Warisan Pendidikan Belanda: Sudah Waktunya Dibongkar Total!


Oleh : Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makassar, PGSD FIP)

Bayangkan sebuah sistem pendidikan yang lahir dari era kolonial, dirancang untuk melahirkan pegawai kantor rendahan bagi tuan-tuan Eropa. Itulah warisan pendidikan Belanda di Indonesia, yang hingga kini masih membelenggu generasi muda kita. 

Sudah lebih dari setengah abad sejak kemerdekaan, tapi fondasi sekolah kita masih bergantung pada model itu: hafalan saja (ranah C1), ujian berbasis esai ala Barat, dan kurikulum sekuler yang mengabaikan jiwa spiritual (meminimalkan pendidikan agama). Ironis sekali, negara kita yang mayoritas Muslim justru memelihara sistem yang memusuhi akar budaya dan agama kita sendiri. 

Saatnya kita rombak total! Pendidikan baru harus lahir, dengan pondasi kuat pada ajaran Islam yang lengkap dan kompleks, di samping ilmu pengetahuan umum. Aturan negara pun harus selaras dengan syariat, karena Islam bukan sekadar ritual, melainkan panduan hidup holistik yang mampu memajukan peradaban. Selama ini terbalik: ajaran islam yang kompleks dijauhkan dari sekolah. Anak muslim pun jauh dari agamanya. Padahal, sekolah adalah kunci utamanya.  Apa yang diajarkan di sekolah itu yang cenderung anak lakukan.

Akar Masalah: Warisan Kolonial yang Masih Mengikat

Pendidikan modern di Indonesia dimulai pada masa Hindia Belanda, tepatnya akhir abad ke-19. Mereka membangun sekolah seperti Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan Europeesche Lagere School (ELS), tapi tujuannya jelas: mencetak pribumi yang patuh dan terampil untuk administrasi kolonial (untuk kepentingan Belanda). 

Hafalan sejarah kerajaan Belanda, bahasa Belanda sebagai bahasa elit, dan kurikulum yang menekankan disiplin militer, itulah intinya. Sayangnya, setelah merdeka, sistem ini tak berubah drastis. Orde Lama dan Orde Baru hanya menambal sulam, tapi fondasinya tetap sama: sekuler, individualis, dan berorientasi Barat.

Lihat saja sekarang. Siswa kita hanya unggul dalam hal hafalan (C1), tapi gagal di kreativitas dan pemecahan masalah (HOTS). Data Kemendikbud 2023 menunjukkan, hanya dua puluh persen lulusan SMA siap kerja, sisanya menganggur atau jadi pengangguran terdidik. Mengapa? Karena sistem ini memisahkan ilmu duniawi dari ilmu agama. Pendidikan agama cuma jam pelajaran tambahan, dua sampai tiga jam dalam seminggu, sementara pelajaran umum memiliki jam yang sangat banyak.

Hasilnya? Generasi kita pandai pengetahuan umum, tapi kosong spiritually, rentan radikalisme dan hedonisme. Ini bukan kritik kosong. Sejarah membuktikan: peradaban Islam dulu memimpin dunia justru karena pendidikannya terintegrasi. Universitas Al-Azhar di Mesir (sejak 970 M) mengajarkan fiqih, astronomi, dan kedokteran sekaligus. Ibn Sina (Avicenna) menulis 450 buku, dari teologi hingga farmakologi. Bandingkan dengan sekarang: negara-negara Muslim seperti kita malah meniru model sekuler yang lahir dari Renaissance Eropa, yang justru anti-agama pada masanya.

Islam: Ajaran Lengkap yang Sempurna untuk Semua Aspek Hidup (beda dengan ajaran agama lain)

Islam bukan agama parsial. Al-Qur'an menyebutnya sebagai din yang syamil (lengkap), mencakup akidah, syariah, akhlak, ekonomi, politik, hingga sains. QS Al-Maidah ayat 3 menyatakan, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku." Kompleksitasnya luar biasa: dari hukum waris yang adil (Faraidh) hingga sistem perbankan syariah yang bebas riba, yang kini diadopsi dunia modern.

Bayangkan jika pendidikan kita menjadikan ini pondasi. Bukan memusuhi Islam seperti yang dilakukan banyak negara Barat: larangan hijab di Prancis, tuduhan terorisme di AS. Padahal, ajaranIslam adalah ajaran yang paling sempurna, paling indah, pembawa peradaban ke puncak kejayaan. Padahal, dunia maju saat ini berkat kontribusi ajaran Islam. Dan, dunia terpuruk di bagian lain karena menolak Islam sebagai panduan hidup.

Model Pendidikan Genius: Integrasi Islam dan Ilmu Umum

Sudah waktunya rombak total! Model baru harus holistik: 60% kurikulum untuk ilmu umum (sains, matematika, bahasa), 40% untuk pendidikan agama mendalam (tafsir, hadits, fiqih muamalah). Bukan tambahan, tapi terintegrasi satu sama lain. Misalnya, pelajaran IPA ajarkan perspektif penciptaan alam semesta dengan teori penciptaan oleh Allah (QS Al-Anbiya:30 tentang Big Bang); Ekonomi : dengan zakat sebagai solusi kemiskinan.

Aturan negara harus sejalan. Ubah UU agar syariat jadi opsi resmi (jangan hanya berhenti di Bank Syariat), terutama di wilayah yang maoritas Muslim, seperti Aceh, SulSel,  SulBar, JaBar dan yang lainnya. Pancasila bisa diinterpretasikan ulang dan holistik: Ketuhanan Yang Maha Esa selaras dengan tauhid, kemanusiaan dengan ukhuwah Islamiyah.

Aturan negara harus sejalan dengan ajaran Islam yang holistik (sempurna). Bukan ajaran Islam ikuti aturan negara! Selama ini keliru, ajaran Islam dibatasi. Akibatnya, negara mengalami kemerosotan dimana-mana: korupsi, free sex, penipuan, aliran sesat, pertikaian antar kelompok, pembunuhan, disintegrasi, dan segala macam kejahatan lainnya.

Langkah Konkret Menuju Perubahan

Pemerintah bisa mulai sekarang  dengan pilot project di 10 provinsi Muslim terpadat. Libatkan NU, Muhammadiyah, dan akademisi. Anggaran pendidikan 20% APBN sebagian dialokasikan untuk  program ini. Masyarakat? Dukung dengan waqaf untuk ciptkan pesantren digital sebagai realisasi utama.

Jangan tunda lagi. Pendidikan ala warisan Belanda sudah kadaluarsa dan waktunya ditinggalkan. Bangun pendidikan Indonesia berbasis Islam holistik, dan Indonesia pun akan jadi pemimpin dunia seperti masa keemasan Abbasiyah. Ajaran yang memajukan umat manusia ini harus kita peluk erat, bukan musuhinya. Mari segera gerak kompak demi Indonesia yang semakin jaya berdampak: dunia akhirat selamat.(*) 

Posting Komentar untuk "Warisan Pendidikan Belanda: Sudah Waktunya Dibongkar Total!"