Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Saat bulan hijriyah menyapa ufuk global, dari Masjidil Haram di Mekkah hingga kampung-kampung tersembunyi di Bone dan Gowa, Ramadhan menyatukan 1,8 miliar umat Islam dalam simfoni ibadah.
Bukan sekadar puasa dari fajar hingga maghrib, Ramadhan adalah bengkel penggemblengan kepemimpinan sejati, tempa jiwa yang melahirkan kader umat tangguh menghadapi badai dunia modern. Di tengah krisis Gaza, konflik Yaman, hingga polarisasi Barat-Timur, dan Iran Vs Amerika-Israel bulan suci ini menjadi "akademi global" yang mendidik pemimpin bukan dengan pidato bombastis dan ancaman, tapi dengan hati yang ikhlas dan tangan yang melayani. Ramadhan mengajarkan: pemimpin sejati lahir dari mujahadah diri, bukan dari kursi kekuasaan dan dendam kesumat.
Bayangkan subuh di Kairo: jutaan orang Mesir berbondong-bondong ke masjid Al-Azhar, saling berbagi kurma sederhana sambil mendengar murottal. Di Turki, Presiden Erdogan memimpin shalat tarawih sambil ingatkan umat tentang jihad ekonomi dan persatuan umat. Di Indonesia, para muda mudi berjuang bagi takjil di tengah panas kota Jakarta sekitaran Masjid Istqlal dan di Makassar sekitaran kampus UNM. UNHAS, UNISMUH, UMI, dan UNIBOS. Di Nigeria, Muslim Hausa lawan kelaparan dengan gotong royong buka puasa bersama. Ini bukan kebetulan, Ramadhan secara universal adalah kurikulum kepemimpinan yang dirancang Ilahi, berlaku untuk semua kalangan: anak muda urban, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga pemimpin negara.
Mengapa Ramadhan begitu ampuh sebagai penggembleng kepemimpinan? Pertama, latihan kontrol diri ekstrem. Puasa mengajarkan umat mengendalikan nafsu dasar: lapar, haus, amarah. Seorang pemimpin yang tak tahan godaan makanan, bagaimana tahan suap politik atau popularitas sesaat? Di Malaysia, program "Ramadhan Leadership Camp" bagi pemuda mengintegrasikan puasa dengan simulasi krisis, hasilnya : peserta naik empat puluh persen dalam tes disiplin diri. Hadis Nabi SAW tegaskan: "Puasa adalah perisai," pelindung bagi pemimpin dari korupsi batin. Kisah nyata dari Palestina: dokter di Gaza, sambil puasa di bawah bom, tetap tenang selamatkan nyawa. Itulah kepemimpinan sejati; tahan uji di neraka dunia.
Kedua, servant leadership secara massal. Ramadhan ubah hierarki sosial: kaya bagi-bagi ke miskin, kuat lindungi yang lemah. Di Pakistan, selebriti seperti Imran Khan dulu turun ke jalan bagi takjil kepada pengungsi Afghan. Di Maroko, rakyat biasa jadi "kader takjil" bagi migran Afrika. Atau, dalam lingkup kampus: dosen-dosen FIP Universitas Negeri Makassar urunan untuk acara buka puasa bersama. Ini filosofi Qur'an: "Mereka yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti biji yang tumbuh tujuh tangkai." Servant leadership ala Ramadhan ajarkan: pemimpin bukan bos, tetapi pelayan. Di Indonesia, gerakan "Sahabat Yatim Ramadhan" libatkan satu juta relawan : mereka belajar memimpin dengan empati, bukan otoritas dan lengan besi. Cerita mengharukan: seorang migran Suriah di Turki, yang dulunya pengungsi, kini pimpin komunitas masjid : kaderan Ramadhan ubah nasib.
Ketiga, pengambilan keputusan cepat di bawah tekanan. Ramadhan penuh variabel tak terduga: sahur terganggu gempa (misal: Turki pada tahun 2023), tarawih diterpa badai di Filipina, atau rantai pasok makanan putus di Lebanon dan Gaza. Umat belajar improvisasi: bagi tugas darurat, optimalkan sumber daya minim, ciptakan solusi kreatif. Di Arab Saudi, saat pandemi 2020 lalu, dua miliar jamaah haji diganti Tarawih virtual : pemimpin agama adaptasi cepat tanpa kompromi syariat. Ini asah HOTS global: analisis risiko, evaluasi etis, kreasi berkelanjutan. Di era AI dan climate change, umat Islam butuh kader seperti ini : bukan robot, tapi manusia beriman yang adaptif dan kreatif.
Ramadhan juga tanamkan dimensi ruhani universal yang langka di kepemimpinan sekuler. Lailatul Qadar ajak muhasabah kolektif: "Apa warisanku bagi ummat?" Di seluruh dunia, dari masjid di London hingga New York, tarawih jadi forum refleksi: bagaimana pimpin umat hadapi Islamofobia? Pemimpin seperti Syeikh Usamah Al-Qadhi di Qatar bilang: "Ramadhan buat pemimpin sadar: kekuasaan itu fana, amal abadi." Bukti empiris: survei Pew Research 2024 tunjukkan Muslim yang rutin puasa punya 25% lebih tinggi integritas moral dibanding yang tidak puasa.
Tantangan global tak kecil. Di Barat, Ramadhan bentur shift kerja 9-5; di Timur Tengah, konflik blokir distribusi zakat. Generasi Z tergoda fast food iftar via Gojek, lupa esensi mujahadah. Solusi? Adaptasi cerdas: aplikasi adzan global seperti Muslim Pro, webinar kajian ala Sheikh Sudais, atau "Ramadhan Challenge" di TikTok yang ajak puasa sambil konten positif. Di Indonesia, Kemenag 1447 H luncurkan "Global Santri Leadership Forum" hubungkan pemuda Aceh dengan Sarajevo. Ini kaderan digital tanpa hilang ruh.
Krisis dunia butuh kepemimpinan Ramadhan: Gaza ajarkan ketabahan, Ukraina tunjukkan solidaritas, Sudan ingatkan persatuan. Iran, buktikan adanya dan pentingnya kesabaran dan kecerdasan. Rusia, ajarkan empati. Korea Utara ajarkan kepedulian. Cina promosikan kerja sama. Saat PBB gagal damai, umat Islam punya "PBB Ramadhan", gotong royong lintas batas. Bayangkan satu koma delapan miliar kader aktif: korupsi lenyap, kemiskinan terbasmi, perdamaian lahir. Pemimpin seperti Khalifah Umar bin Khattab, puasa sambil bagi roti adalah blueprint.
Ramadhan 1447 H ini, dari Mekkah ke Makassar, mari jadikan bulan penggemblengan universal. Bukan kalangan elite semata, tapi semua kalangan: anak SD bagi air zamzam ke tetangga, karyawan pimpin doa kantor, ibu rumah tangga kader anak via cerita teladan. Pepatah Arab: "Puasa tempa besi jadi pedang." Saat Idulfitri, umat keluar bukan konsumen, tapi pemimpin. Dunia menanti kader Islam sejati : tahan lapar, tulus hati, pantang menyerah, kuat dan tangguh neraka dunia. Mari hidupkan Ramadhan sebagai wasiat: "Setiap kalian adalah pemimpin, bertanggung jawab atas yang dipimpinnya."
Posting Komentar untuk "Ramadhan: Tempa dan Lahirkan Pemimpin Dunia, Kaderkan Jiwa Sejati Umat Islam"