Barru —B88News.id- Pagi itu tampak seperti pagi-pagi sebelumnya. Apel rutin yang dirangkaikan dengan halal bihalal pasca Idulfitri digelar di halaman Kantor Bupati Barru, Senin 30/3/2026.
Barisan ASN berdiri rapi, wajah-wajah tertib menghadap ke mimbar dimana Bupati Andi Ina menjadi pembina upacara.
Tak ada yang benar-benar menduga, pagi itu akan menyimpan satu momen yang sulit dilupakan.
Bupati Barru tengah menyampaikan sambutan. Suasana tenang, kata-kata mengalir seperti biasa. Hingga tiba-tiba, satu nama disebut.
“doktet Amis Rivai, silakan naik ke mimbar.”
Sejenak waktu seperti melambat. Di antara barisan, sosok itu melangkah maju. Tenang, seperti hari-hari yang telah ia jalani selama puluhan tahun.
Namun kali ini berbeda. Saat ia berdiri di samping Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Bupati Barru Abustan Andi Bintang, tepuk tangan pun pecah, panjang, hangat, dan terasa lebih dalam dari sekadar seremoni. Itu bukan tepuk tangan biasa. Itu adalah penghormatan.
Sebab semua yang hadir tahu, ini adalah salah satu hari terakhirnya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barru. Sehari lagi, ia akan memasuki masa purnabhakti.
dr. Amis Rivai bukan nama yang asing. Ia dikenal ramah, sederhana, dan tidak berjarak. Namun di balik sikapnya yang tenang, tersimpan perjalanan panjang pengabdian.
Ia pernah berada di garis depan sebagai Kepala Puskesmas Madello, tempat ia bersentuhan langsung dengan denyut kehidupan masyarakat. Ia kemudian mengemban tanggung jawab lebih besar sebagai Direktur RSUD, menghadapi kompleksitas layanan kesehatan rujukan.
Hingga akhirnya, ia dipercaya memimpin sebagai Kepala Dinas Kesehatan, mengawal kebijakan dan arah pembangunan kesehatan di Barru.
Jabatan boleh berganti, tetapi caranya mengabdi tidak pernah berubah: tetap dekat, tetap hadir.
Usai upacara, orang-orang mulai beranjak. Suasana perlahan mencair. Namun bagi dr. Amis Rivai, hari itu belum selesai. Ia tidak pulang.
Dengan cara yang hampir jenaka, ia “disandra” untuk tetap mendampingi Bupati dalam agenda berikutnya, coffee morning bersama pimpinan OPD dan para camat. Ia kembali duduk di antara mereka, berdiskusi, tersenyum, sesekali menyimak dengan serius.
Hingga sore menjelang, ia masih di sana. Seolah tak ada garis akhir yang sedang menantinya. Di situlah letak maknanya. Bahwa bagi dirinya, pengabdian bukan sesuatu yang dikurangi perlahan menjelang selesai. Ia dijalani utuh, sampai titik terakhir.
Di penghujung kegiatan, Bupati Barru menyampaikan pesan yang sederhana, namun terasa dalam. Apresiasi dan doa kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barru yang akan memasuki masa purna tugas.
“Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan di masa pensiun,” tuturnya.
“Jaga kesehatan, tetap semangat, dan terus berbuat yang terbaik (mappedeceng) untuk Kabupaten Barru.”, sebut Bupati yang bisa dimaknai sebagai sebuah harapan, sekaligus pengakuan bahwa apa yang telah diberikan, tidaklah kecil.
Lalu, tiba giliran dr. Amis Rivai berbicara. Tak ada pidato panjang. Tak ada kata-kata besar. Dengan suara pelan, hampir tenggelam dalam suasana haru, ia hanya berkata:
“Dari saya… terima kasih atas kerja sama yang baik, atas petunjuk, dan semua hal baik selama saya mengabdi di Pemerintah Kabupaten Barru.” katanya singkat
Sederhana. Namun justru karena itu, terasa begitu dalam. Sebab tidak semua pengabdian ditutup dengan kata-kata megah. Ada yang cukup ditutup dengan ketulusan.
Hari itu, di bawah langit Barru yang cerah, sebuah perjalanan panjang tidak dirayakan dengan gemerlap. Ia hadir dalam tepuk tangan, dalam langkah yang tetap setia, dan dalam suara lirih yang nyaris tak terdengar.
Sehari menjelang purnabhakti, dr. Amis Rivai tidak meninggalkan tugasnya. Ia menuntaskannya. Dengan cara paling sunyi, namun paling bermakna: tetap hadir, hingga akhir.(syam)
Posting Komentar untuk "Di Ujung Pengabdian: Tepuk Tangan Mengiringi Langkah Terakhir dr. Amis Rivai. "