Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Malam kian larut, namun napas masjid di tanah Bugis justru terasa kian dalam. Di bawah pendar lampu yang temaram, aroma harum gula merah dari tumpukan kue apang mulai memenuhi udara, bersaing lembut dengan wangi minyak atar para jamaah.
Inilah malam ke-16, titik balik suci di mana langkah kaki tak lagi sekedar mengejar kewajiban, melainkan merayakan ketabahan hati.
Saat imam mulai menengadahkan tangan di rakaat terakhir witir, suasana mendadak hening. Hanya terdengar isak tipis di sela bait doa Qunut yang dilantunkan. Ada rasa syukur yang membuncah karena napas masih diizinkan menghirup berkah hingga separuh perjalanan, namun terselip pula ketakutan; apakah Ramadhan yang tersisa akan terlewatkan begitu saja?.
Malam Akkunnu’ bukan sekedar ritual lisan. Ia adalah momen di mana masyarakat Bugis berhenti sejenak untuk menengok ke dalam jiwa. Kue apang yang merekah bukan hanya kudapan manis pemanja lidah, melainkan simbol harapan agar rezeki dan iman pun ikut "mekar" di sisa bulan suci. Saat potongan kue itu berpindah tangan dari tetangga ke tetangga, di sanalah keberkahan benar-benar terwujud, bukan dalam bentuk harta, melainkan dalam hangatnya jabat tangan dan doa-doa yang saling menguatkan.
Di malam ini, setiap sujud terasa lebih berat oleh rindu, dan setiap butir nasi yang dimakan bersama menjadi saksi bahwa di tanah Bugis, agama dan tradisi adalah dua sayap yang membawa jiwa terbang lebih dekat kepada Sang Pencipta.
16 Ramadhan 1447 H / 6 Maret 2026 M
Posting Komentar untuk "Cahaya Qunut dan Manisnya Apang"