Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi.
Ramadhan hadir seperti hembusan angin yang menenangkan jiwa. Sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam, manusia diajak menata ulang dirinya, menahan keinginan, menenangkan hati, dan mendekat kepada Sang Pencipta.
Lapar dan dahaga bukan sekedar ujian fisik, tetapi jembatan menuju kesadaran bahwa hidup tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan duniawi, melainkan juga tentang memelihara kebersihan hati.
Di bulan yang penuh berkah ini, waktu terasa lebih bermakna. Detik-detik sahur mengajarkan syukur atas nikmat sederhana, sementara saat berbuka menghadirkan kebahagiaan yang tulus dari hal yang sering dianggap biasa.
Ramadhan menumbuhkan kesabaran, menguatkan keikhlasan, dan menanamkan rasa empati kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Suasana kebersamaan pun terasa hangat, doa yang dipanjatkan bersama, senyum yang dibagikan, dan tangan yang ringan memberi.
Dalam hening malam-malamnya, manusia diajak merenung, memperbaiki diri, serta berharap menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Begitulah refleksi hikmah Ramadhan: "Sebuah perjalanan batin yang lembut namun mendalam, membawa cahaya ketenangan dan harapan agar kebaikan tidak berhenti ketika bulan suci berlalu, tetapi terus hidup dalam setiap langkah kehidupan".
01 Ramadhan 1447 H / 19 Pebruari 2026 M.
Posting Komentar untuk "Refleksi Hikmah Ramadhan Penuh Berkah."