Oleh: Sudarto (Dosen PGSD FIP Universitas Negeri Makassar)
Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa orang tetangga tiba-tiba kaya raya sementara Anda bergulat bayar cicilan? Atau kenapa teman sekolah yang dulu biasa-biasa saja kini jadi pengusaha sukses? "Nasib," kata sebagian orang. "Rezeki sudah ditentukan Allah," balas yang lain. Tapi bagaimana mengukur nasib dan rezeki manusia itu? Bisa kah kita tahu segitu saja jatah rezeki kita? Atau nasib kita sudah terpatri sejak di kandungan? Apakah kita ditakdirkan kaya atau miskin? Dan perjalanan hidup ke depan—apakah sudah diatur Tuhan, atau kita yang rancang sendiri? Jumlah uang jatah hidup apakah sudah ditentukan sejak di kandungan? Apakah seluruh yang akan kita alami di dunia sudah tersusun rapi, tinggal menjalani?
Pertanyaan ini bukan baru. Dari filsuf Yunani kuno hingga ulama kontemporer, manusia selalu bergulat dengan misteri takdir. Di Indonesia, budaya Jawa punya konsep "pecah belah" nasib, sementara Islam bicara qadha dan qadar Allah. Tapi di era digital ini, banyak aplikasi bisa prediksi masa depan dan psikologi populer, jawabannya makin rumit jadinya. Mari kita bedah: nasib itu apa, bagaimana "mengukurnya", dan siapa pemegang kendali hidup kita.
Takdir Sudah Terukir: Mitos atau Rahasia Ilahi?
Bagi umat Islam, nasib sudah ditentukan sebelum lahir. Al-Qur'an surah Al-Hadid ayat 22 bilang, "Tidak ada musibah yang menimpa di bumi atau pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya." Jadi, rezeki, umur, jodoh—semua sudah ada catatannya di sisi Allah sejak di kandungan. Pertanyaanya: seperti apa nasib kita yang sudah ditentukan itu? Seorang bayi lahir dari keluarga miskin, apakah nasibnya sudah "dipastkian" miskin? Atau anak sultan pasti akan ditakdirkan kaya raya?
Cara "mengukur" nasib ala agama sering lewat tanda-tanda. Sementara, primbon Jawa pakai weton kelahiran untuk ramal rezeki: lahir Rajab Wetan katanya nasib berlimpah. Di Barat, astrologi zodiak bilang Scorpio pebisnis ulung, Pisces seniman miskin. Tapi bukti ilmiah? Nol besar. Studi Harvard Grant Study (1938-2023) ikuti 268 pria selama 85 tahun, temukan nasib itu tak statis: 70% kekayaan datang dari kebiasaan, bukan kelahiran.
Lalu, bagaimana tahu nasib seseorang kaya atau miskin? Banyak yang klaim "lihat pola orang tua". Lahir dari orang kaya, peluang 40% lebih tinggi jadi kaya (data World Bank 2025). Tapi itu bukan takdir—itu privilege awal. Kisah Oprah Winfrey, lahir miskin di Mississippi, kini miliarder, buktikan nasib bisa "dibengkokkan".
Jadi, perjalanan hidup bisa dirancang, sementara nasib kita seperti apa yang sudah ditentukan itu kita tidak tahu karena kita tidak diberitahu, itu rahasia Ilahi. Sehingga, manusia tidak perlu cari tahu nasibnya seperti apa. Yang perlu dilakukan manusia adalah merancang kehidupan seperti bagaimana kehidupan itu mau dijalaninya.
Rezeki Segitu Saja? Ukuran dari Mana?
Rezeki sering diukur dengan uang: gaji bulanan, pendapatan per tahun, tabungan, aset. "Nasib gue segini doang," keluh pekerja kantor yang stuck di gaji Rp10 juta/bulan. Tapi Islam bilang rezeki luas: kesehatan, kelonggaran waktu, keluarga, ilmu, keamanan, teman baik, tetangga baik ini semua rezeki. Hadits Nabi: "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang." Jadi, ukur rezeki bukan cuma isi dompet, tapi juga kebahagiaan.
Bagaimana tahu "segitu saja"? atau segini saja? Ini rahasia Ilahi. Tidak ada yang tahu persis jumlah, jenis rezeki dan nasib yang akan dialaminya. Hikmahnya: biar manusia tetap rajin berusaha dan biar manusia sadar bahwa manusia punya keterbatasan, menghindarkan manusia dari kesombongan. Bagaimana jenis, jumlah, kapan datangnya, itu semua manusia tidak perlu pusing. Manusia tinggal berusaha semaksimal mungkin, dan tunggu hasilnya. Hasil yang didapatkan itulah nasibnya saat itu. Untuk besok? Ya, kita tidak tahu! Untuk besok, kita berusaha lagi semaksimal mungkin dan lihat hasilnya!
Perjalanan Hidup: Sudah Ditetapkan atau Kita Rancang?
Ini inti debat: free will vs determinism. Nasib sudah ditulis, tapi manusia tidak tahu yang sudah tertulis itu seperti apa (dan tidak bakalan tahu), karena itu manusia harus ikhtiar dan hasilnya nanti akan sesuai yang diikhtiarkan atau diusahakan. Al-Qur'an surah An-Najm: "Manusia hanya mendapat apa yang diusahakannya." Seperti GPS: tujuan akhir ditetapkan, tapi rute pilih sendiri—bisa lewat jalur macet atau lewat tol bayar bebas laju.
Bagaimana tahu perjalanan ke depan? Untuk perjalanan ke depan kita yang merancangnya, secara individu dan kelompok. Apa yang kita inginkan ke depan tentu harus sejalan dengan keinginan kelompok kita. Ini perlunya berjamaah yang saling paham, bukan hanya kumpul lalu buyar tanpa makna. Nasib suatu kaum tidak akan berubah kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya! (Ar-Ra’d ; 11) Ini menunjukkan perlunya kerja kelompok, kerja secara kaum, bukan hanya secara individu melulu yang berujung saling menghalangi.
Siapa Pemilik Kendali: Allah, Nasib, atau Diri Sendiri?
Jawaban para bijak: campuran. Nasib seperti bibit pohon—ditentukan genetik (atau takdir). Tapi pertumbuhannya? Air, pupuk, sinar matahari—usaha manusia. Filsuf Aristoteles bilang, "Kita ditakdirkan jadi apa sebagaimana yang kita lakukan berulang ulang." Jadi, usaha kita pun bagian dari takdir! Di Islam, ikhtiar dan tawakal adalah kunci rezeki optimal.
Menuju Hidup yang Lebih Baik: Rancang Nasibmu Sendiri
Mengukur nasib bukan ramal masa depan, tapi pahami posisi sekarang untuk ubah arah. Rezeki bukan segitu saja—ia berkembang dengan usaha. Nasib sudah ada, tapi kita tidak tahu persis, karena itu jalan hidup kita pilih. Kalau kita pilih jalan yang baik maka kemungkinan besar nasib kita baik, begitu pula sebaliknya. Allah beri potensi, kita yang kembangkan. Allah beri kita potensi untk baik, jika potensi ini kita kembangkan maka nasib kita akan baik. Allah juga beri kita potensi untuk jelek. Jika potensi jelek kita kembangkan maka nasib kita akan jelek.
Karena itu, jangan pasrah: "nasib gue gini aja". Mulai hari ini: belajar skill baru, bangun network, sedekah rutin. Perjalanan hidup ke depan? Bukan misteri tak terbaca, tapi kanvas kosong siap dirancang, diukir dan dilukis. Nasib manusia dirancang sendiri dan rancangannya tidak akan jauh dari takdirnya!
Nasib vs usaha—kita pilih mana? Jawabannya: keduanya. Demi rezeki melimpah dan hidup bermakna. Nasib atau takdir yang kita alami tergantung usaha kita dan usaha tidak akan jauh dari takdir yang sudah ditentukan. Karena itu, jangan lagi mempertanyakan takdir kita seperti apa, tetapi rancang hidup kita sebaik mungkin dan nasib pun akan sebanding dengan usaha.
Posting Komentar untuk "Nasib vs Usaha: Bisakah Nebak Rezeki Kita atau Kita yang Rancang?"