Cahaya Fajar di Gerbang Keridhaan

         Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Di ambang hari ke-18 ini, suasana Ramadhan terasa kian melambat, seolah waktu ingin memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas lebih dalam

Langit fajar tidak hanya membawa rona jingga, tetapi membawa janji tentang ketenangan yang turun perlahan menyentuh hati-hati yang mulai letih namun tetap rindu.

Ramadhan kini telah melewati separuh perjalanannya. Jika di awal kita sibuk menata fisik, maka di hari ke-18 ini, ruh mulai mengambil alih. Ada keheningan yang berbeda dalam sujud kita; sebuah bisikan yang memohon agar Allah SWT menatap kita dengan tatapan kasih-Nya.

Hikmah hari ini adalah tentang bakti dan ridha. Sebuah momen di mana langit terbuka untuk melimpahkan ampunan, bukan hanya bagi kita, tetapi juga mengalir deras untuk kedua orang tua kita yang merupakan akar dari segala keberkahan hidup yang kita miliki.

Hari ini adalah tentang cahaya di atas cahaya. Kita tidak hanya berpuasa dari lapar, tetapi sedang membasuh hati dari debu-debu kezaliman masa lalu. Kita belajar melepaskan ego, memaafkan yang bersalah, dan meminta maaf atas luka yang pernah kita goreskan. Sebab, apalah arti lapar seharian jika di dalam hati masih tersimpan benci yang membara?

Di sisa hari ini, biarlah setiap butir tasbih yang jatuh menjadi saksi bahwa kita sedang mengetuk pintu langit dengan penuh harap. Semoga cahaya fajar ke-18 ini menetap selamanya di dalam dada, membimbing langkah kita agar tidak lagi tersesat di tengah riuhnya dunia, hingga kita tiba di penghujung Ramadhan dengan hati yang benar-benar merdeka.

18 Ramadhan 1447 H / 8 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Cahaya Fajar di Gerbang Keridhaan"