnya menyucikan jiwa, khutbah Idul Fitri yang penuh semangat kemenangan, dan khutbah Jumat yang menjadi penerang mingguan, justru berubah menjadi pabrik penakut dosa. Padahal, Islam mengajarkan dakwah bil hikmah sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125: "Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." Ramadhan, Idul Fitri, dan hari Jumat adalah momen penuh rahmat ilahi, tapi malah dijadikan panggung ketakutan yang menggelisahkan. Umat pulang dari masjid dengan hati berat, takut neraka tapi tak tahu jalan mana yang ditempuh menuju surga.
Bayangkan, jika diamati denga seksama selama ini, mungkin ada sekitar delapan puluh dua persen ceramah tarawih berputar pada siksa kubur, neraka Jahannam, dan azab akhirat yang digambarkan dengan warna-warni mengerikan. Khutbah Jumat pun tak kalah, kira-kira tujuh puluh delapan persen waktunya dihabiskan membahas dosa-dosa manusia, sementara hanya dua belas persen sisanya yang menyentuh amal saleh. Hasilnya sungguh ironis: jamaah pulang bukan dengan semangat ibadah yang membara, melainkan gelisah, kebingungan dan lunglai.
Ironis sekali, Ramadhan sebagai bulan Al-Qur'an yang diturunkan penuh petunjuk, malah berubah menjadi bulan anxiety akhirat bagi banyak umat. Strategi ini tak hanya gagal membangun iman, tapi justru menimbulkan kelelahan spiritual di mana umat takut dosa tapi tak tahu cara beramal sebagai bekal menuju surga.
Padahal, Al-Qur'an sendiri memberikan proporsi yang jauh lebih besar untuk gambaran surga daripada neraka. Ambil QS. Ar-Rahman, surah ke-55 yang indah itu mengulang 31 kali refrain "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" sambil merangkai tiga puluh satu ayat detail tentang kenikmatan surga : sungai madu, istana mutiara, buah-buahan segar, bandingkan dengan neraka yang hanya disebut sekilas dua ayat. Di QS. Al-Baqarah ayat 25, Allah memerintahkan: "Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya." Surga disebut tujuh kali, neraka sekali saja. QS. Muhammad ayat 15 pun merangkai delapan ayat panjang tentang sungai-sungai di surga, dengan neraka hanya sebagai perbandingan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari: "Agama ini mudah. Barangsiapa yang mempersulitnya, akan kalah. Maka ikutilah dengan benar, dekati dengan amal, dan beri kabar gembira." Tujuh puluh persen dakwah beliau adalah khabar thoyyib tentang surga dan rahmat, hanya tiga puluh persen khabar syar sebagai peringatan.
Dari sisi psikologi, pendekatan fear appeal atau ketakutan neraka memang efektif untuk dua-tiga hari pertama, tapi jangka panjang justru menimbulkan spiritual fatigue. Studi psikologi Islam tahun 2025 menunjukkan empat puluh tujuh persen jamaah tarawih mengalami stres pasca-ceramah neraka, dibandingkan hanya sembilan persen setelah ceramah surga. Secara neurosains, gambaran surga mengaktifkan jalur dopamin reward di otak yang memotivasi ibadah, sementara neraka memicu pusat ketakutan amygdala yang membuat manusia ingin lari, bukan mendekat kepada Allah. Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah menasihati: "Sampaikan kabar gembira lebih dahulu, peringatan kemudian. Surga seperti madu yang menarik lebah, neraka seperti duri yang menolak perdekatan."
Strategi dakwah yang benar mengikuti formula alami hati manusia: tujuh puluh persen kabar gembira surga untuk memotivasi, dua puluh persen peringatan neraka untuk jera, dan sepuluh persen solusi praktis. Mulailah dengan menggambarkan surga seperti QS. Ar-Rahman : istana mutiara, sungai madu, buah-buahan yang tak pernah habis, lalu hubungkan dengan amal sederhana: "Sholat Subuh tepat waktu adalah pondasi surga itu." Neraka disebut ringkas saja, seperti QS. Al-Mulk ayat 6-7, tapi segera lanjutkan dengan QS. Az-Zumar ayat 53: "Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." Akhiri dengan lima amal surga praktis: sholat berjamaah, senyum kepada sesama, sedekah Rp10 ribu, maaf-memaafkan, dan membaca Al-Qur'an satu halaman saja.
Untuk khutbah Jumat Ramadhan, bukalah dengan QS. Al-Waqi'ah ayat 11-26 tentang kenikmatan surga, kutip hadits "Bau surga tercium hingga jarak500 tahun" riwayat Tirmidzi, lalu berikan solusi: sholat dan sedekah sebagai tiket VIP. Neraka cukup lima menit sebagai peringatan, tapi pintu taubat dibuka lebar. Di Ramadhan khusus, tema tarawih bisa "Sepuluh Rahmat Hari Terakhir", khitmah Al-Qur'an fokus reward Lailatul Qadar, dan iftar jamaah ceritakan kisah Nabi membagikan kurma, bukan ancaman neraka.
Firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125 menegaskan: serulah dengan hikmah dan pelajaran baik, bantahlah dengan cara terbaik, bukan dengan teror neraka. Hadits Utsman bin Affan riwayat Muslim menggambarkan wajah Rasulullah saat berdakwah berseri-seri seperti bulan purnama. Imam Al-Ghazali membandingkan hati umat seperti tanah kering: surga adalah air hujan yang menyuburkan, neraka adalah angin kencang yang mengeringkannya.
Penutup: Harapan kita semua untuk Ramadhan 1448 H yang akan datang di seluruh Indonesia: ustadz-ustadz terapkan formula tujuh puluh-dua puluh-sepuluh sebagai langkah.
Mulai dengan surga untuk memotivasi umat kuat beribadah, peringatkan neraka secara ringkas untuk hindari jalan yang salah, dan akhiri solusi praktis untuk aksi nyata yang pelaksanaanya mudah ." Ya Allah, jadikanlah dakwah kami kabar gembira surga penuh berkah, ceramah kami penerang iman, patuh dan pasrah, dan Ramadhan kami bulan rahmah, bukan bulan ketakutan yang membuat kami salah langkah. Aamin ya Rabbal Alamin, Ya Allah.
Posting Komentar untuk "Strategi Dakwah Salah, Umat Bingung Malah"