Bulan Ramadhan, Bulan Pendidikan Karakter Untuk Lahirkan Waliyullah Baru: Bagaimana Wujudkan?


Oleh: Sudarto (Dosen Universitas Negeri Makassar, Jurusan PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan) 

Puasa Ramadhan: Mengapa Ritual Tahunan Tak Ubah Hati?

Bayangkan ini: Setiap tahun, jutaan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, menahan lapar dan dahaga serta hubungan suami isteri dari fajar hingga maghrib selama satu bulan penuh. Puasa Ramadhan menjadi momen sakral, di mana masjid dipenuhi shaf panjang, sahur dan berbuka menjadi ritual keluarga yang indah, dan lantunan ayat-ayat Al Qur’an di setiap rumah kaum muslimin di seantero bumi. Namun, sayang seribu sayang, setelah lebaran usai, apa yang berubah? Banyak dari kita kembali ke pola lama: marah-marah di kemacetan kota, tipu-menipu dalam transaksi dagang, atau acuh tak acuh terhadap sanak saudara, teman dan tetangga. Puasa demi puasa, tahun demi tahun, tapi perilaku dan kualitas iman seolah terjebak dan jalan di tempat. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana namun menyakitkan: puasa sering kali hanya ritual lahiriah dan tidak disadari, tanpa usaha sungguhan untuk berubah.

Artikel ini bukan untuk menyalahkan apalagi mengkritik, melainkan membangunkan kita semua. Kita akan telusuri akar masalahnya, lalu ajak  diri kita, umat Islam yang mulia untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai bulan pendidikan karakter. Bukan sekadar puasa perut atau puasa hubungan suami isteri, tapi puasa hati yang melahirkan manusia baru: sabar, jujur, telaten, iba, empati, belas kasih, peduli, dermawan, tangguh, dan penuh karakter mulia lainnya. Hasilnya? Saat Idul Fitri tiba, kita benar-benar seperti bayi yang baru lahir, suci tanpa dosa, dengan keimanan bercahaya sehingga kita menjadi waliyullah baru. Mari kita sadar, wahai saudara-saudara seiman!

Ritual Puasa yang Terjebak di Permukaan

Puasa bukan sekadar menahan makan minum. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim: "Barangsi yang berpuasa hendaklah ia menahan diri dari makan, minum, dan syahwat, hingga lidahnya terbebas dari ghibah." Puasa adalah jihad akbar, perang melawan nafsu amarah yang paling kuat. Tapi realitanya? Banyak yang puasa fisik sempurna, tapi hati tetap liar.

Lihat saja sekitar kita. Sebelum Ramadhan, pasar ramai dengan korupsi kecil-kecilan, gosip di kantor, suap-menyuap dan kemarahan di jalan raya saat kemacetan. Saat puasa, kita bangga dengan ibadah tarawih malam-malam. Tapi esok hari lebaran, transaksi haram kembali, fitnah antar teman dan tetangga meledak, dan empati terhadap yang kekurangan kembali hilang ditelan kemewahan mudik. Survei dari Kementerian Agama RI tahun 2024 menunjukkan, indeks kepuasan masyarakat terhadap perilaku sosial pasca-Ramadhan hanya naik dua belas persen dibanding bulan-bulan sebelumnya, jauh dari harapan transformasi total.

Kenapa ini terjadi? Karena puasa hanya dijadikan "ampunan gratis" tanpa usaha nyata. Kita berpikir, "Puasa kan sudah, dosa-dosa pun sirna." Padahal, Al-Qur'an tegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 183:  bahwa tujuan puasa adalah supaya  kita bertakwa.Takwa bukan ritual, tapi perubahan hati yang nyata. Puasa tanpa introspeksi ibarat mandi di pantai tapi pasir tetap lengket di badan, kotoran nafsu tak terbilas.

Karakter Mulia yang Seharusnya Tumbuh dari Puasa

Puasa Ramadhan adalah sekolah dan laboratorium ilahi untuk membentuk karakter manusia. Bayangkan setiap hari puasa sebagai satu pelajaran. Sebelum Ramadhan, kita seperti pohon kering: egois, cepat marah, kurang peduli, dan pelit. Saat puasa, Allah beri kesempatan bertumbuh subur dengan air  iman. Kesempatan masih ada, kita harus usaha!

Mari kita breakdown karakter mulia yang harus lahir dari puasa ini: Sabar: Lapar mengajarkan menahan diri. Saat bos macam-macam di kantor, ingat: ini latihan sabar Ramadhan. Jangan sampai puasa 14 jam sia-sia gara-gara satu kata kasar. Jujur: Timbangan dagang jujur saat lapar? Itu ujian. Rasulullah bilang, "Penjual dan pembeli punya hak khiyar." Jangan curang, walau untung besar. Telaten: Shalat tarawih panjang melatih ketelitian. Terapkan di rumah: urus anak dengan sabar, bukan teriak-teriak. Iba dan Empati: Perut keroncongan bikin kita paham laparnya orang miskin. Beri makan sha'im (orang berpuasa) seperti perintah Al-Qur'an surah Al-Baqarah 184. Belas Kasih dan Peduli: Puasa hapuskan individualisme. Zakat fitrah wajib, tapi dermawan sukarela. Ini semua cahaya para waliyullah. Tangguh: walau dalam keadaan lapar seharian penuh kerjaan di kantor, sawah dan laut tetap lancar.

Karakter ini bukan mimpi. Lihat para sahabat: Abu Bakar ra. dermawan hingga bajunya compang-camping. Umar ra. adil, tak pandang bulu. Mereka lahir dari puasa hati, bukan ritual kosong.

Ramadhan sebagai Bulan Pendidikan Karakter: Dari Hari Pertama hingga Akhir

Sadar kah kita? Ramadhan adalah sekolah intensif selama 30 hari. Mulai dari puasa pertama: evaluasi diri. "Apa dosa kemarin yang harus kubuang?" Hari kedua: latihan sabar di kantor, jalan raya, dan pasar. Hari ketiga: jujur dalam obrolan. Begitu seterusnya hingga akhir puasa.

Tahun ini, jadikan Ramadhan 1447 H sebagai momen spesial. Berlatihlah khusus: Pagi Sahur: Renungan. Baca jurnal harian: "Hari ini, aku tolak amarah tiga puluh tiga kali." Siang Berpuasa: Praktik empati. Telepon orang terdekat/ orang tua, bantu teman atau tetangga, tolak dan hindari gosip. Buka dan Tarawih: Dermawan. Bagikan takjil gratis, bukan tunggu balas budi. Lailatul Qadar: Doa transformasi. "Ya Allah, jadikan aku wali-Mu yang bercahaya."

Di Indonesia, dengan tantangan urban terutama di kota besar yang penuh stres, puasa ini krusial. Bayangkan: sopir ojek sabar tak klakson sembarangan, pedagang pasar jujur tak timpang timbangan, pekerja kantor peduli rekan yang lagi stres. Atasan senyumi bawahan. Itu Ramadhan sejati!

Hasilnya tak berhenti di Idul Fitri. Lanjutkan di Syawall dan seterusnya. Puasa sunnah enam hari Syawal lebih perkuat fondasi. Saat Idul Fitri, kita bukan lagi manusia biasa. Kita bagaikan bayi yang baru lahir: tanpa dosa, suci, polos, penuh cahaya dan takwa. Keimanan bagai imannya waliyullah: tenang, penyabar, penyayang, pemaaf, dermawan dan bermanfaat bagi umat. Al-Qur'an surah Al-A'la ayat 14 bilang: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri." Itulah kemenangan hakiki!

Seruan Bangun: Raih Kemenangan Sejati, Wahai Umat Islam!

Wahai saudara Muslimin dan Muslimat! Sudah cukup puasa ritual semata tanpa makna yang hakiki. Tahun ini, sadarlah! Jadikan Ramadhan ini sebagai bulan pendidikan karakter dari awal hingga akhir. Berlatih sungguh-sungguh, evaluasi setiap hari. Saat Idul Fitri, mari kita bertemu sebagai manusia baru: sabar menghadapi hidup, jujur dalam urusan, dermawan tanpa pamrih.

Bayangkan dampaknya: keluarga harmonis, masyarakat adil, bangsa bercahaya. Indonesia bisa jadi teladan dunia Islam. Mari raih kemenangan, fathu mubin, seperti janji Allah. Tak ada kata terlambat. Mulai sekarang, dari membaca artikel ini!

Posting Komentar untuk "Bulan Ramadhan, Bulan Pendidikan Karakter Untuk Lahirkan Waliyullah Baru: Bagaimana Wujudkan?"