Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi
Ada saatnya hati kita terasa seperti ruangan gelap yang pengap. Dinding-dindingnya kusam oleh debu kelalaian, dan sudut-sudutnya dipenuhi jaring laba-laba urusan dunia yang tak kunjung usai.
Kita berjalan meraba-raba dalam kegelapan ego, seringkali tersandung oleh kesalahan yang sama, hingga hampir lupa bagaimana rasanya melihat terang.
Lalu, Ramadhan tiba membawa sebuah pelita.
Pelita ini tidak menyilaukan, namun cahayanya mampu menembus hingga ke sela-sela batin yang paling tersembunyi.
Ia adalah cahaya kecil yang dinyalakan dari sumbu kesabaran dan minyak ketaatan. Begitu pelita ini menyala di bulan suci, perlahan-lahan kegelapan itu mundur. Kita mulai bisa melihat kembali jejak-jejak syukur yang sempat tertutup debu, dan menemukan kembali pintu maaf yang selama ini terkunci rapat oleh gengsi.
Menjaga pelita hati berarti menjaga agar nyalanya tidak padam oleh tiupan angin nafsu. Setiap ayat Al-Qur'an yang kita baca adalah tambahan cahaya, dan setiap sujud di keheningan malam adalah minyak yang membuat nyalanya kian terang. Di bawah cahayanya yang lembut, kita tidak lagi melihat ibadah sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan untuk menjaga agar jiwa kita tetap hangat dan terarah.
Ramadhan bukan sekadar tentang menahan lapar, tapi tentang menyalakan kembali lentera iman yang sempat redup. Biarkan pelita ini membakar habis kegelisahan kita, menyinari jalan pulang menuju ridha-Nya, dan memastikan bahwa saat bulan ini pergi, hati kita tetap menjadi mercusuar yang terang bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Wallahu A'lam Bis-Shawab.
09 Ramadhan 1447 H / 27 Pebruari 2026 M
Posting Komentar untuk "Pelita Hati di Bulan Suci"