Oleh: Sudarto. (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
"Dan zakat-zakat itu hanyalah untuk fakir, miskin..." (QS. At-Taubah: 60). Di persimpangan akhir Ramadhan, ketika azan Maghrib terakhir bergema syahdu, dan awal takbir Idul Fitri segera ditabuh, dua tangis indah saling bersahutan dari masjid dan gubuk reyot.
Tangis pertama, tangisnya para ulama: mereka menangis haru karena ditinggalkan bulan suci Ramadhan, teman setia sekaligus guru terbaik yang selalu melatih jiwa bertahan lapar, haus, dan nafsu. Tangis kedua, tangisnya kaum dhuafa, para fakir miskin: mereka menangis karena bahagia menerima zakat fitrah dari mudzakkir, para pembayar zakat yang ikhlas berbagi; tak perlu lagi sibuk mencari pembeli sebutir beras. Keduanya menangis karena Allah: satu karena rindu ibadah, satunya lagi karena syukur rezeki penuh bahagia. Dua tangis ini merupakan harmoni iman yang menggetarkan hati. Narasi indah ini mengajak kita merenung. Ia menggambarkan keindahan akhir Ramadhan. Semua elemennya saling terkait erat.
Tangis Pertama: Rindunya Ulama pada Ramadhan
Di mimbar terakhir, seorang Syekh terisak haru. "Ya Rabb, Ramadhan pergi meninggalkan kami dalam kehausan rindu," ratapnya lirih. Sabda Rasulullah SAW menjelaskan: "Barangsiapa mencintai sesuatu maka akan merasa berat ditinggalkan olehnya" (HR. Bukhari). Ramadhan adalah gym spiritual 29 atau 30 hari penuh: puasa mengajarkan kesabaran, tarawih melehhkan dosa yang sudah mengerak, sedekah membersihkannya, Lailatul Qadar menebus 83 tahun amal. Dalil akli: Puasa membentuk resiliensi iman, sama seperti mahasiswa bertahan mengerjakan tugas-tugas kuliah meski deadline mepet. Kisah nyata di Masjid R di Ramadhan 2025: Kakek A (75 tahun) menangis tersedu setelah witir terakhir, "Nak, Ramadhan tinggalkan kami seperti ibu meninggalkan anak. Tapi air mata ini taubat kami." Bimbingan ilahi hadir dalam QS. Al-Baqarah: 183, puasa untuk takwa. Tangis ulama adalah panggilan muhasabah: Ramadhan fisik pergi, ruhnya tetap abadi. Rindu ini menyempurnakan ibadah. Ia memastikan taqwa bertahan lama. Ulama mencontohkan kedalaman hati. Mereka tak sekadar berpuasa. Mereka menyerap hikmahnya sepenuhnya.
Rindu ulama bukan sekadar emosi sesaat. Ia menjadi pengingat akan kepergian musim ibadah terbaik. Ramadhan datang sekali setahun. Ia membawa limpahan rahmat tak terhitung. Tarawih malam demi malam membangun disiplin rohani. Sahur dan buka puasa melatih pengendalian diri. Lailatul Qadar bahkan menggugurkan dosa setahun penuh dan ubah takdir. Syekh di mimbar itu mewakili ribuan hati. Mereka menangis karena sadar betapa berharganya bulan ini. Tanpa Ramadhan, jiwa rentan kembali ke kebiasaan buruk. Tangis mereka adalah doa agar ruh Ramadhan tinggal. Ia menginspirasi umat biasa. Kita diajak muhasabah diri. Apakah puasa kita hanya lapar fisik? Atau telah menyentuh jiwa? Kisah Kakek A di atas menggugah. Usia lanjutnya tak menyurutkan rindu. Justru menambah bobot air matanya. Ini pelajaran abadi. Ramadhan pergi, tapi jejaknya tetap kekal.
Tangis Kedua: Syukurnya Para Dhuafa
Di sisi lain, di tepi pantai di sebuah lorong sempit, Ibu S (janda 4 anak) menangis haru memeluk setengah karung beras zakat fitrah. "Alhamdulillah, mudzakkir ingat kami," katanya dengan suara parau. Zakat dari pengusaha padi, nelayan, dan pegawai negeri, para mudzakkir yang selalu tak lupa sesama yang kekurangan. Zakat fitrah adalah bagian dari sedekah, hanya saja sifatnya wajib dan sabda Rasulullah SAW: "Sedekah itu memadamkan murka Allah sebagaimana air memadamkan amukan api" (HR. Tirmidzi). Tangis syukur ini membersihkan hati dhuafa. Ia mengubah keputusasaan menjadi harapan. Zakat fitrah menyempurnakan puasa pembayarnya. Penerimanya merasakan kasih sayangnya. Harmoni ini indah sekali.
Syukur dhuafa mengingatkan kita pada kewajiban sosial Islam. Zakat fitrah wajib dibayar sebelum Idul Fitri. Ia membersihkan puasa dari kekurangan. Seperti beras, kurma, atau uang tunai, nilainya disesuaikan kemampuan. Ibu S mewakili jutaan fakir miskin. Mereka berjuang sepanjang tahun. Ramadhan memberi jeda lewat zakat. Pengusaha padi yang dermawan merasa ringan. Nelayan yang berbagi tak merasa rugi. Pegawai negeri yang ikhlas tak mersa terkuras gaji malah mendapat balasan berlipat dari ilahi. QS. At-Taubah ayat 60 menjelaskan tujuan zakat. Fakir miskin adalah prioritas utama. Tangis bahagia Ibu S di atas adalah bukti nyata. Anak-anaknya tak lagi lapar saat takbir bergema. Ini esensi Islam rahmatan lil alamin. Syukur mereka mendorong kita berbagi lebih. Zakat bukan beban. Ia adalah jembatan kasih di antara manusia hamba ilahi .
Harmoni Dua Tangis: Pelajaran Akhir Ramadhan
Tangis ulama ajarkan zuhud, rindu ibadah agar tak lalai. Tangis dhuafa ajarkan syukur, ihsan berbagi agar si kaya tak kikir. Keduanya saling melengkapi: ulama dan orang kaya tanpa dhuafa seperti pohon tanpa akar; dhuafa tanpa ulama dan orang kaya seperti sungai tanpa muara. Dalil gabungan: QS. Al-Baqarah: 177: iman sejati adalah puasa dan zakat. Akli, seperti resiliensi akademik mahasiswa: rindu nilai A mendorong ketekunan, syukur lulus memicu kreativitas berikutnya. Harmoni ini menyatukan lapisan masyarakat. Masjid dan gubuk reyot bersatu dalam takbir. Ulama memberi petunjuk rohani. Dhuafa memberi pelajaran kerendahan hati. Bersama, mereka ciptakan ekosistem iman kuat.
Pelajaran akhir Ramadhan sungguh mendalam. Tangis pertama mendorong introspeksi. Kita tanya diri: apakah Ramadhan mengubah kita? Tangis kedua mengajak aksi nyata. Zakat bukan formalitas. Ia adalah penyeimbang sosial. Gabungan keduanya lahirkan umat seimbang. Kaya tak sombong.
Miskin tak putus asa. Ulama tak terisolasi. Semua terhubung dalam cinta Allah. Seperti mahasiswa yang giat belajar, resiliensi lahir dari rindu prestasi. Syukur lulus memicu pengabdian. Begitu pula umat Islam. Akhir Ramadhan bukan akhir cerita. Ia awal komitmen setahun. Takbir Idul Fitri menjadi saksi. Dua tangis indah itu abadi. Mereka menggetarkan jiwa. Menginspirasi perubahan. Menuju kehidupan penuh takwa. Demi ridha Allah SWT.
Di akhir ramadhan, di malam takbir itu, dua tangis mengalir sempurna penuh harmoni. Ulama rindu guru spiritualnya sudah pergi. Dhuafa syukuri rezeki saudaranya yang penuh empati. Keduanya menangis untuk Yang Maha Pemberi. Pelajaran ini relevan setiap tahun dari dulu hingga kini. Khususnya, di 2026 ini, saat Ramadhan pergi tinggalkan kita sendiri, mari terus hayati. Jadikan air mata itu cambuk diri. Puasa tak berhenti di Idul Fitri. Zakat mengalir abadi. Umat yang sadar ini maju harmoni. Ia ciptakan masyarakat adil makmur tanpa kecuali. Seperti pesantren modern yang integrasikan ilmu agama dan umum terpatri. Dua tangis indah menjadi legenda pengetuk hati sanubari. Generasi mendatang terinspirasi. Insya Allah dua tangis ini bisa jadi jalan menuju surga ilahi. Aminkan dalam hati. Insya Allah terkabul nanti.
Posting Komentar untuk "Dua Tangis Indah di Malam Takbir Saat Ramadhan Pergi"