Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat pada hari terakhir Ramadhan, suasana hati seorang mukmin berada di antara dua rasa: kebahagiaan menyambut hari kemenangan dan kesedihan melepas tamu agung yang penuh berkah. Hikmah terdalam dari momen ini adalah kesadaran akan waktu yang tak bisa kembali.
Hari terakhir ini menjadi cermin untuk refleksi diri. Kita melihat kembali deretan malam yang diisi dengan sujud dan siang yang diwarnai kesabaran. Hikmahnya bukan terletak pada kesempurnaan ibadah kita, melainkan pada keikhlasan untuk terus memperbaiki diri hingga detik terakhir.
Ramadan mengajarkan bahwa akhir yang baik (husnul khatimah) adalah tujuan dari setiap perjalanan.
Selain itu, hari terakhir ini adalah momentum pembersihan jiwa. Dengan menunaikan Zakat Fitrah, kita diingatkan bahwa kesalehan pribadi tidak akan lengkap tanpa kesalehan sosial.
Hikmahnya adalah kembali ke fitrah; kembali menjadi manusia yang peduli dan berbagi, membawa semangat kepedulian Ramadhan ke bulan-bulan berikutnya.
Saat takbir mulai berkumandang, itulah tanda bahwa perjuangan melawan hawa nafsu telah mencapai garis finis. Namun, hikmah sesungguhnya bukan berarti perjuangan itu selesai, melainkan awal baru untuk membuktikan apakah nilai-nilai kesabaran dan ketaatan yang dipupuk selama sebulan penuh sanggup kita jaga di hari-hari mendatang.
Wallahu A'lam Bis-Shawab.
30 Ramadhan 1447 H / 20 Maret 2026 M
Posting Komentar untuk "Antara Syukur dan Kehilangan"