Pelabuhan Jiwa yang Damai

         Oleh: Syahriadi Al-Bugisyi

Barangkali, Ramadhan adalah cara Tuhan mengatakan bahwa Dia merindukan kita untuk pulang.
Setelah sebelas bulan kita dibanting ombak ambisi, tersesat di labirin pencarian yang tak kunjung usai, dan membiarkan hati kita lebam oleh urusan-urusan dunia yang fana, kita akhirnya sampai di sebuah tepian.

Sebuah dermaga tanpa suara yang kita sebut Ramadhan. Inilah pelabuhan jiwa yang damai, tempat di mana waktu seakan berhenti sejenak hanya untuk mendengarkan detak jantung kita yang penuh sesak oleh rindu dan sesal.

Di pelabuhan ini, kita tidak perlu berpura-pura kuat. Kita boleh datang dengan layar yang sudah robek, dengan kemudi yang patah, atau dengan lambung kapal yang nyaris karam oleh beban dosa yang kita tumpuk sendiri. Tuhan tidak meminta kita datang dalam keadaan sempurna; Dia hanya meminta kita untuk bersandar.

Maka, turunkanlah segala bebanmu di atas sajadah. Biarkan setiap butir air mata yang jatuh menjadi pembersih karat di dinding hati. Di sini, dalam sunyi yang paling dalam, kita baru menyadari bahwa selama ini kita bukan sedang mencari dunia, melainkan sedang mencari jalan kembali kepada-Nya.

Ramadhan adalah tempat di mana kegelisahan ditenangkan oleh aroma zikir, dan dahaga dibasuh oleh sejuknya air wudhu. Di pelabuhan ini, jiwa-jiwa yang lelah akhirnya menemukan rumahnya. Kita merapikan kembali niat yang sempat berantakan, dan menyusun kembali harapan yang sempat patah.

Sebab kita tahu, pelabuhan ini hanya akan ada selama tiga puluh hari. Dan sebelum kita kembali dipaksa berlayar ke samudera hidup yang penuh badai, kita ingin memastikan bahwa di dermaga ini, kita telah benar-benar menemukan damai yang sejati.

08 Ramadhan 1447 H / 26 Pebruari 2026 M

Posting Komentar untuk "Pelabuhan Jiwa yang Damai"