Menjaga Asa dari Bangku Sederhana: 51 Tahun Perjalanan STIS Menuju ITBA Al Gazali Barru


          Catatan Syamsu Marlin*

Ada masa ketika kampus ini berdiri dengan segala keterbatasannya. Ruang kelasnya sederhana, fasilitasnya jauh dari kata lengkap, dan para dosen mengajar dengan penuh pengabdian. 

Dari kesederhanaan itulah harapan tumbuh. Tidak banyak yang membayangkan bahwa sebuah kampus di Kabupaten Barru ini kelak akan menjelma menjadi sebuah institut. Namun waktu, ketekunan, dan keyakinan menjawab semua keraguan itu. 

Pada 31 Januari 2026, Institut Teknologi Bisnis dan Administrasi Al Gazali (ITBA) Barru genap berusia 51 tahun.

Perjalanan panjang Al Gazali Barru bermula dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial (STIS). Pada fase awal itulah fondasi pendidikan, nilai, dan pengabdian ditanamkan.

STIS hadir sebagai oase pendidikan tinggi bagi masyarakat Barru dan sekitarnya, sebuah ruang harapan bagi generasi yang ingin melanjutkan studi tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana, lahir keyakinan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan perubahan hidup.

Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya kebutuhan daerah, STIS kemudian bertransformasi menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA). Perubahan nama dan orientasi ini menandai kedewasaan institusi dalam menjawab tantangan pembangunan daerah, khususnya dalam menyiapkan aparatur dan tenaga profesional yang memahami tata kelola dan pelayanan publik.

Saya pribadi mengenal dan menjadi bagian dari Al Gazali Barru justru pada fase STIA inilah. Sebagai mahasiswa STIA Al Gazali Barru, saya menyaksikan langsung bagaimana kampus ini membentuk bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga sikap dan cara pandang. Di bangku STIA, kami diajarkan bahwa administrasi bukan sekadar urusan prosedur, melainkan soal tanggung jawab, etika, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.

Sebagai STIA, Al Gazali Barru melahirkan banyak lulusan yang kemudian mengabdikan diri di berbagai bidang. Banyak di antara alumni yang menjadi aparatur sipil negara, pemimpin lokal, tokoh masyarakat, hingga penggerak pembangunan di wilayahnya masing-masing. Kampus ini tumbuh menjadi bagian dari denyut kehidupan Barru, hadir dalam proses pembangunan, meski sering kali tanpa sorotan.

Ketika dunia bergerak semakin cepat oleh perkembangan teknologi dan dinamika ekonomi global, Al Gazali Barru kembali membaca zaman. Transformasi menjadi Institut Teknologi Bisnis dan Administrasi Al Gazali (ITBA) Barru adalah langkah besar yang mencerminkan keberanian untuk berubah dan kesiapan menatap masa depan. Sebuah lompatan institusional yang tetap berpijak pada nilai-nilai awal: pengabdian, akses pendidikan, dan keberpihakan pada daerah.

Sebagai ITBA, cakrawala keilmuan diperluas. Teknologi bisnis dan administrasi   menjadi fokus pengembangan, untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing. Namun yang terasa penting, semangat awal tetap terjaga, bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari konteks sosial dan kebutuhan masyarakat tempat kampus ini bertumbuh.

Kini, di usia 51 tahun, ITBA Al Gazali Barru bukan hanya sebuah institusi pendidikan. Ia adalah kumpulan cerita dan kenangan. Tentang dosen-dosen yang setia mengabdi puluhan tahun, mahasiswa yang datang dengan mimpi dan harapan baru, serta alumni yang tersebar di berbagai profesi membawa nilai-nilai almamater dalam pengabdian mereka masing-masing.

Dies Natalis ke-51 ini bukan sekadar perayaan. Ia adalah ruang refleksi. Tentang perjalanan panjang yang ditempuh dengan kesabaran, tentang keberanian untuk berubah mengikuti zaman, dan tentang komitmen yang tidak pernah surut terhadap dunia pendidikan.

Tonggak penting perjalanan ITBA Al Gazali Barru juga ditandai dengan dibukanya Program Magister (S2) Administrasi Publik. Kehadiran program ini terasa sebagai penegasan arah institusi menuju center of excellence dalam pengembangan tata kelola dan kepemimpinan publik berbasis kebutuhan daerah.

Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas analitis, kepemimpinan strategis, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan para praktisi kebijakan. Orientasi world-class yang dibangun tidak dimaknai sebagai meniru kampus besar, melainkan sebagai upaya menghadirkan mutu pendidikan yang terstandar secara global namun tetap membumi dan relevan secara lokal.

Sebagai alumni yang tumbuh bersama STIA Al Gazali Barru, saya percaya kampus ini akan terus bertumbuh sebagaimana perjalanan panjangnya selama 51 tahun terakhir. Dari ruang kelas sederhana hingga menjadi institut, ITBA Al Gazali Barru telah membuktikan bahwa pendidikan yang dijalankan dengan niat baik dan kesungguhan mampu menjaga asa dan menumbuhkan masa depan. Salamakki tapada salama. 

* Penulis adalah Alumni STIA Al Gazali Barru Tahun 1992.

Posting Komentar untuk "Menjaga Asa dari Bangku Sederhana: 51 Tahun Perjalanan STIS Menuju ITBA Al Gazali Barru"