Melalui Pendidikan Terukur, Bangun Benteng Iman Sejak Dini: Mengajarkan Pengamalan Sila Pertama Melalui Disiplin Sholat di Bangku Sekolah



Oleh : Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makassar, PGSD FIP)

Di tengah arus globalisasi yang membawa budaya instan dan individualisme, pendidikan karakter menjadi benteng terakhir bagi generasi muda Indonesia. Bayangkan anak-anak kita tumbuh tanpa tahu cara mengamalkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama Pancasila yang menjadi pondasi berbangsa. 

Urgensinya kian mendesak: survei Kemendikbudristek tahun 2025 menunjukkan  sekitar empat puluh persen remaja urban jarang beribadah rutin, rentan terhadap radikalisme buta online atau hedonisme material. Pendidikan terukur diperlukan, punya pola jelas sejak dini yang mengajarkan pengamalan sila pertama bukan lewat hafalan doang, tapi praktik nyata. 

Mulai dari TK dan SD, biasakan anak mengenal Tuhan lewat sholat, tanamkan disiplin sebagai jalan sukses, bentuk klub anak rajin ibadah, hingga SMP-SMA latih sholat berjamaah dan jadi imam. Ini bukan sekadar ritual, tapi pola hidup yang menyatukan hati, pikiran, dan tindakan. Mari kita alirkan narasi inspiratif ini seperti air sungai yang membersihkan jiwa anak bangsa.

Mengapa Sila Pertama Harus Diajarkan Sejak Dini?

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa bukan slogan kosong, melainkan panggilan untuk mengenal Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Pendidikan dini krusial karena otak anak usia 4-7 tahun (TK-SD) sedang berkembang pesat, periode golden age di mana kebiasaan terbentuk permanen. Psikolog seperti Piaget bilang, anak pada tahap preoperational paling responsif terhadap simbol-simbol spiritual seperti doa dan gerakan sholat. Tanpa pengajaran terukur, anak rentan salah kaprah: Tuhan dianggap jauh atau tak terjangkau pikirannya, sementara disiplin, kunci sukses duniawi terabaikan.

Urgensi ini terasa di era digital: selama ini anak TK  dan SD scroll TikTok lebih lama daripada mengenal Ruku' dan Sujud. Hasil riset UIN Jakarta 2024 ungkap sekitar lima puluh lima persen anak SD di kota besar tak hafal bacaan sholat dasar. Akibatnya, saat dewasa, mereka kesulitan mengamalkan sila pertama: toleransi antaragama rapuh, etos kerja lemah, kecerdasan spiritual transedental rendah. Pancasila lahir dari rahim kebhinekaan, tapi sila pertama adalah akarnya, mengajarkan bahwa semua hamba Tuhan harus taat pada Tuhan, saling menyayangi antar hamba Tuhan pun tercipta. Pendidikan terukur berarti pola bertahap: dari pengenalan sederhana hingga kepemimpinan spiritual, membentuk generasi yang taat, disiplin, dan sukses.

Mulai dari TK-SD: Sholat sebagai Pintu Masuk Disiplin dan Cinta Tuhan

Bayangkan anak TK berbaris rapi di mushola sekolah, tangan mungil mengikuti gerakan imam cilik. Ini bukan mimpi, ini pola sederhana yang bisa diterapkan segera. Di TK, pengajaran sila pertama dimulai dengan mengenal Tuhan lewat sholat sunnah Dhuha atau sebelum masuk kelas. Guru ceritakan kisah Nabi Muhammad SAW yang rajin mmempelajari keberadaan Tuhan sejak kecil, hubungkan dengan disiplin: "Tuhan Maha Disiplin, anak pintar sukses karena rajin ibadah seperti sholat tepat waktu."

Caranya enak dan menyenangkan: untuk ajak sholat, gunakan lagu anak "Sholat adalah Cahaya dan Kemenangan, Mari Kita Sholat Untuk Meraih Kemenangan" sambil gerak-gerak, buat puzzle wudhu dari kardus. Setelah sholat, diskusi singkat: "Bagaimana rasanya dekat dengan Tuhan melalui sholat? Bagaimana disiplin sholat bikin kita pintar?" Anak belajar bahwa sukses, entah juara kelas atau jadi dokter hebat dimulai dari ketaatan kepada Tuhan. 

Di SD, tingkatkan intensitas: sholat fardhu lima waktu wajib di sekolah, mulai Dhuhur dan Ashar. Bentuk Klub Anak Rajin Sholat, setiap Jumat parade, pemenang dapat stiker emas atau piknik halal atau bingkisan halal. Klub ini ajarkan nilai sila pertama: anggota saling ingatkan sholat, bagi-bagi makanan buah tangan, tanamkan "Kita sama-sama hamba Tuhan, saling menyayangi seperti saudara sendiri."

Hasilnya? Sekolah Dasar di salah satu kota besar yang menerapkan catat absensi sholat anak naik sembilan puluh persen setelah klub terbentuk klub seperti ini, disiplin belajar ikut melonjak, nilai rata-rata naik lima belas digit. Anak tak hanya hafal Al-Fatihah, tapi paham Tuhan Maha Pengasih, ajarkan kasih sayang antarmanusia. Ini pengamalan sila pertama: percaya satu Tuhan yang adil, ciptakan harmoni sosial sejak kecil.

SMP: Sholat Berjamaah, Latih Jadi Imam Muda

Naik ke SMP, pola pendidikan terukur berevolusi. Anak remaja butuh contoh nyata kepemimpinan spiritual. Biasakan sholat berjamaah Dhuhur dan Ashar di masjid sekolah, imam bergilir dari siswa terbaik. Latih mereka: "Jadi imam berarti bertanggung jawab atas sholat makmum, seperti pemimpin harus amanah." Guru dampingi dengan kajian singkat pasca-sholat: hubungkan sila pertama dengan toleransi, misal cerita Nabi Ibrahim tolak syirik.

Bentuk Klub Anak Sholeh, eksklusif untuk yang rajin sholat berjamaah minimal delapan puluh persen, Aktivitas: kompetisi tadarus, bakti sosial bagi makanan ke yatim piatu atau pejalan kaki, seminar "Disiplin Sholat Menuju Sukses Karir." Di sini, anak belajar rajin ibadah adalah investasi: data BPS 2025 tunjukkan lulusan pesantren (disiplin tinggi) unggul dua puluh lima persen dalam tes CPNS. Saling menyayangi ditekankan: klub adakan "Hari Berbagi", siswa kaya bantu teman miskin beli seragam, ingatkan "Tuhan sayang hamba yang saling tolong-menolong." Remaja SMP yang biasa begini jarang terjerumus narkoba atau tawuran, sholat berjamaah ciptakan ikatan ukhuwah perkuat persaudaraan sejak dini, cikal bakal pengamalan sila ketiga nantinya.

Contoh inspiratif: MTsN Model Insan Cendekia Gorontalo terapkan ini sejak 2023, tingkat kehadiran sholat sekitar sembilan puluh lima persen, bullying turun tujuh puluh persen. Anak tak hanya disiplin pribadi, tapi paham sila pertama sebagai pondasi gotong royong.

SMA: Puncak Kepemimpinan, Imam dan Panutan Sholeh

Di SMA, pengajaran mencapai puncak: sholat berjamaah lima waktu wajib, lengkap Jumat dengan imam siswa. Latih jadi imam senior, pelajari tajwid secara intensif lewat ekstrakurikuler atau pengayaan kurikulum, khutbah singkat tentang sila pertama: "Ketuhanan Yang Maha Esa berarti taat aturan Tuhan, disiplin untuk sukses bangsa." Klub Anak Sholeh Disayang Tuhan jadi wadah elit: anggota aktif dakwah di komunitas, proyek sosial seperti tanam pohon "Sholat Hijau," dan mentoring adik kelas humanis.

Narasi sukses: siswa SMA Negeri di sebuah kota di Jawa bentuk klub ini, hasilkan lima puluh imam muda yang pimpin sholat di masjid desa. Nilai UN mereka rata-rata delapan puluh lima ke atas, banyak diterima di PTN favorit. Disiplin sholat tanamkan mindset: "Siapa rajin ibadah, Tuhan buka jalan rezeki dan kesuksesan." Saling menyayangi antar anggota klub jadi budaya, mereka ziarah ke panti asuhan, saling doakan sukses ujian dan sukses masa depan.

Manfaat Jangka Panjang: Generasi Pancasilais Sejati

Pendidikan terukur ini ubah paradigma: sila pertama bukan teori, tapi gaya hidup. Anak TK-SMA yang biasakan sholat rajin tumbuh jadi pribadi disiplin, kunci sukses karir, seperti atlet Olimpiade yang latihan rutin. Data UNESCO 2024 bilang negara dengan pendidikan agama dini kuat (seperti Malaysia) punya indeks toleransi dua puluh persen lebih tinggi. Di Indonesia, ini dapat cegah radikalisme buta: anak paham Tuhan Maha Pengasih, bukan pembenci.

Klub-klub ini ciptakan ekosistem: saling sayang sebagai hamba Tuhan, gotong royong alami dan islami. Guru tak capek ngingetin, anak saling monitor positif. Pemerintah bisa dukung via Kurikulum Merdeka Berketuhanan: alokasi minmal 2 jam per minggu untuk praktik sila pertama secara nyata.

Penutup: Saudara-saudara pendidik dan orang tua, saatnya bertindak. Mulai hari ini atau besok, biasakan anak sholat di rumah, sekolah atau di masjid secara rutin, dorong sekolah bentuk klub. Tuhan Maha Disiplin, ajarkan itu sejak dini, panen generasi sukses dan sholeh. Pancasila hidup bukan di kertas atau di tangan pembina upacara, tapi di hati anak yang rajin ruku’ dan sujud di atas hamparan sajadah. Mari bangun benteng iman, demi Indonesia emas 2045! Demi bangsa Indonesia selamat dunia-akirat!(*) 

Posting Komentar untuk "Melalui Pendidikan Terukur, Bangun Benteng Iman Sejak Dini: Mengajarkan Pengamalan Sila Pertama Melalui Disiplin Sholat di Bangku Sekolah"