Retorika Rindu; Mihrab Sunyi Sang Pencari

         Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Ada sebuah ruang dalam batin manusia yang tidak akan pernah bisa diisi oleh hiruk-pikuk dunia, sebuah ruang hampa yang hanya bisa dipuaskan oleh kehadiran Sang Kekasih Abadi.

 Dalam bulan Ramadhan, ruang hampa itu mulai bernapas, berdenyut, dan melahirkan apa yang kita sebut sebagai "Retorika Rindu."
Ini bukan sekedar rindu biasa. Ini adalah rindu seorang musafir yang telah lama kehilangan jalan pulang, lalu mencium aroma tanah kelahirannya di ambang fajar Ramadan. Secara puitis, retorika ini adalah "seni mencintai dalam ketiadaan"; sebuah cara hamba berkomunikasi dengan Tuhan melalui bahasa lapar yang jujur, melalui air mata yang jatuh di atas sajadah, dan melalui kesunyian yang lebih bising dari seribu kata-kata.

Dalam tulisan ini, kita tidak hanya membedah teks, melainkan membedah anatomi jiwa yang sedang meronta menuju cahaya. Kita melihat bagaimana seorang hamba mengubah rasa letihnya menjadi melodi syukur, dan bagaimana ia menyusun "prosa pengampunan" di setiap sujudnya. Ramadhan menjadi panggung di mana rindu tidak lagi menjadi rahasia, melainkan menjadi sebuah kesaksian bahwa manusia hanyalah debu yang rindu untuk kembali pada hembusan ruh-Nya yang suci.

"Retorika Rindu" adalah sebuah upaya untuk menangkap kembali percikan Tuhan di tengah gempuran materi. Ia adalah dialog tanpa suara, sebuah tarian spiritual di mana ego dibakar habis agar yang tersisa hanyalah cinta yang murni. Ini adalah catatan tentang bagaimana Ramadhan sanggup mengubah dahaga menjadi tenaga, dan mengubah kesepian menjadi kebersamaan yang paling intim dengan Yang Maha Esa.

Poin Kebermaknaan:
Metafora "Musafir": Menggambarkan posisi manusia sebagai pengelana di bumi.
Bahasa "Lapar yang Jujur": Mengangkat derajat puasa dari sekadar menahan makan menjadi bentuk kejujuran tingkat tinggi.
Paradoks "Kesunyian yang Bising": Menunjukkan bahwa dalam diamnya orang berpuasa, terdapat dialog batin yang sangat kuat.
Wallahu A'lam Bis-Shawab.

06 Ramadhan 1447 H / 24 Pebruari 2026 M

Posting Komentar untuk "Retorika Rindu; Mihrab Sunyi Sang Pencari"