Pak Ustadz Mendadak Jadi Artis (14)


        Oleh: Kamaruddin Hasan

Setiap Ramadan, ada satu fenomena yang selalu berulang di banyak masjid kampung: begitu ceramah selesai dan doa penutup dibacakan, jamaah dewasa bubar perlahan, tetapi anak-anak justru maju ke depan.

Bukan untuk bertanya tentang makna takwa.

Bukan pula untuk mendalami tafsir ayat yang baru saja disampaikan.

Mereka datang dengan satu kalimat sakti:

Pak Ustadz… tanda tangan, Pak.”

Tangan kecil itu membawa buku tipis berjudul “Amaliah Ramadan”. Di dalamnya ada tabel rapi: kolom salat lima waktu, kolom tadarus, kolom sedekah, dan tentu saja kolom ceramah. Di ujung kolom itu ada satu ruang kecil yang menentukan nilai rapor: tanda tangan penceramah.

Maka mendadaklah Pak Ustadz berubah profesi. Dari dai menjadi selebritas. Dari penyampai hikmah menjadi mesin tanda tangan.

Pak, yang ini juga ya… kemarin saya tarawih di sini.”

“Pak, jangan lupa tanggalnya.”

“Pak, tulis namata’ sekalian.”

Belum selesai satu buku, datang lagi sepuluh buku lain. Ada yang masih wangi percetakan, ada yang sudah lecek karena dikejar target satu bulan penuh. Di momen itu, sorban terasa seperti kostum panggung. Mimbar terasa seperti panggung konser mini. Bedanya, yang diminta bukan swafoto, tetapi paraf.

Fenomena ini tentu tidak lahir dari ruang hampa. Banyak sekolah, baik madrasah maupun sekolah umum, mendorong penguatan karakter melalui buku amaliah Ramadan. Bahkan kebijakan-kebijakan dari Kementerian Agama Republik Indonesia maupun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sering menekankan pentingnya kolaborasi sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk kebiasaan ibadah peserta didik.

Secara pedagogis, itu langkah baik. Anak-anak dilatih disiplin, diajak ke masjid, dan dikenalkan pada tradisi keagamaan. Buku amaliah menjadi alat kontrol sekaligus motivasi. Masjid kembali ramai oleh suara bocah-bocah yang kadang lebih riuh daripada khusyuk.

Namun di balik keramaian itu, ada pertanyaan kecil yang menggelitik: apakah anak-anak datang untuk menyerap hikmah, atau sekadar mengumpulkan tanda tangan?

Suatu malam, saya iseng bertanya kepada seorang bocah yang paling depan mengacungkan buku.

Kamu dengar ceramahnya?”

“Iya, Pak.”

“Tadi tentang apa?”

“Eee… tentang… sabar, Pak.”

“Bagian mana yang paling kamu ingat?”

Ia terdiam, lalu berkata jujur, “Yang penting tanda tangannya dulu, Pak. Nanti saya baca lagi di rumah.”

Saya tersenyum. Kejujuran anak-anak selalu menyegarkan. Mereka belum pandai bersandiwara. Targetnya jelas: kolom terisi, nilai aman.

Di sinilah letak ironi kecil Ramadan kita. Ibadah bisa bergeser menjadi administratif. Kehadiran di masjid menjadi data. Ceramah menjadi bukti fisik. Ustadz pun tanpa sadar menjadi “validator spiritual”.

Tentu kita tak boleh sinis. Bisa jadi dari tanda tangan itu tumbuh kebiasaan baik. Bisa jadi dari kewajiban sekolah lahir kecintaan sejati pada masjid. Banyak kebaikan memang bermula dari keterpaksaan yang dilatih menjadi kebiasaan.

Namun sebagai pendidik dan orang tua, kita perlu lebih dalam lagi membaca situasi. Jangan sampai anak merasa bahwa esensi ibadah terletak pada pengesahan eksternal. Bahwa yang penting bukan isi hati, tetapi stempel di kertas.

Ramadan adalah madrasah keikhlasan. Ia mengajarkan bahwa Tuhan tidak memerlukan tanda tangan siapa pun untuk mencatat amal kita. Tidak ada kolom kosong di langit yang menunggu paraf ustadz. Semua sudah direkam dengan presisi yang jauh melampaui tinta.

Maka mungkin, di sela-sela memberi tanda tangan, para ustadz juga perlu menyelipkan satu kalimat edukatif:

Nilai dari sekolah penting. Tapi nilai dari Allah lebih penting.”

Biarlah buku amaliah tetap berjalan sebagai instrumen pendidikan. Tetapi jangan berhenti pada administrasi. Guru dan orang tua perlu berdialog dengan anak tentang makna salat, tentang rasa tenang setelah tarawih, tentang nikmatnya berbagi takjil.

Agar suatu hari nanti, mereka ke masjid bukan karena kolom kosong.

Bukan karena tugas sekolah.

Bukan karena mengejar paraf.

Melainkan karena rindu.

Dan ketika hari itu tiba, Pak Ustadz tak lagi merasa seperti artis musiman Ramadan. Ia kembali pada peran sejatinya: penuntun hati, bukan sekadar pemberi tanda tangan. 

Posting Komentar untuk "Pak Ustadz Mendadak Jadi Artis (14)"