Di Ujung Senja Maghfirah: Sebuah Perpisahan dan Persiapan

           Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Ketika semburat jingga di hari ke-20 ini perlahan memudar, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada. Kita sedang berdiri di sebuah garis batas yang sakral, di penghujung nafas fase Maghfirah.

 Ini adalah saat di mana waktu seolah melambat, memberi ruang bagi nurani untuk bertanya: "Sudahkah luruh dosa-dosaku di bawah derasnya ampunan-Mu selama sepuluh hari ini?"

Hari terakhir di fase kedua ini bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan sebuah perpisahan yang sunyi. Kita berpisah dengan hari-hari yang dijanjikan sebagai samudra ampunan, namun di saat yang sama, kita sedang menghirup aroma keberkahan yang lebih dahsyat dari arah depan.

 Ada rasa sesak yang syahdu; sebuah kerinduan untuk membasuh wajah dengan air mata taubat yang paling jujur sebelum gerbang sepuluh malam terakhir terbuka lebar.

Lihatlah ke belakang sejenak, pada sujud-sujud yang melelahkan namun menenangkan. Simpanlah setiap helai istighfar itu sebagai bekal. Sebab, setelah matahari ini terbenam, kita tidak lagi hanya sekadar berpuasa menahan lapar, melainkan mulai berlari dalam diam untuk menjemput Lailatul Qadar.

Di ambang senja ini, mari kita ketuk pintu langit sekali lagi dengan suara yang lebih lirih: "Ya Allah, jika esok aku memasuki sepuluh malam terakhir-Mu, biarkan aku memasukinya dengan hati yang telah Engkau sucikan, dengan jiwa yang telah Engkau ampuni, dan dengan raga yang Engkau muliakan untuk bersimpuh di hadapan-Mu."
Wallahu A'lam Bis-Shawab.

20 Ramadhan 1447 H / 10 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Di Ujung Senja Maghfirah: Sebuah Perpisahan dan Persiapan"