Menolak Menjadi Pecundang di Garis Finish

            Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Ramadhan hari ke-19 adalah alarm keras bagi jiwa yang mulai kehilangan arah. Saat euforia awal bulan telah menguap dan letih mulai menjadi alasan, kita justru sedang berdiri di titik paling kritis.

 Apakah kita akan menjadi pelari yang ambruk tepat sebelum garis finish, atau justru yang melakukan sprint terakhir dengan sisa napas yang ada?

Lihatlah ke belakang. Sembilan belas hari telah berlalu, namun sudahkah hati kita benar-benar "pecah" di hadapan-Nya? Ataukah puasa kita selama ini hanya sekadar ritual memindahkan jam makan, sementara lisan masih tajam dan hati masih penuh dengan debu kedengkian?

Hari ke-19 adalah saatnya berhenti bermain-main. Gerbang sepuluh malam terakhir sudah di depan mata—wilayah di mana para pemburu surga mulai mengencangkan ikat pinggang dan melupakan empuknya kasur. 

Jangan biarkan Ramadhan tahun ini berakhir sebagai dongeng tentang "apa yang seharusnya kita lakukan," namun berakhirlah sebagai catatan tentang "apa yang telah kita menangkan." 

Jangan sampai saat Idul Fitri tiba, kita hanya merayakan kemenangan baju baru, padahal batin kita masih kalah telak oleh ego dan kemalasan. Hari ini, pilihannya cuma dua: bangkit dan menjemput ampunan, atau tetap terlelap sampai kesempatan emas ini benar-benar hilang tanpa sisa.
Wallahu A'lam Bis- Shawab.

19 Ramadhan 1447 H / 9 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Menolak Menjadi Pecundang di Garis Finish"